Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam serangkaian serangan rudal dan drone berskala besar. Pada Minggu (12/7), Teheran meluncurkan serangan ke fasilitas-fasilitas milik AS di sejumlah negara Teluk dan menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Gelombang kekerasan terbaru ini semakin memperbesar ketidakpastian terhadap masa depan kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu. Perjanjian tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah 60 hari negosiasi lanjutan.
Serangan terbaru menjadi bagian dari siklus saling balas antara kedua negara, seiring upaya Iran memperkuat kontrol atas lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Namun, intensitas dan jangkauan serangan kali ini meningkat dibandingkan sebelumnya.
Iran memperluas serangannya hingga ke Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator dalam perundingan gencatan senjata dan belum pernah menjadi sasaran sejak April. Uni Emirat Arab, yang terakhir kali diserang pada awal Mei, menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Baca Juga: Iran Gencarkan Serangan ke Pangkalan AS di Negara Teluk, Ancam Selat Hormuz
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan operasi serangan baru terhadap Iran dimulai pada pukul 17.00 waktu setempat pada Minggu. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, militer AS menyebut operasi itu dilakukan untuk "terus melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz secara bebas."
Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengatakan kepada CNN bahwa pesawat tempur AS berhasil menembak jatuh satu rudal jelajah Iran dan sebuah drone bunuh diri.
Dalam wawancara singkat dengan Reuters pada Minggu sore, Presiden AS Donald Trump menyinggung serangan akhir pekan terhadap Iran.
"Kami sedang menghajar mereka," ujar Trump.
Media Iran melaporkan terjadi serangan rudal dan ledakan di sekitar kota pelabuhan Sirik dan Bandar Abbas, lokasi sejumlah fasilitas militer yang berada di sekitar Selat Hormuz, serta Pulau Qeshm.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS selama akhir pekan dan menyebutnya sebagai tindakan "agresif". Pemerintah Iran juga mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman di Muscat pada Sabtu lalu, yang berfokus pada pengaturan pengelolaan Selat Hormuz dan jalur transit, gagal mencapai kesepakatan akibat tekanan AS terhadap Oman, baik secara "terbuka maupun terselubung".
Dalam sepekan terakhir, Trump menyatakan dirinya menganggap gencatan senjata telah berakhir, meski tetap membuka peluang untuk melanjutkan perundingan.
Baca Juga: Bursa Saham Eropa Dibuka Melemah Tertekan Konflik AS-Iran yang Memanas Lagi
Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di platform X:
"Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memperingatkan: tepati janji Anda atau bayar harganya. Kenyataan kini mengetuk pintu."
Perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk. Iran juga melancarkan serangan ke sejumlah negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Blokade efektif Iran terhadap Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga energi dan memperparah tekanan inflasi global. Lonjakan harga, terutama bensin, menjadi isu politik yang sensitif bagi Trump menjelang pemilu Kongres AS pada November mendatang.
Iran Perketat Kontrol Selat Hormuz
Iran berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebelum perang pecah, jalur tersebut mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Teheran telah memperingatkan seluruh kapal agar tidak melintas tanpa izin resmi. Pada Sabtu malam, Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran itu setelah melepaskan tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang melintas di rute tidak sah.
Pada Minggu, Iran kembali mengklaim telah melumpuhkan kapal kedua.
Pemerintah India melaporkan seorang warga negaranya hilang setelah serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman. Sementara itu, Oman menyebutkan 23 awak kapal berhasil diselamatkan.
Qatar mengimbau seluruh kapal, termasuk kapal rekreasi, kapal nelayan, dan jet ski, untuk menghentikan sementara aktivitas mereka.
Otoritas Selat Teluk Persia, lembaga baru yang dibentuk Iran, menyatakan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz saat ini tidak dapat dilakukan akibat "pergerakan ilegal terbaru pasukan militer Amerika Serikat di kawasan". Otoritas tersebut menambahkan bahwa izin pelayaran baru akan diterbitkan setelah "stabilitas dan ketenangan dipulihkan".
Di sisi lain, AS menegaskan bahwa Iran tidak memiliki kendali atas Selat Hormuz.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 1,92%: Investor Waspadai Konflik Timur Tengah
"Iran tidak menguasai selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," demikian pernyataan pemerintah AS.
Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS juga kembali menegaskan bahwa, meskipun ancaman keamanan meningkat tajam, jalur alternatif di bagian selatan dekat Oman masih tersedia untuk lalu lintas dua arah.
Serangan Meluas ke Negara-Negara Teluk
Pada Sabtu, CENTCOM menyatakan pasukan AS telah menyerang 140 target militer Iran. Dalam tiga malam terakhir, lebih dari 300 sasaran disebut telah dihantam untuk "melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi selat secara bebas."
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghancurkan pusat komando dan hanggar drone di Yordania, menyerang situs radar AS serta sistem peluncur roket di Kuwait, menargetkan fasilitas pendukung kapal induk dan pengisian bahan bakar AS di Oman, serta menghancurkan pusat perawatan jet tempur dan fasilitas komando di Qatar.
Qatar, yang sebelumnya menyatakan tidak akan bertindak sebagai mediator selama wilayahnya diserang, melaporkan tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan proyektil. Doha menegaskan Iran "sepenuhnya bertanggung jawab secara hukum" atas serangan tersebut.
Uni Emirat Arab mengatakan pihaknya mendeteksi ancaman rudal di luar wilayah perbatasannya. Bahrain mengaku berhasil mencegat sejumlah serangan udara Iran, sementara Yordania melaporkan serangan rudal dan Oman menyatakan wilayahnya menjadi sasaran drone.
Militer Kuwait kemudian melaporkan adanya kerusakan akibat serangan tersebut. Serangan terhadap sebuah anjungan pengeboran minyak juga dilaporkan menyebabkan seorang pekerja terluka.
Pemerintah Oman menyatakan telah memanggil duta besar Iran untuk menyampaikan protes atas serangan drone di dua wilayahnya. Kedutaan Besar AS di Oman juga mengimbau warga negaranya di Duqm dan Musandam untuk berlindung di tempat masing-masing.














