Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Bursa saham Korea Selatan tertekan pada perdagangan Rabu (19/8/2026), dengan indeks KOSPI anjlok 4,65% akibat aksi jual saham teknologi dan semikonduktor.
Kenaikan imbal hasil obligasi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen investor.
Mengutip Reuters, KOSPI turun 319,75 poin atau 4,65% menjadi 6.550,08 pada pukul 01.42 GMT.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Mendekati 3%, Kekhawatiran Inflasi dan Fiskal Meningkat
Sebanyak 742 saham tercatat melemah, sementara hanya 145 saham menguat dari total 905 saham yang diperdagangkan.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham perusahaan teknologi dan semikonduktor. Samsung Electronics anjlok 6,33%, sedangkan SK Hynix merosot 7,34%.
Aksi jual saham chip terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan sejumlah negara Asia meningkat.
Kenaikan yield obligasi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko seperti saham teknologi.
Selain sektor semikonduktor, sejumlah saham berkapitalisasi besar juga ikut terkoreksi. Hyundai Motor turun 4,37%, Kia Corp melemah 3,57%, sementara POSCO Holdings terkoreksi 2,16%. Saham Samsung BioLogics turun 0,65%.
Di sisi lain, saham LG Energy Solution justru menguat 1%.
Baca Juga: Upah Australia Naik 0,8% di Kuartal II 2026, Pertumbuhan Swasta Melambat
Investor Asing Lepas Saham Korea
Tekanan terhadap pasar Korea Selatan juga terlihat dari aksi investor asing. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih saham senilai 1.466,7 miliar won.
Sentimen pasar semakin terbebani oleh kenaikan imbal hasil obligasi global. Yield surat utang jangka panjang Amerika Serikat, Jerman dan Jepang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah dan risiko geopolitik.
Kondisi tersebut meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan rumah tangga serta mempersempit ruang bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Risiko geopolitik juga menjadi perhatian investor. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik mengalami kebuntuan.
Seorang pejabat Iran sebelumnya mengatakan negaranya akan beralih ke sikap militer yang "sepenuhnya ofensif", sementara Washington menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Baca Juga: Saham Robot Humanoid China Unitree Melejit 629% Saat Debut di Bursa
Latihan Militer AS-Korea Selatan Turut Jadi Sorotan
Pasar Korea Selatan juga mencermati perkembangan latihan militer bersama Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Media Korea Selatan melaporkan latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) diperkirakan dipangkas sekitar separuh setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan signifikan terhadap partisipasi Amerika Serikat.
Ketidakpastian geopolitik tersebut menjadi tambahan tekanan bagi pasar yang sebelumnya sudah menghadapi kenaikan yield obligasi dan aksi jual saham teknologi.
Meski terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu, KOSPI masih mencatat kenaikan 55,43% sepanjang tahun ini.
Sementara itu, mata uang won Korea Selatan menguat 2,2% terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.
Di pasar obligasi, yield obligasi pemerintah Korea Selatan bertenor tiga tahun naik 1,4 basis poin menjadi 3,855%. Yield obligasi acuan bertenor 10 tahun juga naik 0,7 basis poin menjadi 4,382%.
Baca Juga: China Makin Dekat dengan SpaceX, LandSpace Sukses Kembangkan Roket Reusable













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
