kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

Hollywood Ketar-ketir, Microdrama Justru Tumbuh dan Raup Miliaran Dolar


Rabu, 19 Agustus 2026 / 15:36 WIB
Hollywood Ketar-ketir, Microdrama Justru Tumbuh dan Raup Miliaran Dolar
ILUSTRASI. Format microdrama atau serial video vertikal berdurasi sangat pendek mulai menjadi fenomena baru di industri hiburan Amerika Serikat (AS).  (DOK/wikipedia)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LOS ANGELES. Format microdrama atau serial video vertikal berdurasi sangat pendek mulai menjadi fenomena baru di industri hiburan Amerika Serikat (AS). Pertumbuhan format ini bahkan menciptakan peluang baru bagi aktor, penulis, sutradara hingga pekerja kreatif di tengah tekanan yang dihadapi Hollywood.

Craig Williams merasakan langsung perubahan tersebut. Ketika membuka fasilitas produksinya di pusat Los Angeles dua tahun lalu, Williams awalnya memperkirakan gudang furnitur yang telah diubah menjadi studio tersebut hanya akan disewa sesekali untuk produksi video musik.

Namun, perkiraannya meleset. Studio tersebut justru terus dipenuhi pesanan produksi microdrama, yakni serial yang direkam secara vertikal untuk ditonton melalui ponsel dengan durasi sekitar dua menit per episode.

"Mulai banyak yang memesan — dan terus memesan — untuk microdrama," kata Williams, 65 tahun, mantan produser musik Death Row Records.

"Setelah setahun, saya terus mendapatkan pesanan. Saya bilang, 'Saya harus membangun satu lagi,'" tambahnya.

Baca Juga: Produsen Robot China Banjiri Pameran Beijing, Kejar Adopsi Massal

Kini, Williams mengoperasikan tiga fasilitas produksi yang diberi nama Vertical World Studios. Studio tersebut secara khusus melayani kebutuhan produksi serial vertikal dengan cerita cepat dan penuh drama.

Fasilitas itu dilengkapi berbagai set permanen, mulai dari ruang rumah sakit, kantor polisi, ruang pengadilan hingga klub malam. Sebagian besar set dibeli Williams dengan harga likuidasi dari studio-studio besar Hollywood seperti Sony Pictures dan Paramount.

Microdrama Jadi Titik Pertumbuhan Baru Hollywood

Fenomena tersebut muncul ketika industri hiburan tradisional Hollywood justru menghadapi tekanan. Rencana merger sejumlah perusahaan hiburan mengancam mengurangi jumlah produksi film dan serial. Di sisi lain, para aktor juga menghadapi kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), sementara perusahaan streaming harus bersaing dengan YouTube.

Dalam situasi tersebut, microdrama menjadi salah satu segmen yang justru tumbuh.

Menurut lembaga riset Omdia, industri microdrama diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar US$1,5 miliar di AS pada tahun ini. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi hampir US$2 miliar pada tahun depan.

Sebagai perbandingan, bisnis televisi tradisional di AS bernilai sekitar US$125 miliar. Namun, PricewaterhouseCoopers memperkirakan sektor tersebut dapat menyusut hingga US$15 miliar per tahun dalam beberapa tahun mendatang akibat semakin banyak masyarakat menghentikan layanan televisi berlangganan atau melakukan cord-cutting.

Pertumbuhan microdrama juga menunjukkan meningkatnya pengaruh budaya dan industri digital China. Format tersebut berasal dari China dan perkembangannya di AS telah memberikan pijakan bagi aplikasi yang didukung perusahaan China, seperti ReelShort dan GoodShort.

Secara keseluruhan, video vertikal, termasuk TikTok, diproyeksikan menghasilkan pendapatan global sekitar US$150 miliar tahun ini di luar China, menurut peneliti Owl & Co.

Pertumbuhan tersebut membuka lapangan kerja baru bagi aktor, penulis, sutradara serta pekerja kreatif lainnya. Pada saat yang sama, format ini mulai menarik investasi dari studio film, perusahaan media dan platform teknologi.

"Ini benar-benar mengubah kondisi keuangan saya," kata aktor Robert Palmer Watkins. Ia kembali memperoleh pekerjaan secara rutin setelah mengalami penurunan produksi pascapandemi dan aksi mogok Hollywood.

"Saya sangat bersyukur," ujarnya.

Meski demikian, Hollywood masih menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pengeluaran untuk produksi film di AS meningkat 4% pada kuartal terbaru, antara lain berkat insentif pajak, menurut perusahaan riset ProdPro. Namun, secara global tingkat pengeluaran tersebut masih mengalami penurunan.

Microdrama Mengandalkan Cliffhanger

Keberhasilan microdrama pada dasarnya menggunakan formula lama dalam dunia hiburan, yakni cliffhanger atau cerita yang sengaja dihentikan pada momen menegangkan agar penonton ingin melanjutkan ke episode berikutnya.

Formula tersebut kemudian dipadukan dengan kebiasaan masyarakat menggunakan smartphone.

