kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.866   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.413   -36,59   -0,57%
  • KOMPAS100 828   -2,34   -0,28%
  • LQ45 630   -0,75   -0,12%
  • ISSI 225   -2,13   -0,94%
  • IDX30 352   -0,07   -0,02%
  • IDXHIDIV20 430   0,86   0,20%
  • IDX80 95   -0,28   -0,29%
  • IDXV30 120   0,06   0,05%
  • IDXQ30 112   -0,05   -0,04%

China Diprediksi Tahan Suku Bunga Kredit, Ekonomi Mulai Kehilangan Momentum


Rabu, 19 Agustus 2026 / 14:09 WIB
China Diprediksi Tahan Suku Bunga Kredit, Ekonomi Mulai Kehilangan Momentum
ILUSTRASI. Bank Sentral China (PBOC) (REUTERS/Jason Lee)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - China diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan kredit pada Agustus 2026, meski sejumlah indikator ekonomi menunjukkan pelemahan permintaan domestik.

Berdasarkan survei Reuters terhadap 25 pelaku pasar, seluruh responden memperkirakan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun tetap di 3%, sedangkan LPR tenor lima tahun bertahan di 3,50% pada penetapan Kamis (20/8/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Terus Menguat untuk 4 Hari Berturut-Turut, Ini Alasannya

Jika terealisasi, tingkat suku bunga tersebut akan bertahan selama 15 bulan berturut-turut.

LPR merupakan suku bunga acuan kredit yang umumnya dikenakan bank kepada nasabah dengan kualitas kredit terbaik.

Besaran LPR dihitung setiap bulan berdasarkan proposal suku bunga dari 20 bank komersial yang ditunjuk oleh Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC).

Fokus China Bergeser ke Kebijakan Fiskal

Keputusan untuk mempertahankan LPR datang di tengah serangkaian data ekonomi China yang menunjukkan pelemahan pada Juli.

Aktivitas industri, penjualan ritel hingga penyaluran kredit menunjukkan permintaan domestik yang masih lemah.

Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Yield Tinggi dan Harga Minyak Gerus Selera Risiko

Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Namun, pelaku pasar menilai China kemungkinan lebih mengandalkan kebijakan fiskal ketimbang pemangkasan suku bunga dalam jangka pendek.

"Fokus seharusnya tetap pada kebijakan fiskal dengan sedikit tanda bahwa PBOC akan memangkas LPR bulan ini," kata analis Citi dalam catatannya.

Pada pertemuan Politbiro Juli, para pemimpin China berkomitmen menopang ekonomi yang melambat dengan mempercepat realisasi belanja fiskal untuk proyek infrastruktur yang telah masuk anggaran hingga akhir tahun.

Langkah tersebut dipilih ketimbang meluncurkan paket stimulus besar baru.

Sementara itu, PBOC pada pekan lalu menyatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang cukup longgar serta menyiapkan langkah-langkah yang efektif sesuai kebutuhan.

Namun, bank sentral belum memberikan sinyal kuat mengenai pemangkasan suku bunga kebijakan maupun rasio giro wajib minimum (GWM).

Baca Juga: Harga Emas Tetap Stabil, Pasar Fokus pada Risalah Rapat The Fed

Margin Bank Masih Tertekan

Dari sektor perbankan, ruang pelonggaran moneter juga menghadapi tantangan karena margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) masih berada di dekat rekor terendah.

NIM perbankan China memang naik tipis menjadi 1,41% pada kuartal II 2026, dari 1,40% pada akhir Maret. Kenaikan 0,01 poin persentase tersebut menjadi peningkatan kuartalan pertama sejak 2022.

Namun, level tersebut masih menunjukkan tekanan terhadap profitabilitas bank.

Dengan kondisi tersebut, pemangkasan LPR dinilai berpotensi semakin menekan margin perbankan.

Karena itu, pemerintah China tampaknya lebih memilih mempercepat belanja fiskal untuk menopang aktivitas ekonomi tanpa memberikan tekanan tambahan terhadap sektor perbankan.

Baca Juga: YouTube Ubah Cara Hitung View Mulai 24 Agustus 2026, Angka Bisa Melonjak




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×