Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melonjak pada awal perdagangan Senin (9/3/2026) seiring kenaikan tajam harga minyak dunia. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan besar pada pasokan energi global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut mendorong investor memburu aset likuid seperti dolar AS sebagai tempat berlindung (safe haven). Namun penguatan dolar sempat terkoreksi pada sesi perdagangan Asia setelah laporan media menyebut negara-negara anggota G7 tengah mempertimbangkan langkah darurat untuk menstabilkan pasar energi.
Laporan Financial Times menyebut para menteri keuangan G7 akan membahas rencana pelepasan cadangan minyak darurat secara terkoordinasi melalui International Energy Agency. Wacana tersebut sempat menekan harga minyak yang sebelumnya melonjak mendekati US$120 per barel.
Meski demikian, sejumlah mata uang utama tetap melemah terhadap dolar AS. Euro turun sekitar 0,6%, sementara pound sterling melemah 0,7%. Mata uang lain seperti dolar Australia dan franc Swiss yang biasanya menjadi aset aman juga ikut tertekan.
Baca Juga: Konflik di Iran Memaksa Bank Sentral Ubah Arah Kebijakan Secara Drastis
Ray Attrill, Kepala Strategi Valuta Asing di National Australia Bank, mengatakan dolar AS mendapat dukungan kuat dari statusnya sebagai aset safe haven serta posisi Amerika sebagai eksportir energi bersih.
“Dolar AS mendapat dukungan kuat dari faktor safe haven tradisional dan juga status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, berbeda dengan sebagian besar negara Eropa,” ujarnya.
Pasar Global Tertekan
Gejolak pasar memicu aksi jual luas di berbagai kelas aset. Saham, obligasi, hingga logam mulia mengalami penurunan karena investor khawatir lonjakan harga minyak akan memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Michael Every, Strategis Global Senior di Rabobank, menilai dampak konflik berpotensi semakin besar jika situasi terus berlanjut.
“Semakin lama konflik berlangsung, dampaknya akan semakin eksponensial dengan efek domino. Pasar kini mulai melihat bahwa situasi bisa menjadi jauh lebih buruk,” ujarnya.
Pada perdagangan Senin, euro turun 0,6% ke level US$1,1548 setelah sempat menyentuh posisi terendah dalam sekitar tiga setengah bulan. Pound sterling juga melemah 0,7% menjadi US$1,3333.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Eksodus Dana Asia dari Dubai
Terhadap franc Swiss, dolar AS menguat 0,43% menjadi 0,7795. Sementara dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing turun 0,35% dan 0,1%.
Asia Berpotensi Paling Terdampak
Para analis memperkirakan kawasan Asia akan menjadi wilayah yang paling terdampak oleh lonjakan harga energi, mengingat ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah.
Dolar AS juga hampir menembus level 159 yen di pasar Asia dan terakhir naik 0,4% menjadi 158,47 yen. Terhadap won Korea Selatan, dolar menguat 0,26% menjadi 1.485,50 setelah sempat melonjak hingga 1% pada awal sesi.
Deepali Bhargava, Kepala Riset Asia-Pasifik di ING, mengatakan durasi dan tingkat kenaikan harga energi akan menentukan dampak ekonomi global.
“Pertanyaan utamanya adalah seberapa tinggi dan berapa lama harga energi bertahan di level tinggi. Hal itu yang akan menentukan seberapa besar dampak ekonominya,” ujarnya.
Ia menambahkan, konflik berkepanjangan yang disertai pelemahan mata uang regional dapat memperbesar tekanan inflasi di Asia.
Risiko Gangguan Pasokan Energi
Situasi semakin memanas setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Langkah tersebut menandakan kelompok garis keras masih memegang kendali kuat di Teheran.
Konflik yang berlangsung telah menyebabkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global terhenti. Iran juga dilaporkan menargetkan kapal-kapal yang melintas di Strait of Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, serta menyerang infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Baca Juga: China Akan Memerangi Korupsi dengan Menerbitkan UU Lintas Batas
Menteri Energi Qatar bahkan memperingatkan bahwa seluruh produsen energi di Teluk berpotensi menghentikan ekspor dalam beberapa pekan jika konflik terus meningkat. Skenario tersebut dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$150 per barel.
Dampak pada Kebijakan Suku Bunga
Harga energi yang tinggi juga berpotensi memicu inflasi tambahan dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Data ketenagakerjaan AS yang lemah pada akhir pekan sempat menahan penguatan dolar dan memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Namun sentimen tersebut mulai mereda, dengan pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran kurang dari 40 basis poin hingga akhir tahun.
Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com, menilai lonjakan inflasi akibat harga minyak bisa membuat bank sentral AS terpecah pandangan.
“Saya pikir lonjakan inflasi akibat harga minyak yang lebih tinggi akan memecah pandangan di dalam The Fed. Kemungkinan besar hal ini akan menunda keputusan pemangkasan suku bunga karena pembuat kebijakan perlu melihat dampak penuh dari guncangan harga minyak terhadap data ekonomi,” ujarnya.