Menurut perkiraan Emarketer, rata-rata warga AS menghabiskan 99 menit setiap hari untuk menonton video melalui perangkat tersebut. Microdrama memanfaatkan kebiasaan itu dengan menghadirkan episode yang biasanya berdurasi 45 detik hingga dua menit.

"Penonton langsung dilempar ke tengah-tengah cerita, sehingga perhatian mereka langsung tertangkap," kata Lily Darragh Harty, direktur produksi Inkitt CandyJar, platform microdrama bergenre romantis.

Omdia mencatat sekitar 66 juta pengguna aktif bulanan di AS menonton microdrama pada tahun lalu. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 26 juta pengguna pada 2024.

Pengguna utama format ini adalah perempuan berusia 25 hingga 55 tahun.

Platform-platform yang sebelumnya kurang dikenal kini mulai menikmati keuntungan dari pertumbuhan tersebut. CandyJar, platform berusia dua tahun yang meluncurkan serial romantis baru sekitar satu kali dalam sepekan, diperkirakan mampu mencatat penjualan tahunan lebih dari US$100 juta.

Baca Juga: Indeks Kospi Ditutup Anjlok 5,8%, Catat Penurunan Terbesar dalam 3 Minggu

Perusahaan tersebut tidak mengungkapkan besaran laba. Namun, menurut manajemennya, satu serial microdrama biasanya terdiri atas 50 hingga 75 episode dan membutuhkan waktu produksi sekitar tiga bulan dengan biaya US$100.000 hingga US$300.000.

Biaya tersebut jauh lebih rendah dibandingkan produksi sitkom berdurasi 30 menit yang rata-rata membutuhkan US$2 juta hingga US$4 juta per episode.

Platform "romance-forward" milik CandyJar memiliki sekitar 99,9% penonton perempuan, menurut Elana Zeltser, direktur pengembangan kreatif Inkitt CandyJar.

Sejumlah judul yang ditawarkan antara lain "The Bad Boy Wants Me", "Mafia Temptation", dan "My Sexy Devil". Ceritanya mengandalkan konflik sederhana dengan perkembangan hubungan yang cepat.

Microdrama memang memiliki karakteristik yang berbeda dari serial televisi konvensional. Ceritanya dibuat sederhana, sementara setiap adegan dramatis diperkuat untuk menjaga perhatian penonton.

Genre Microdrama Makin Beragam

Meski drama romantis masih menjadi salah satu genre utama, pasar microdrama mulai berkembang ke berbagai kelompok penonton.

Menurut survei terbaru Owl & Co. dan Holywater Tech, sekitar 30% pengguna aplikasi My Drama adalah laki-laki. Pertumbuhan terbesar justru terjadi pada penonton berusia 22 hingga 27 tahun.

Kelompok tersebut tertarik pada semakin beragamnya genre microdrama, termasuk fiksi ilmiah, fantasi dan horor.

Model bisnisnya juga relatif sederhana. Platform biasanya menyediakan beberapa episode awal secara gratis. Setelah itu, penonton harus membayar biaya berlangganan mingguan sekitar US$8 hingga US$20 untuk mengakses layanan.

Meagan Johnson, seorang influencer asal Chicago, menemukan microdrama melalui Facebook. Sejak itu, ia mengaku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton serial tersebut dan pernah mengeluarkan hingga US$200 dalam satu bulan.

"Saya terjebak dalam perangkap iklan media sosial yang digunakan drama vertikal untuk menemukan pengguna baru," katanya.

"Hal itu kemudian membuat saya masuk semakin jauh ke dalam lubang kelinci untuk menontonnya."

TikTok juga menjadi salah satu pintu masuk utama bagi penonton untuk menemukan microdrama. Platform tersebut memungkinkan serial dipromosikan kepada audiens luas tanpa langsung menghadapkan penonton pada paywall.

Aktris, penulis sekaligus produser Issa Rae bahkan meluncurkan microdrama pertamanya, thriller "Screen Time", melalui TikTok. Serial tersebut meraih 500 juta penayangan dalam satu bulan.

"Baginya, penting untuk menjangkau audiens sebanyak mungkin sehingga dia bisa melihat apakah format ini mampu membuat penonton terus kembali, sekaligus mendapatkan umpan balik langsung dari audiens," kata Dawn Yang, kepala kemitraan hiburan global TikTok.

Maria Rua Aguete, kepala media dan hiburan Omdia, mengatakan TikTok, Instagram Reels, Facebook dan YouTube Shorts kini berfungsi seperti trailer baru yang mengarahkan pengguna ke aplikasi microdrama.

ReelShort, salah satu produsen terbesar, bahkan mencatat peningkatan waktu menonton harian melalui perangkat seluler sebesar 40% pada kuartal II, menjadi sekitar 38 menit. Berdasarkan analisis Omdia terhadap data Sensor Tower, durasi tersebut lebih tinggi dibandingkan waktu menonton Netflix, Amazon Prime Video maupun Disney+ melalui perangkat seluler.

Raksasa Hollywood Mulai Mengejar

Melihat pertumbuhan pasar tersebut, perusahaan hiburan besar Hollywood mulai memasukkan format video vertikal ke dalam strategi streaming mereka.

