Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HANOI. Selama satu dekade terakhir, produsen mobil listrik Vietnam, VinFast Auto, telah membakar miliaran dolar dalam ekspansi agresifnya. Kini, rencana untuk menjual dua pabrik utamanya dan mengalihkan utang senilai US$ 7 miliar memunculkan kekhawatiran terkait tata kelola di konglomerat Vingroup milik miliarder Pham Nhat Vuong.
Vuong, yang memulai bisnisnya dengan menjual mi instan di Ukraina pada 1990-an, telah membangun Vingroup menjadi perusahaan terbesar di Vietnam, dengan kepemilikan hotel, taman hiburan, dan VinFast yang terdaftar di Nasdaq. Vuong juga dikenal memiliki transaksi intragroup yang kompleks, termasuk VinFast yang banyak bergantung pada perusahaan terkait Vingroup untuk penjualan dan pembiayaan.
Dalam kesepakatan multi-pihak yang diumumkan pekan lalu, VinFast akan menjual unit manufaktur Vietnam seharga 13,3 triliun dong (sekitar US$ 506 juta) kepada sekelompok investor yang juga akan mengambil alih utang sekitar US$ 6,9 miliar. Dalam dokumen regulator, perusahaan menyebut langkah ini memungkinkan VinFast mengadopsi model asset-light, fokus pada penelitian dan pengembangan produk daripada produksi.
Baca Juga: Pakistan Dorong Perundingan Damai AS–Iran, Trump Buka Opsi Tekanan Militer
Dengan unit manufaktur keluar dari neraca, VinFast menjadi hampir bebas utang, menurut pernyataan Vingroup. Biaya manufaktur merupakan penyumbang utama kerugian VinFast sebesar US$ 3,9 miliar tahun lalu, dan perusahaan belum meraih keuntungan sejak berdiri pada 2017.
Namun, kesepakatan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan analis dan pemegang saham ritel, terutama karena kompleksitas transaksi dan keterlibatan investor yang memiliki kaitan dengan Vingroup dan Vuong.
Salah satu perhatian adalah keterlibatan pengusaha properti Nguyen Hoai Nam, yang bulan ini mengambil alih perusahaan yang akan membeli lebih dari 95% unit manufaktur. Nam sebelumnya menguasai Vincom Retail, mantan unit mal Vingroup, dan baru-baru ini menguasai Future Investment and Trading Development (FIRD), yang memegang paten generasi pertama EV VinFast dan mayoritas sahamnya (92%) dimiliki Nam.
Transaksi juga melibatkan perusahaan Ngoc Quy Investment and Trading Development, yang namanya berarti “batu mulia,” meski pada akhirnya tidak memiliki saham. Struktur ini memunculkan pertanyaan tentang peran Ngoc Quy dalam kesepakatan. Vuong sendiri berperan sebagai pembeli dan penjual dalam transaksi ini.
VinFast akan tetap mempertahankan pabrik perakitan di Indonesia dan India, beserta paten generasi terbaru EV. Saham VinFast turun sekitar 12% sejak pengumuman kesepakatan pada 12 Mei.
Dragon Capital, salah satu investor asing di Vingroup, menilai transaksi ini sebagai perkembangan struktural positif karena dapat menurunkan utang dan biaya.
Dengan outsourcing manufaktur, VinFast dapat fokus pada pengembangan software dan inovasi, menurut analis industri otomotif Felipe Munoz. Pabrik baru juga dapat digunakan untuk memproduksi mobil dan baterai pihak ketiga.
Baca Juga: Kebijakan Baru Ekspor Indonesia Tekan Harga Nikel Global
Pada 2021, Vingroup sempat didekati Foxconn terkait jalur produksi VinFast, tetapi tidak ada kesepakatan yang terjadi. Vingroup menegaskan tidak memiliki rencana menjual pabrik VinFast di Vietnam kepada Foxconn atau produsen lain.













