Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah turun tipis pada Kamis (13/8/2026) setelah investor mencermati prospek pelemahan permintaan minyak global.
Namun, harga masih tertahan oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah dan belum adanya kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent turun 11 sen atau 0,12% menjadi US$88,87 per barel pada pukul 06.24 GMT.
Baca Juga: Kepercayaan Konsumen Thailand Naik pada Juli, Tembus Level 51,8
Penurunan tersebut memangkas kenaikan yang telah dicatat Brent dalam enam sesi perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 16 sen atau 0,19% menjadi US$83,11 per barel, setelah sebelumnya menguat selama lima sesi berturut-turut.
"Pembeli masih mendominasi dalam jangka pendek setelah pemulihan selama beberapa sesi terakhir. Namun, laju kenaikan tersebut juga dapat memicu periode volatilitas dan aksi ambil untung di sekitar level saat ini," kata Antonio Di Giacomo, analis pasar senior di XS.com.
Menurutnya, pasar kini berupaya menentukan apakah potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah mampu mengimbangi kemungkinan moderasi konsumsi minyak global.
Baca Juga: Lenovo Raup Cuan dari Booming AI dan Cip Memori
Prospek Permintaan Jadi Beban Harga
Sentimen pasar minyak mendapat tekanan setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi 580.000 barel per hari (bph).
Pada hari yang sama, International Energy Agency (IEA) bahkan memperkirakan konsumsi minyak global tahun ini akan turun 1,6 juta bph, lebih dalam dibandingkan proyeksi penurunan 1 juta bph pada bulan sebelumnya.
IEA menyebut, kenaikan harga minyak dan keterbatasan pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran telah menekan permintaan.
Tekanan tambahan datang dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah komersial AS melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus.
Kenaikan tersebut merupakan peningkatan mingguan terbesar sejak Januari 2023. Angka itu juga berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan persediaan turun 1,4 juta barel.
Kenaikan stok terjadi ketika ekspor minyak AS mengalami penurunan.
Baca Juga: Starbucks Korea Catat Rugi US$13,4 Juta Setelah Tersandung Kontroversi Kampanye
Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian
Meski prospek permintaan memberikan tekanan terhadap harga, risiko pasokan dari Timur Tengah masih menjadi penopang pasar.
Seorang sumber senior Iran mengatakan pada Rabu bahwa belum ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni serta menentukan jadwal implementasinya.
Belum adanya perkembangan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi dalam sepekan terakhir.
Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap pelayaran di wilayah tersebut dapat mengurangi pasokan energi global.
Analis Haitong Futures mengatakan, kondisi keamanan pelayaran di kawasan tersebut semakin memburuk.
Baca Juga: Ford Pindahkan Produksi Mobil Lincoln dari China ke AS Mulai 2030
Sejumlah kapal bahkan terpaksa mematikan sistem sinyalnya, sehingga mengurangi transparansi pelayaran dan menyulitkan pasar dalam memantau serta memperkirakan tingkat pasokan minyak yang sebenarnya.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: prospek melemahnya permintaan global menekan harga, sementara risiko gangguan pasokan Timur Tengah memberikan batas bawah bagi penurunan harga minyak.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
