Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Penampilan impresif Maroko saat menghadapi Brasil pada laga pembuka Piala Dunia 2026 dan keberhasilan Tanjung Verde (Cape Verde) menahan imbang Spanyol menjadi bukti bagaimana pemain diaspora kini memainkan peran besar dalam sepak bola internasional.
Maroko, misalnya, menurunkan 11 pemain inti yang hampir seluruhnya lahir dan berkembang di luar negeri. Sebagian besar pemain tersebut dibesarkan melalui akademi klub-klub Eropa sebelum memilih membela negara asal leluhur mereka.
Baca Juga: AS dan Iran Teken Kesepakatan Gencatan Senjata, Trump Tetap Ancam Serangan Baru
Fenomena serupa juga terjadi di banyak negara Afrika. Dalam dua dekade terakhir, federasi sepak bola di benua tersebut semakin aktif merekrut pemain keturunan yang lahir atau tumbuh di Eropa untuk memperkuat tim nasional.
Tanjung Verde menjadi salah satu contoh paling menonjol. Negara kepulauan dengan populasi sekitar 600.000 jiwa itu berhasil lolos ke Piala Dunia berkat kontribusi pemain diaspora.
Padahal, lebih dari dua dekade lalu negara tersebut bahkan belum berpartisipasi dalam babak kualifikasi.
Perubahan pola migrasi global, revisi aturan FIFA, serta semakin agresifnya pencarian talenta diaspora telah mengubah lanskap sepak bola dunia secara signifikan.
Baca Juga: Bank Sentral Brasil Pangkas Suku Bunga Lagi, Sinyalkan Peluang Pelonggaran Lanjutan
Aturan Kelayakan Pemain FIFA
FIFA mensyaratkan setiap pemain yang tampil di Piala Dunia harus memiliki kewarganegaraan dari negara yang dibelanya.
Untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan tersebut, FIFA melakukan pemeriksaan paspor terhadap seluruh pemain yang berlaga di turnamen.
Agar negara tidak sembarangan memberikan kewarganegaraan kepada pemain asing demi memperkuat tim nasional, FIFA menetapkan sejumlah syarat tambahan.
Seorang pemain harus pernah tinggal di negara tersebut selama minimal lima tahun atau memiliki orang tua maupun kakek-nenek yang lahir di negara yang ingin dibelanya.
Baca Juga: Saham Inggris Turun Tipis, Investor Menanti Keputusan Bank of England
Evolusi Aturan Perpindahan Tim Nasional
Pada era awal Piala Dunia, aturan mengenai kelayakan pemain relatif longgar. Salah satu contohnya adalah Luis Monti yang membela Argentina pada Piala Dunia 1930, lalu bermain untuk Italia pada Piala Dunia 1934 setelah pindah ke klub Juventus.
Setelah itu FIFA menerapkan aturan yang lebih ketat, yaitu pemain yang sudah tampil dalam pertandingan resmi untuk suatu negara tidak dapat lagi berpindah membela negara lain.
Baca Juga: China Genjot IPO Sektor AI dan Kuantum di Tengah Tren Global, Investor Perlu Tahu
Namun, federasi-federasi sepak bola Afrika Utara mendorong perubahan aturan tersebut. Mereka menilai banyak pemain keturunan Afrika yang membela tim junior negara-negara Eropa, tetapi kemudian tidak pernah mendapatkan kesempatan bermain di level senior.
Dorongan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika FIFA mengubah regulasi pada 2003. Melalui aturan baru itu, pemain yang memiliki kewarganegaraan ganda dapat mengganti asosiasi sepak bola yang dibela selama belum pernah tampil di level tim nasional senior dalam pertandingan resmi.
Awalnya FIFA membatasi perpindahan tersebut hanya sampai usia 21 tahun. Namun, aturan itu kemudian dilonggarkan sehingga pemain dapat mengajukan perpindahan pada usia berapa pun selama memenuhi syarat yang berlaku.
Pemain Pertama yang Memanfaatkan Aturan Baru
Bek asal Aljazair, Antar Yahia, menjadi pemain pertama yang memanfaatkan regulasi baru FIFA tersebut. Ia sebelumnya pernah membela tim junior Prancis sebelum beralih memperkuat Aljazair pada 2004.
Sejak saat itu, semakin banyak pemain yang mengikuti jejak serupa. Penyerang Pierre-Emerick Aubameyang dan Frederic Kanoute, yang pernah membela tim junior Prancis, kemudian memilih memperkuat Gabon dan Mali. Keduanya bahkan berhasil meraih penghargaan Pemain Terbaik Afrika.
Baca Juga: Era Warsh Dimulai, The Fed Tinggalkan Forward Guidance dan Lebih Hawkish
Kapten Senegal Kalidou Koulibaly juga menjadi contoh sukses pemain diaspora. Setelah tampil bersama tim junior Prancis, ia memutuskan membela Senegal dan kini telah mengoleksi lebih dari 100 penampilan internasional.
Fenomena perpindahan kewarganegaraan olahraga tidak hanya terjadi di Afrika. Gelandang Inggris Declan Rice juga pernah membela berbagai kelompok usia Republik Irlandia sebelum akhirnya beralih memperkuat tim nasional Inggris.
Dampak terhadap Piala Dunia
Dampak perubahan aturan FIFA terlihat jelas pada Piala Dunia 2026. Sebanyak 289 pemain atau hampir 25% dari total peserta turnamen membela negara yang bukan tempat kelahiran mereka.
Banyak di antara mereka memanfaatkan aturan perpindahan asosiasi sepak bola untuk mendapatkan kesempatan bermain di level internasional tertinggi.
Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (17 Juni 2026)
Salah satu contohnya adalah Ibrahim Mbaye. Pemain muda Senegal tersebut mencetak gol saat menghadapi Prancis, kurang dari satu tahun setelah terakhir kali tampil untuk tim junior Prancis.
Kehadiran pemain diaspora telah membantu banyak negara meningkatkan kualitas tim nasional dan mempersempit kesenjangan dengan negara-negara sepak bola tradisional.
Di sisi lain, perubahan ini juga membuat persaingan di Piala Dunia semakin kompetitif dan menghadirkan lebih banyak kejutan di panggung sepak bola terbesar dunia.













