kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Trump Terjepit, Perang Iran Masuk Bulan Keenam dan Selat Hormuz Jadi Taruhan


Jumat, 07 Agustus 2026 / 15:49 WIB
Trump Terjepit, Perang Iran Masuk Bulan Keenam dan Selat Hormuz Jadi Taruhan
ILUSTRASI. Perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran memasuki bulan keenam. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran memasuki bulan keenam. Rentetan ancaman dan diplomasi sepanjang pekan ini semakin menegaskan posisi sulit yang dihadapi Trump untuk mengakhiri konflik yang tidak populer tersebut.

Trump kini berada di antara dua pilihan yang sama-sama memiliki risiko politik dan strategis. Pilihan pertama adalah menerima kesepakatan sementara yang tengah dirundingkan Iran dan Oman. Kesepakatan tersebut berpotensi memberikan Teheran kendali atas Selat Hormuz yang sebelumnya tidak pernah dimilikinya.

Pilihan kedua adalah menindaklanjuti ancaman eskalasi tajam terhadap Iran. Langkah ini berpotensi memicu krisis yang lebih panjang dan menimbulkan risiko politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm AS pada November.

Sejumlah analis menilai, opsi pertama akan menjadi konsesi terbesar bagi Iran sejak AS dan Israel menyerang negara tersebut pada 28 Februari. Kesepakatan itu setidaknya untuk sementara dapat memformalkan pengawasan Republik Islam Iran terhadap jalur pelayaran minyak yang sangat vital tersebut.

Padahal, pemerintahan Trump sebelumnya berulang kali menyatakan akan mencegah Iran menguasai Selat Hormuz.

Baca Juga: Kasus Ebola di Kongo Tembus 4.000, Korban Meninggal Capai 1.850

Sementara itu, opsi kedua yang kemungkinan berupa gelombang serangan udara baru juga mengandung risiko besar. Selain berpotensi memperpanjang konflik, serangan baru tersebut belum tentu menghasilkan keberhasilan yang lebih besar dibandingkan serangan sebelumnya yang dinilai gagal membuat Teheran menyerah.

Trump juga masih dapat memilih untuk mempertahankan status quo yang tidak stabil. Pilihan ini berarti mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran sekaligus melakukan serangan balasan secara berkala apabila terjadi serangan terhadap kapal-kapal.

Namun, strategi tersebut juga tidak memberikan jalan keluar yang dapat menyelamatkan muka Trump dari konflik yang sebelumnya ia prediksi akan berakhir pada pertengahan April.

“Ini adalah menu pilihan yang buruk, tetapi Trump mungkin telah menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan perang ini berlangsung tanpa batas waktu,” kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah dari pemerintahan Partai Demokrat dan Republik.

“Sesuatu harus berubah, dan itu mungkin berupa pengakuan terhadap realitas baru Iran di selat tersebut,” lanjutnya.

Menanggapi pertanyaan Reuters, seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa setiap rute pelayaran “sementara” akan berjalan “tanpa hambatan”, serta tidak akan ada pihak yang mengawasi lalu lintas kapal.

Selat Hormuz Jadi Titik Tekan

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur perairan internasional yang terbuka, tidak berada di bawah kendali Iran, serta bebas dari pungutan maupun biaya.

Baca Juga: SK Hynix Gelontorkan Investasi Hingga US$ 38 Miliar untuk Ekspansi Pabrik Chip

Sejak perang dimulai, Iran disebut memiliki posisi yang hampir mampu mencekik arus pelayaran di selat tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Namun, Trump sebelumnya juga pernah menyampaikan pernyataan yang bertentangan dengan sejumlah pernyataan Rubio mengenai perang tersebut. Para analis menilai hal serupa masih mungkin terjadi.

Ruang gerak Trump juga semakin terbatas di tengah tingginya harga bensin di AS, rendahnya tingkat persetujuan terhadap dirinya, serta ketidakpopuleran perang di mata masyarakat Amerika.

Seiring konflik yang terus berlangsung, ancaman keras Trump sejauh ini dinilai hanya memberikan sedikit, atau bahkan tidak memberikan, tekanan yang berarti kepada Iran untuk memberikan konsesi.

Sebaliknya, sejumlah analis menilai semakin besar kemungkinan Trump justru harus menjadi pihak yang memberikan kompromi terbesar.

