kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu di Perang Iran, Teheran atau Washington?


Selasa, 10 Maret 2026 / 07:49 WIB
Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu di Perang Iran, Teheran atau Washington?
ILUSTRASI. Iran bertaruh pada ketahanan, bukan militer. Mereka ingin memaksa AS mundur dengan mengguncang pasar energi global. Akankah berhasil? (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Iran tampaknya bertaruh bisa bertahan lebih lama dari Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang tengah berlangsung. Bukan dengan keunggulan militer semata, tetapi dengan mengubah perang menjadi pertarungan ketahanan yang melelahkan.

Strateginya cukup jelas: meluncurkan drone dan rudal, mengganggu jalur energi penting, serta mengguncang pasar global hingga cukup kuat untuk memaksa Washington mundur lebih dulu.

Meski mengalami guncangan akibat serangan gabungan AS–Israel dan kehilangan sejumlah tokoh penting, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut masih memegang kendali penuh. Pasukan elite ini mengarahkan operasi di medan perang, menjalankan rencana darurat yang telah disiapkan sebelumnya, serta menentukan strategi dan target serangan.

IRGC juga disebut berperan penting dalam mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan awal AS–Israel.

Reuters melaporkan, pakar politik Timur Tengah dari London School of Economics, Fawaz Gerges, menilai konflik ini dipandang Iran sebagai pertarungan eksistensial.

“Bagi mereka, ini adalah perang habis-habisan. Mereka merasa kelangsungan hidup mereka dipertaruhkan,” kata Gerges.

Sementara itu, analis dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menggambarkan Iran seperti “hewan yang terluka, terpukul, tetapi justru menjadi lebih berbahaya.”

Baca Juga: Ekonomi Jepang Melejit 1,3% di Kuartal IV-2025, Ditopang Investasi Bisnis yang Kuat

Target energi kawasan Teluk

Pendekatan perang total itu terlihat dari meningkatnya serangan Iran di kawasan Teluk, yang menyasar pusat energi dari Qatar hingga Saudi Arabia. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memaksimalkan gangguan ekonomi global sekaligus meningkatkan tekanan biaya terhadap negara-negara tetangga, Eropa, dan Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada anggota Partai Republik bahwa perang akan terus berlangsung hingga Iran “benar-benar dikalahkan secara total dan tegas”. Namun ia juga memprediksi konflik tersebut akan segera berakhir.

Trump menambahkan bahwa setelah operasi militer AS selesai, Iran tidak akan memiliki kemampuan persenjataan yang dapat mengancam Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu-sekutunya untuk waktu yang lama.

Strategi perang yang sudah disiapkan

Menurut sejumlah sumber di Iran, eskalasi konflik ini sebenarnya telah diperkirakan jauh sebelum perang pecah sekitar 11 hari lalu. Para perencana militer Iran telah lama mengasumsikan bahwa konfrontasi dengan Washington dan Israel tidak dapat dihindari.

Karena itu, mereka menyiapkan strategi berlapis yang melibatkan jaringan militer IRGC serta kelompok proksi di kawasan.

Kini, dengan situasi yang dianggap tidak banyak lagi yang bisa dipertaruhkan, Iran menjalankan rencana tersebut dengan mengubah konflik menjadi perang kelelahan yang bertujuan menguras sumber daya politik dan ekonomi lawan.

Baca Juga: Kim Jong Un Kirim Surat Penting ke Xi Jinping, Apa Isinya?




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×