kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Harga Minyak Naik, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan


Jumat, 07 Agustus 2026 / 16:05 WIB
Harga Minyak Naik, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar  (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (7/8/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz serta potensi pemberlakuan larangan dan denda oleh Iran terhadap kapal yang dianggap bermusuhan atau melanggar aturan yang diusulkan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka naik 75 sen atau 0,9% menjadi US$83,24 per barel pada pukul 08.15 GMT (15:15 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 42 sen atau 0,5% menjadi US$77,71 per barel.

Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan harga minyak pada perdagangan Kamis. Harga minyak berjangka ditutup naik lebih dari US$3 per barel setelah Iran meninjau rancangan undang-undang yang akan melarang kapal AS dan Israel melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Baca Juga: Aturan Baru India Guncang Bisnis Minuman Energi, Termasuk PepsiCo dan Red Bull

Namun, secara mingguan harga minyak masih berada dalam tekanan. Kedua acuan harga minyak tersebut diperkirakan mencatat penurunan sekitar 8% dalam sepekan setelah sebelumnya pasar melihat peluang penyelesaian konflik yang lebih besar.

Ketidakpastian Selat Hormuz Tekan Sentimen Pasar

Analis menilai perkembangan sepanjang pekan ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran dan AS belum sepenuhnya berakhir.

Analis Rystad Energy Lin Ye mengatakan pasar minyak kini merespons rancangan aturan yang diterbitkan Iran terkait persyaratan transit di Selat Hormuz.

"Pasar bukan sedang memperhitungkan kesepakatan yang buruk, melainkan memperhitungkan konfirmasi bahwa apa pun yang muncul nantinya adalah koridor yang dikelola dan bersyarat, bukan pemulihan arus normal," ujar Ye.

Iran disebut tengah mengupayakan pungutan sebesar 5% hingga 7% dari nilai kargo terhadap kapal yang menggunakan Selat Hormuz. Sementara itu, Oman tengah membahas pungutan sekitar 3%, sedangkan Washington menginginkan agar tidak ada pungutan yang diberlakukan sama sekali.

Empat sumber dari industri mengatakan kesepakatan yang diusulkan tersebut tidak mudah diterapkan. Salah satu kendalanya adalah sanksi AS serta klausul asuransi yang ketat terhadap pembayaran yang dilakukan dalam skema tersebut.

Pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan sinyal mengenai potensi tercapainya kesepakatan telah membuat sentimen pasar bergerak sangat fluktuatif.

"Namun, pasar masih belum mengetahui apa yang harus terjadi agar kesepakatan tersebut benar-benar dapat tercapai," kata Hari.

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Risiko Harga Minyak

Selain ketidakpastian mengenai Selat Hormuz, perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah juga masih menjadi perhatian investor.

Kelompok Houthi di Yaman pada Kamis mengatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap posisi Arab Saudi di Marib dan Hadramout, Yaman.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya meyakini perang akan segera berakhir.

Baca Juga: Trump Terjepit, Perang Iran Masuk Bulan Keenam dan Selat Hormuz Jadi Taruhan

Pernyataan tersebut memberikan sinyal positif bagi pasar, tetapi investor masih mencermati perkembangan konkret terkait penghentian konflik serta mekanisme pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pergerakan harga minyak juga akan dipengaruhi oleh data ekonomi AS. Investor menantikan data ketenagakerjaan atau payrolls AS yang akan dirilis pada Jumat.

Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya bagi konsumen dan menekan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi permintaan terhadap minyak.

Dengan demikian, pasar minyak saat ini menghadapi dua faktor utama yang saling berlawanan. Risiko geopolitik dan ketidakpastian Selat Hormuz berpotensi menopang harga, sementara potensi perlambatan ekonomi akibat suku bunga tinggi dapat menekan permintaan minyak.

Perkembangan konflik Iran-AS, kepastian aturan transit di Selat Hormuz, serta data ekonomi AS akan menjadi sejumlah faktor penting yang menentukan arah harga minyak dunia dalam perdagangan berikutnya.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×