Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington tidak menutup kemungkinan melancarkan serangan militer kedua ke Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, jika sisa pemerintahan di Caracas tidak bekerja sama dengan upaya AS untuk “membereskan” negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1/2026), dan membuka peluang eskalasi intervensi militer AS di Amerika Latin.
Maduro saat ini ditahan di New York dan dijadwalkan menjalani sidang pada Senin atas tuduhan perdagangan narkoba.
Penangkapannya oleh AS memicu ketidakpastian besar terkait masa depan negara kaya minyak tersebut.
Baca Juga: Dolar Taiwan & Baht Thailand Menguat Tipis Senin (5/1), Mayoritas Mata Uang Asia Lesu
Trump mengatakan pemerintahannya akan bekerja sama dengan pejabat yang masih tersisa dari rezim Maduro untuk memberantas perdagangan narkoba dan merombak industri minyak, alih-alih mendorong pemilu cepat untuk membentuk pemerintahan baru.
Namun, ia juga memperluas ancaman ke negara lain. Trump menyebut Kolombia dan Meksiko berpotensi menghadapi tindakan militer jika tidak menekan arus narkoba ke Amerika Serikat.
“Operation Colombia sounds good to me,” ujar Trump.
Ia juga menyebut Kuba, sekutu dekat Venezuela, tampak “siap jatuh dengan sendirinya” tanpa intervensi militer AS.
Baca Juga: Setelah Venezuela, Trump Sebut Operasi Militer ke Kolombia Terdengar Bagus bagi AS
Penolakan Caracas
Pejabat tinggi Venezuela mengecam penahanan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai tindakan penculikan. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menegaskan Maduro tetap presiden yang sah.
“Di sini hanya ada satu presiden, Nicolas Maduro Moros,” kata Cabello dalam rekaman audio yang dirilis partai berkuasa PSUV.
Menteri Pertahanan Jenderal Vladimir Padrino mengatakan serangan AS menewaskan tentara, warga sipil, dan sebagian besar pengawal presiden.
Kuba juga menyebut 32 warganya tewas dalam operasi tersebut.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang juga menjabat Menteri Perminyakan, kini mengambil alih sebagai pemimpin sementara dengan dukungan Mahkamah Agung Venezuela.
Ia membantah klaim Trump bahwa dirinya bersedia bekerja sama dengan AS.
Trump bahkan memperingatkan Rodriguez bisa menghadapi “harga yang lebih mahal” jika tidak “melakukan hal yang benar,” menurut wawancara Trump dengan The Atlantic.
Baca Juga: Emas Meroket Senin (5/1): Geopolitik Venezuela Dongkrak Harga Safe Haven
Minyak dan Migrasi Jadi Faktor
Meski AS menyebut penangkapan Maduro sebagai operasi penegakan hukum atas dakwaan tahun 2020, Trump secara terbuka menyatakan bahwa akses penuh perusahaan minyak AS ke cadangan Venezuela menjadi kepentingan utama.
Ia juga menuding Maduro mengirim jutaan migran, termasuk narapidana dan pelaku kejahatan, ke AS.
Pemerintah Venezuela membantah tudingan tersebut dan menilai AS hanya mengincar sumber daya alam negara itu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pemimpin Venezuela berikutnya harus menjaga industri minyak dari pengaruh musuh AS dan menghentikan perdagangan narkoba. Ia juga menyebut blokade tanker masih berlangsung.
Baca Juga: China Kecam Penangkapan Maduro, Tolak Negara Bertindak sebagai Hakim Dunia
Reaksi dan Kekhawatiran Global
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan untuk membahas operasi tersebut. Rusia dan China, dua sekutu utama Venezuela, telah mengecam tindakan AS dan mempertanyakan legalitas penangkapan kepala negara asing.
Di dalam negeri AS, Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat Chuck Schumer memperingatkan risiko perang tanpa batas waktu, yang justru bertentangan dengan janji kampanye Trump.
Di jalanan Venezuela, situasi relatif tenang namun diliputi kecemasan. Sejumlah warga mulai menimbun kebutuhan pokok, sementara aktivitas ekonomi terbatas masih berjalan.













