Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harapan tercapainya terobosan diplomatik dalam konflik antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran semakin memudar. Memasuki pekan baru, upaya perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua bulan itu masih menemui jalan buntu, dengan kedua pihak menunjukkan sikap keras.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi meninggalkan Pakistan sebagai mediator tanpa hasil konkret pada akhir pekan. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad—memberikan pukulan beruntun terhadap prospek perdamaian.
Kebuntuan ini membuat dua kekuatan besar—ekonomi terbesar dunia dan salah satu produsen minyak utama—tetap terjebak dalam konfrontasi yang telah mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya, tekanan inflasi meningkat dan prospek pertumbuhan ekonomi global semakin suram.
Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan terlibat dalam “negosiasi yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade. Pernyataan itu disampaikan dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Baca Juga: Pemilu Lokal Palestina Digelar, Gaza Ikut untuk Pertama Kali dalam Dua Dekade
Menurut Pezeshkian, Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghapus “hambatan operasional,” termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.
Sementara itu, Araqchi menyebut kunjungannya ke Pakistan sebagai “sangat produktif,” meskipun sumber diplomatik Iran menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima tuntutan maksimal dari Washington.
Trump Nilai Tawaran Iran Belum Cukup
Trump menyatakan bahwa pembatalan kunjungan diplomatik dilakukan karena tawaran dari Iran dinilai belum memadai dibandingkan dengan biaya dan kompleksitas perjalanan tersebut.
“Iran menawarkan banyak hal, tetapi belum cukup,” ujar Trump kepada wartawan.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump juga menyoroti adanya “konflik internal dan kebingungan besar” di dalam kepemimpinan Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar memegang kendali di Teheran.
Baca Juga: Deadlock Iran-AS, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Islamabad
Ketegangan Regional Kian Meningkat
Di tengah kebuntuan diplomatik, eskalasi militer terus berlanjut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memerintahkan serangan terhadap target Hezbollah di Lebanon, yang berpotensi menguji gencatan senjata yang baru berlangsung selama tiga pekan.
Sementara itu, Iran dilaporkan telah menutup sebagian besar akses di Selat Hormuz—jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global. Di sisi lain, Amerika Serikat juga memblokir ekspor minyak Iran, memperburuk tekanan di pasar energi global.
Upaya Diplomasi Masih Terbuka
Meski situasi tampak buntu, Gedung Putih menyatakan masih melihat adanya sedikit kemajuan dari pihak Iran. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan disebut siap melakukan perjalanan ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan, setelah putaran awal negosiasi sebelumnya tidak membuahkan hasil.
Konflik antara AS dan Iran sendiri bermula dari serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak itu, Iran merespons dengan serangan ke Israel, pangkalan militer AS, serta sejumlah negara Teluk.