Pembukaan kembali Selat Hormuz dipandang sebagai prasyarat untuk menghidupkan kembali perundingan antara Iran dan AS. Pemerintahan Trump ingin pembicaraan tersebut berfokus pada program nuklir Iran, yang menjadi target utama yang secara resmi disebutkan dalam kampanye militer presiden AS.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah AS bersedia menerima kesepakatan yang dirumuskan Iran dan Oman, yang masing-masing berada di sisi berlawanan dari Selat Hormuz.

Seorang sumber senior Iran dan dua pejabat regional mengatakan kepada Reuters bahwa rancangan kesepakatan tersebut akan memberikan Teheran sejumlah kendali terhadap kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui selat tersebut.

Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan itu sudah dekat. Namun, pejabat Iran menyatakan masih terdapat sejumlah rincian yang harus diselesaikan.

Peluang Kesepakatan Damai Masih Diragukan

Bahkan apabila kesepakatan Iran-Oman berhasil dicapai dan pembicaraan antara Iran dan AS kembali berlangsung, para pakar masih skeptis terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai final.

Baca Juga: FAO: Harga Pangan Dunia Naik ke Level Tertinggi dalam 3 Tahun

Keraguan tersebut muncul karena nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni lalu dengan cepat mengalami keretakan.

Kesepakatan awal tersebut juga memberikan Iran sejumlah keringanan sanksi sejak tahap awal. Hal itu kemudian menuai kritik dari sejumlah anggota Partai Republik yang merupakan rekan politik Trump.

Seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, pejabat pemerintahan Trump semakin menerima kenyataan bahwa konflik kemungkinan masih berlangsung dalam beberapa bentuk ketika pemilihan paruh waktu AS digelar.

Di sejumlah negara bagian, pemungutan suara awal bahkan dimulai pada September.

Kondisi tersebut berpotensi menambah risiko politik bagi Trump. Ia sebelumnya berkampanye untuk masa jabatan kedua dengan janji menghindari intervensi luar negeri dan lebih fokus pada persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat Amerika.

Pada saat yang sama, Partai Republik berupaya mempertahankan kendalinya atas Kongres.

Pejabat AS tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan Trump terkait Iran tidak didasarkan pada “jajak pendapat yang berubah-ubah”.

Tujuan Utama Perang Belum Tercapai

Trump secara berkala mengklaim kemenangan dengan menyebut banyak pemimpin Iran telah tewas dan kemampuan militer Teheran telah mengalami penurunan.

Namun, sebagian besar analis menilai Trump menghadapi kegagalan dalam mencapai sejumlah tujuan utama perang.

Pada Sabtu, Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan berskala besar berikutnya setelah mitra-mitra AS di Timur Tengah meminta dirinya memberikan kesempatan lain bagi jalur diplomasi.

Di saat yang sama, Trump tetap mengancam akan melancarkan serangan keras apabila upaya diplomasi tersebut gagal.

Sejumlah analis menilai keputusan Trump untuk menurunkan eskalasi kemungkinan juga dipengaruhi kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan rudal AS. Namun, Trump membantah bahwa Amerika Serikat mulai kekurangan amunisi.

Pada Rabu, Trump kembali menyampaikan pesan yang kontradiktif kepada Iran.

“Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang,” kata Trump dalam sebuah kampanye di Las Vegas.

“Tetapi pada titik tertentu, kami akan melakukannya,” tambahnya.

Baca Juga: Arab Saudi, Turki dan Pakistan Akan Meneken Kesepakatan Pertahanan Bersama

Iran telah memperingatkan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk bahwa serangan baru Amerika Serikat akan memicu aksi pembalasan terhadap infrastruktur energi mereka.

Lima sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan ancaman itu telah menjadi bagian dari pembahasan terkait potensi eskalasi konflik.

Jonathan Panikoff, mantan wakil pejabat intelijen AS untuk Timur Tengah, mengatakan China, Rusia, dan Korea Utara kini mengamati perkembangan konflik tersebut secara saksama.

“Mereka sedang mempelajari apa saja batasan AS untuk tahun-tahun mendatang,” kata Panikoff.

Bahkan sejumlah kelompok garis keras terhadap Iran yang selama ini sebagian besar mendukung perang Trump kini menyerukan kehati-hatian.

“Republik Islam sedang berusaha memaksa Presiden Trump masuk ke dalam situasi yang sama-sama merugikan sebelum November,” tulis Behnam Ben Taleblu dari Foundation for the Defense of Democracies, lembaga pemikir anti-Iran garis keras di Washington, melalui X.

Menurutnya, pemerintahan Trump seharusnya menghindari “tindakan yang terburu-buru” dan memahami “di mana AS memiliki pengaruh dan di mana AS tidak memiliki pengaruh”.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×