kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Negara Barat Desak Ghana Batalkan Kenaikan Royalti Emas


Kamis, 05 Maret 2026 / 19:48 WIB
Negara Barat Desak Ghana Batalkan Kenaikan Royalti Emas


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - DAKAR. Amerika Serikat, China, dan sejumlah negara Barat dilaporkan melakukan tekanan diplomatik yang tidak biasa terhadap pemerintah Ghana agar menghentikan rencana kenaikan royalti emas, yang dinilai dapat merugikan perusahaan tambang besar dunia.

Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut serta sebuah surat dari asosiasi industri tambang, Ghana produsen emas terbesar di Afrika berencana mengganti royalti tetap 5% dengan skema bertingkat antara 5% hingga 12% yang dikaitkan dengan harga emas global. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Ghana untuk meningkatkan pendapatan negara dari lonjakan harga emas yang terus mencetak rekor tertinggi.

Namun perusahaan tambang menilai batas atas royalti 12% dalam skema baru itu dapat membuat Ghana menjadi salah satu wilayah pertambangan paling mahal di Afrika, sehingga berpotensi menekan keuntungan perusahaan.

Baca Juga: Ekspor Perhiasan dan Impor Berlian India Terganggu Akibat Eskalasi Konflik Iran

Rencana kebijakan tersebut bahkan dapat mulai berlaku secepatnya pekan depan jika tidak diubah atau ditarik kembali.

Selain tekanan dari Amerika Serikat dan China, misi diplomatik dari Inggris, Kanada, Australia, dan Afrika Selatanjuga ikut menyampaikan keberatan kepada pemerintah Ghana. Tiga eksekutif senior industri tambang menyebut keterlibatan diplomatik ini sebagai respon tingkat tinggi yang jarang terjadi terhadap kebijakan fiskal sebuah negara.

“Ini pertama kalinya saya melihat komunitas diplomatik terlibat dalam skala seperti ini,” kata salah satu sumber industri.

Perwakilan dari sejumlah kedutaan diketahui telah bertemu dengan Menteri Pertanahan dan Sumber Daya Alam Ghana pada awal bulan ini. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyerahkan dokumen bersama yang berisi kekhawatiran bahwa kebijakan royalti baru dapat membuat lingkungan operasional tambang menjadi lebih sulit.

Kelompok diplomat tersebut juga berupaya menjadwalkan pertemuan lanjutan dengan Menteri Keuangan Ghana.

Para pemimpin perusahaan tambang global juga menyampaikan keberatan secara langsung kepada pemerintah Ghana. CEO perusahaan besar seperti Newmont, Gold Fields, AngloGold Ashanti, dan Perseus disebut telah mengirimkan surat atau menyampaikan kekhawatiran mereka pada Desember dan Januari lalu.

Perusahaan tambang milik China, termasuk Zijin Mining, Chifeng Gold, dan Shandong Gold, bahkan telah mengajukan protes resmi.

Dalam sebuah surat dari Asosiasi Pertambangan China–Ghana yang juga ditembuskan kepada duta besar China di Accra, disebutkan bahwa kebijakan tersebut dapat mengancam kelangsungan operasi beberapa tambang penting, termasuk Akyem (Zijin), Wassa (Chifeng), dan Cardinal (Shandong).

Baca Juga: Uni Eropa Sepakati Target Pangkas Emisi 90% pada 2040

“Isu royalti ini menyatukan perusahaan-perusahaan tambang seperti belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” kata seorang sumber industri.

Sebelumnya, pemerintah Ghana dilaporkan telah setuju mengurangi pungutan lain yang sudah ada untuk mempermudah penerapan reformasi royalti tersebut. Namun perusahaan tambang menilai skema baru tetap terlalu agresif dan telah mengajukan usulan tarif yang lebih rendah sebagai alternatif.

Menariknya, perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Ghana justru mencatat kinerja keuangan kuat pada 2025.

Newmont misalnya meraih laba lebih dari US$ 7 miliar dolar AS. Gold Fields mencatat lebih dari dua kali lipat keuntungan. AngloGold Ashanti bahkan melipatgandakan laba hingga tiga kali. Sementara Perseus mencatat laba 421,7 juta dolar AS, naik 16% dibanding tahun sebelumnya.

Pemerintah Ghana sendiri hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait tekanan diplomatik tersebut maupun keberatan dari perusahaan tambang.

Baca Juga: Korban Tewas Akibat Perang AS-Israel vs Iran Capai 1.348 Orang




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×