Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Militer Amerika Serikat (AS) pada Rabu (8/7/2026) melancarkan serangan baru terhadap Iran dengan tujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Serangan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah "berakhir".
Baca Juga: Harga Emas Melemah Setelah Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Telah Berakhir
Komando Pusat Militer AS (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan, operasi tersebut merupakan respons atas serangan terhadap tiga kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (7/7).
Serangan terbaru itu mengguncang sejumlah kota di pesisir selatan Iran dan menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah.
"Pasukan CENTCOM telah memulai serangan tambahan terhadap Iran untuk semakin melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz," tulis CENTCOM melalui platform X.
Militer AS menegaskan langkah tersebut bertujuan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang disebut tidak beralasan terhadap kapal-kapal niaga dan awak sipil yang berlayar di jalur pelayaran internasional.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$ 1 per Barel, AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah serangan pada Rabu lebih besar dibandingkan operasi yang dilakukan sehari sebelumnya.
Trump juga memperingatkan Iran melalui media sosial Truth Social.
"Ini adalah balasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, responsnya akan jauh lebih besar," tulis Trump.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum pecahnya perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Konflik sendiri bermula setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Meski Iran belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, sejumlah analis menilai tindakan tersebut menjadi alat tawar Teheran dalam perundingan dengan Barat.
Baca Juga: Gencatan Senjata Berakhir, Trump Siap Serang Iran Dengan Keras Malam Ini
Eskalasi terbaru ini juga mengurangi harapan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni dapat berkembang menjadi perjanjian permanen untuk mengakhiri perang.
Iran pada Rabu mengumumkan telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap infrastruktur di Iran.
Serangan AS tersebut merupakan respons atas insiden terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Saat ditanya dalam perjalanan menuju KTT NATO di Turki apakah nota kesepahaman tersebut masih berlaku, Trump menjawab bahwa menurutnya kesepakatan itu telah berakhir.
"Itu pertanyaan yang menarik. Bagi saya, kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," ujar Trump.
Trump juga mengaku ragu Iran akan mematuhi kesepakatan jika nantinya tercapai.
"Kalaupun kami membuat kesepakatan dengan Iran, saya tidak yakin mereka akan mematuhinya. Menurut saya mereka adalah pihak yang tidak dapat dipercaya," katanya.
Baca Juga: Denmark Tegaskan Siap Pertahankan Setiap Inci Wilayah NATO, Termasuk Greenland
Meski demikian, Trump mengatakan dirinya tidak memperkirakan konflik akan kembali menjadi perang terbuka berskala penuh. Ia juga belum dapat memastikan apakah negosiasi menuju kesepakatan permanen masih akan berlanjut.
"Saya rasa perang tidak akan dimulai lagi. Apa pun yang terjadi akan selesai dengan sangat cepat dan justru akan membuat situasi lebih aman, termasuk bagi pasar minyak," ujar Trump dalam konferensi pers.
Serangan terbaru AS mendorong harga minyak dunia kembali menguat. Dalam perdagangan pascapenutupan, harga minyak mentah Brent naik menjadi US$ 79,28 per barel, meskipun masih jauh di bawah puncak akhir April yang sempat melampaui US$ 120 per barel.
Kota Pelabuhan Iran Jadi Sasaran
Media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah kota di pesisir selatan, mulai dari kawasan Selat Hormuz hingga Teluk Oman.
Bandar Abbas, yang menjadi lokasi pelabuhan terbesar Iran sekaligus basis penting Angkatan Laut Iran dan Garda Revolusi, termasuk wilayah yang menjadi sasaran serangan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Saham Jatuh Pasca Trump Sebut Kesepakatan Sementara Iran Berakhir
Serangan juga dilaporkan menghantam Konarak dan Chabahar. Media Iran menyebutkan terjadi pemadaman listrik dan kerusakan pada menara pengatur lalu lintas maritim di kedua wilayah tersebut. Ledakan juga dilaporkan terjadi di kota Iranshahr di Iran tenggara.
Sementara itu, Nournews yang berafiliasi dengan Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengutip sumber militer yang menyatakan Teheran tengah menyiapkan "serangan besar-besaran" terhadap pangkalan militer AS di kawasan sebagai aksi balasan.
Sebelum serangan terbaru AS, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman karena menentang klausul yang menegaskan tanggung jawab Iran dalam mengatur keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Biaya Mobil di Singapura Meroket: US$ 100.000 Hanya untuk Sertifikat Kepemilikan!
Di sisi lain, juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran mengatakan, opsi pembalasan yang sedang dipertimbangkan antara lain menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), mengubah doktrin nuklir Iran, hingga menutup Selat Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan global.














