Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak melonjak lebih dari 3% pada hari ini setelah serangan militer baru antara Amerika Serikat dan Iran menghidupkan kembali kekhawatiran atas pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
Senin (13/7/2026) pukul 15.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 naik US$ 2,67 atau 3,51% menjadi US$ 78,68 per barel.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 melonjak US$ 2,48 atau 3,47% menjadi US$ 73,89 per barel.
"Operator pelayaran mengadopsi pendekatan hati-hati dan pergerakan masuk telah melambat karena meningkatnya kekhawatiran keamanan," kata analis ANZ.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok 1%, Dipicu Lonjakan Harga Minyak Imbas Kekhawatiran di Selat Hormuz
Serangan baru AS dan Iran selama akhir pekan memicu kekhawatiran akan eskalasi baru. Teheran menargetkan fasilitas AS di Teluk pada hari Minggu dan mengatakan pihaknya kembali menutup Selat Hormuz. Pengawal Revolusi Iran mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan harian minyak dan gas alam cair global.
Lalu lintas kapal yang melalui selat tersebut turun ke level terendah dalam lima minggu pada hari Minggu, menurut data pelacakan kapal. Enam kapal transit di selat itu pada hari Minggu, menurut Kpler.
Serangan yang meningkat menimbulkan keraguan terhadap masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu yang bertujuan untuk membuka kembali selat tersebut dan mengakhiri perang setelah perundingan selama 60 hari.
Pasokan minyak global meningkat sebesar 4,1 juta barel per hari pada bulan Juni setelah perjanjian tersebut, namun tetap 9,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang, Badan Energi Internasional mengatakan dalam laporan bulanannya pada hari Jumat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas komersial, meskipun Iran menyatakan sebelumnya bahwa mereka telah menutup jalur air tersebut setelah sebuah kapal melakukan rute yang tidak sah dan tertabrak.
Goldman Sachs memperkirakan bahwa perluasan kapasitas pipa di Timur Tengah dapat melindungi lebih dari 60% ekspor minyak Teluk sebelum perang dari gangguan Hormuz di masa depan pada akhir tahun 2028.
Baca Juga: AS dan Iran Saling Serang, Teheran Kembali Tutup Selat Hormuz
Perkiraan kasus dasar bank tersebut mengasumsikan kapasitas pipa yang melewati Hormuz akan meningkat sebesar 3,8 juta barel per hari pada akhir tahun 2027 dan secara kumulatif sebesar 7,3 juta barel per hari pada akhir tahun 2028, menjadikan total kapasitas bypass efektif menjadi lebih dari 14 juta barel per hari pada akhir tahun 2028.
Pasokan minyak Iran yang disimpan di laut meningkat setelah Teheran meningkatkan ekspor selama perjanjian perdamaian sementara dengan AS. Namun, penjualan melambat karena penyulingan independen China beralih ke minyak mentah yang lebih murah dari Irak, UEA, dan Qatar.
Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi menetapkan harga jual resmi minyak mentah Murban pada bulan Agustus sebesar US$ 80,01 per barel, katanya pada hari Senin, turun dari US$ 101,48 per barel pada bulan sebelumnya.














