Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Regulator keamanan pangan India menolak permintaan perusahaan minuman global untuk memperpanjang batas waktu penghapusan label "minuman energi" pada produk berkafein tinggi. Regulator hanya memberikan waktu 90 hari bagi perusahaan untuk menyesuaikan pelabelan produk mereka.
Keputusan tersebut berpotensi mengganggu industri minuman energi di India yang tengah mengalami pertumbuhan pesat. Sejumlah perusahaan besar seperti PepsiCo, Red Bull, Monster Beverage, serta Reliance milik miliarder Mukesh Ambani, sebelumnya meminta pemerintah memberikan waktu setidaknya satu tahun untuk menerapkan kebijakan tersebut.
Sumber pemerintah India mengatakan, Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI) tidak akan menyetujui permintaan perpanjangan tenggat waktu tersebut.
"Perusahaan-perusahaan tersebut telah melanggar peraturan dengan memberi label sebagai minuman energi. Mereka seharusnya senang karena India tidak menuntut mereka," ujar seorang pejabat pemerintah yang mengetahui persoalan tersebut, seperti dikutip Reuters, Jumat (7/8/2026).
FSSAI pada Juli 2026 secara internal telah memberikan waktu 90 hari kepada perusahaan untuk menghapus istilah "minuman energi" atau deskripsi serupa dari produk minuman dengan kandungan kafein tinggi.
Baca Juga: Dana Pensiun Terbesar Jepang Mencatat Rekor Keuntungan Investasi
Regulator beralasan tidak terdapat standar khusus di India yang mengatur kategori produk tersebut. Oleh karena itu, penggunaan label "minuman energi" dinilai melanggar ketentuan yang berlaku.
Penjualan Minuman Energi India Tumbuh Pesat
Kebijakan tersebut datang ketika pasar minuman energi India tengah berkembang signifikan. Berdasarkan estimasi Euromonitor, penjualan ritel minuman energi di India tumbuh rata-rata 12,6% per tahun.
Pertumbuhan tersebut lebih cepat dibandingkan pasar Amerika Serikat dan China. Penjualan ritel minuman energi di India bahkan hampir berlipat ganda setiap tahun selama periode 2018 hingga 2023.
Pada tahun lalu, volume penjualan ritel minuman energi di India mencapai sekitar 907 juta liter. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 3 miliar botol atau kaleng.
Pemerintah India menilai perusahaan seharusnya dapat menghabiskan persediaan yang sudah beredar dalam batas waktu 60 hingga 90 hari.
"Perusahaan-perusahaan tersebut belum memberi tahu FSSAI berapa banyak persediaan yang berada di masing-masing negara bagian, padahal mereka diwajibkan melacaknya untuk memastikan keterlacakan produk," kata pejabat pemerintah tersebut.
Namun, sejumlah sumber industri mengatakan pendataan persediaan di seluruh negara bagian India tidak mudah dilakukan mengingat besarnya volume produk yang beredar di pasar.
Perusahaan-perusahaan minuman sebelumnya meminta waktu sedikitnya satu tahun. Permintaan tersebut diajukan karena jutaan kaleng dan botol produk sudah beredar di pasar, sementara sebagian lainnya masih dalam proses pemesanan, termasuk kemasan kaleng impor.
FSSAI, Red Bull, Monster Beverage dan Reliance Consumer Products tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Sementara itu, PepsiCo memilih tidak memberikan komentar.
Baca Juga: Trump Terjepit, Perang Iran Masuk Bulan Keenam dan Selat Hormuz Jadi Taruhan
Penyitaan Produk Jadi Kekhawatiran Perusahaan
Selain persoalan pelabelan, perusahaan minuman energi juga menghadapi peningkatan tindakan penegakan hukum di sejumlah wilayah India.
Sumber industri mengatakan perusahaan-perusahaan minuman tersebut telah meminta pemerintah India menghentikan penyitaan produk minuman energi yang dilakukan oleh pemerintah negara bagian.
Pada bulan lalu, negara bagian Rajasthan menyita ribuan produk PepsiCo Sting, Reliance Campa Energy, dan Red Bull dalam rangka penegakan aturan keamanan pangan.
Kantor keamanan pangan di wilayah Ladakh yang berada di bawah pemerintahan federal India juga menyatakan akan melakukan penyitaan terhadap stok produk yang dinilai bermasalah.
"Tindakan penyitaan merupakan bagian yang secara eksplisit termasuk dalam pemeriksaan tingkat distrik yang saat ini sedang berlangsung," kata kantor keamanan pangan Ladakh.
Menurut otoritas tersebut, pemeriksaan dilakukan terhadap minuman yang tersedia di tingkat pengecer maupun distributor, terutama terkait kepatuhan terhadap aturan pelabelan.
Langkah penertiban tersebut menjadi perhatian serius bagi perusahaan karena produk-produk minuman energi telah memiliki basis konsumen yang besar di India.
Pasar Minuman Energi Berkembang Sejak 2017
Pasar minuman energi India mulai berkembang pesat setelah PepsiCo meluncurkan Sting pada 2017. Menurut Euromonitor, produk tersebut mendapat respons kuat karena dijual dalam botol plastik seharga 20 rupee atau sekitar US$0,21.
Harga yang relatif murah membuat produk tersebut populer, terutama di kalangan konsumen berusia 15 hingga 19 tahun serta masyarakat di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, meningkatnya konsumsi minuman energi juga memunculkan kekhawatiran kesehatan di berbagai negara. Regulator di sejumlah negara menyoroti kandungan kafein, gula, dan taurin yang terdapat dalam produk tersebut.
Baca Juga: Kasus Ebola di Kongo Tembus 4.000, Korban Meninggal Capai 1.850
Inggris, misalnya, akan melarang penjualan minuman energi kepada konsumen berusia di bawah 16 tahun mulai April tahun depan.
Perusahaan Minta Dukungan Pemerintah
Persoalan pelabelan minuman energi juga telah dibawa langsung oleh para pelaku industri kepada pemerintah India.
Eksekutif dari PepsiCo, Red Bull, dan Monster pada Selasa (4/8) bertemu Menteri Pengolahan Pangan India Chirag Paswan. Pertemuan tersebut membahas kekhawatiran industri terkait penerapan aturan pelabelan minuman energi.
Para perusahaan meminta dukungan Paswan untuk menghadapi dampak kebijakan FSSAI tersebut.
Paswan kemudian menyatakan melalui platform X bahwa kementeriannya berkomitmen mendorong "investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja" di sektor tersebut.
Namun, Paswan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai sikap pemerintah terhadap permintaan perusahaan untuk memperpanjang tenggat waktu penghapusan label "minuman energi".
Dengan FSSAI tetap mempertahankan batas waktu 90 hari, perusahaan minuman energi kini menghadapi tekanan untuk menyesuaikan label produk sekaligus mengelola persediaan yang sudah beredar di pasar India.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
