Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026), memperpanjang penurunan tajam sehari sebelumnya seiring pelaku pasar memantau perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 82 sen atau 0,8% menjadi US$ 104,20 per barel pada pukul 09.49 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 60 sen atau 0,6% ke level US$ 97,66 per barel.
Baca Juga: Ancaman Pelemahan Rupee, Ini Risiko Besar Meski RBI Beraksi Agresif!
Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya anjlok sekitar 5,6% pada Rabu (20/5) ke level terendah dalam lebih dari sepekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran telah memasuki tahap akhir.
Kantor berita ISNA Iran melaporkan Teheran sedang merespons proposal yang dikirim Amerika Serikat.
Laporan itu juga menyebut kunjungan kepala militer Pakistan ke Teheran bertujuan membantu memperkecil perbedaan dan membuka jalan menuju pengumuman resmi kesepahaman kedua negara.
Baca Juga: Aliansi Pax Silica Meluas, AS-Filipina Percepat Kesepakatan Ekonomi Teknologi
Trump menyatakan dirinya masih dapat menunggu beberapa hari untuk mendapatkan “jawaban yang tepat” dari Iran, tetapi tetap membuka kemungkinan melanjutkan serangan militer apabila kesepakatan gagal tercapai.
Analis ING mengatakan, pasar pernah beberapa kali menghadapi situasi serupa yang pada akhirnya berujung kekecewaan.
Meski demikian, ING tetap memperkirakan rata-rata harga Brent berada di sekitar US$ 104 per barel pada kuartal ini.
Iran sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan dan memperkuat kontrol atas Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global yang kini sebagian besar masih tertutup.
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menyalurkan sekitar 20% konsumsi minyak dan gas alam cair global.
Baca Juga: PMI Prancis Anjlok, Risiko Resesi Zona Euro Meningkat
Analis minyak dan gas global senior HSBC Kim Fustier mengatakan, harga minyak sejauh ini masih relatif terkendali meski gangguan di Timur Tengah cukup besar.
Menurut dia, penurunan pembelian China, lonjakan ekspor minyak dari kawasan Atlantik terutama AS, serta pelepasan cadangan minyak komersial dan strategis membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi kawasan euro juga memberi tekanan tambahan terhadap pasar energi.
Survei terbaru menunjukkan aktivitas ekonomi zona euro pada Mei mengalami kontraksi terdalam dalam lebih dari dua setengah tahun akibat lonjakan biaya hidup yang dipicu perang, sehingga menekan permintaan jasa dan mendorong perusahaan mempercepat pemutusan hubungan kerja.
Baca Juga: Vinfast Jual Pabrik Utama dan Mengalihkan Utang US$ 7 Miliar, Jadi Sorotan Investor
Sementara itu, Iran pada Rabu mengumumkan pembentukan otoritas baru bernama Persian Gulf Strait Authority yang akan mengelola “zona maritim terkendali” di Selat Hormuz.
Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang memicu perang sejak 28 Februari lalu.
Meski sebagian besar pertempuran mereda setelah gencatan senjata April, Iran masih membatasi lalu lintas di Hormuz, sementara AS melakukan blokade di pesisir Iran.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah memaksa banyak negara menggunakan cadangan minyak komersial dan strategis mereka secara agresif.
Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan, AS menarik hampir 10 juta barel minyak dari cadangan strategis pekan lalu, menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah.
Baca Juga: Pakistan Dorong Perundingan Damai AS–Iran, Trump Buka Opsi Tekanan Militer
Persediaan minyak mentah AS juga turun lebih besar dari perkiraan pasar.
Kepala peneliti energi dan kimia China Futures, Mingyu Gao, memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, persediaan minyak mentah dan produk olahan global dapat turun ke level terendah musiman dalam lima tahun terakhir pada akhir Mei hingga Juni mendatang.