Comcast melalui NBCUniversal memperkenalkan konten vertikal di aplikasi Peacock pada awal 2025. Pada musim panas tahun ini, perusahaan tersebut meluncurkan dua microdrama nonfiksi, yakni "Salon Confessionals With Madison LeCroy" dan "Campus Confidential: Miami".

Baca Juga: China Diprediksi Tahan Suku Bunga Kredit, Ekonomi Mulai Kehilangan Momentum

"Kami tahu audiens senang mengonsumsi klip pendek dan video vertikal yang wajib ditonton ini, sehingga format tersebut terasa seperti lingkungan yang tepat untuk bereksperimen," kata Frances Berwick, chairman konten nonfiksi Bravo dan Peacock.

Fox juga menjalin kerja sama dengan Holywater Tech, perusahaan asal Ukraina yang berada di balik aplikasi video My Drama. Kesepakatan tersebut mencakup produksi lebih dari 200 judul video vertikal dengan imbalan kepemilikan saham di perusahaan tersebut.

Sejumlah mantan eksekutif media juga mulai masuk ke bisnis ini. Mantan CEO Miramax Bill Block meluncurkan aplikasi drama vertikal bernama GammaTime. Sementara mantan Chairman ABC Entertainment Lloyd Braun mendukung studio dan platform bernama aTwist.

Pendiri aTwist, Jana Winograde yang merupakan mantan presiden Showtime, dan Susan Rovner, mantan eksekutif NBCUniversal serta Warner Bros. Television, memanfaatkan pengalaman mereka dalam membangun serial televisi untuk mengembangkan format baru tersebut.

Mereka berencana menghadirkan 20 hingga 30 serial microdrama dari berbagai genre, termasuk romantis, thriller dan konten nonfiksi.

"Kami tidak berusaha memenangkan Emmy, kami ingin memenangkan People's Choice Awards," kata Rovner.

AI Turut Mengubah Produksi Microdrama

Perkembangan microdrama juga berjalan beriringan dengan pemanfaatan kecerdasan buatan.

Platform saudara CandyJar, Ironblood, mulai memproduksi microdrama bertema aksi untuk menarik penonton laki-laki. Produksi tersebut dibuat lebih cepat dan murah dengan bantuan AI generatif.

Produksi berbasis AI dapat diselesaikan dalam tiga hingga empat minggu dengan biaya US$60.000 atau kurang.

Meski menggunakan AI, naskah produksinya tetap ditulis manusia. Aktor nyata juga dilibatkan untuk melatih sistem AI agar mampu menggambarkan ekspresi manusia dengan lebih baik.

Sutradara manusia kemudian mengarahkan cerita menggunakan perintah atau prompt.

"Saya bisa melakukan perubahan apa pun dalam dua menit," kata Elizabeth Knebel, produser sekaligus editor Inkitt Ironblood.

"Jika mereka ingin karakter tersebut tersenyum, saya bisa masuk ke prompt, mengatakan 'buat karakter ini tersenyum', dan hasilnya langsung selesai," ujarnya.

Inkitt yang berbasis di San Francisco memiliki sekitar 135 karyawan dan baru-baru ini merekrut 35 orang, menurut CEO Ali Albazaz. Perusahaan tersebut juga menambah satu hingga dua produser video setiap pekan untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Baca Juga: Harga Minyak Terus Menguat untuk 4 Hari Berturut-Turut, Ini Alasannya

Albazaz melihat perkembangan microdrama sebagai "renaisans Hollywood".

Namun, kemunculan format baru ini juga memunculkan kebutuhan akan aturan dan standar baru. SAG-AFTRA, serikat yang mewakili aktor, pemeran pengganti dan pekerja lainnya, telah membuat kontrak media baru yang menetapkan upah minimum, waktu istirahat wajib serta aturan keselamatan.

Jalur Karier Aktor Hollywood Berubah

Pertumbuhan microdrama juga mengubah jalur tradisional bagi pekerja kreatif untuk membangun karier di Hollywood.

Sebelumnya, aktor pemula biasanya memulai dari pekerjaan iklan atau figuran, kemudian mendapatkan agen sebelum memperoleh peran dalam sitkom. Bagi sebagian kecil yang berhasil, perjalanan tersebut dapat berkembang menjadi karier panjang di industri hiburan.

Kini, jalurnya mulai berubah.

Menurut Hernan Lopez, kepala Owl yang sebelumnya menjabat sebagai presiden dan CEO Fox International, semakin banyak orang yang datang ke Los Angeles dan memperoleh pekerjaan pertama mereka melalui drama vertikal.

"Sekarang, secara anekdot, Anda mendengar banyak orang datang ke Los Angeles dan mendapatkan pekerjaan pertama mereka melalui drama vertikal."

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa microdrama bukan lagi sekadar konten hiburan berdurasi pendek untuk ponsel. Format tersebut mulai berkembang menjadi bagian baru dari ekosistem industri hiburan, menciptakan model bisnis, lapangan pekerjaan dan jalur distribusi baru ketika Hollywood menghadapi perubahan besar akibat streaming, perubahan perilaku penonton dan perkembangan AI.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×