Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (24/6/2026), memperpanjang tren penurunan pekan ini.
Sentimen pasar dipengaruhi harapan bahwa arus pengiriman minyak melalui Strait of Hormuz akan kembali lancar setelah muncul perkembangan positif dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Emas Spot Sentuh Level Terendah Sejak 11 Juni Rabu (24/6), Dolar AS Jadi Penekan
Mengutip Reuters, kontrak Brent Crude turun 37 sen atau 0,5% menjadi US$76,71 per barel pada pukul 00.43 GMT. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) melemah 36 sen atau 0,5% menjadi US$72,85 per barel.
Kedua acuan minyak tersebut telah turun hampir 1% pada perdagangan Selasa (23/6) dan sempat menyentuh level terendah sejak awal Maret 2026.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah pemerintah AS memberikan pengecualian sanksi selama 60 hari kepada Iran menyusul putaran awal pembicaraan damai.
Kebijakan itu membuka peluang bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar internasional. Selain itu, meredanya konflik di Lebanon turut mengurangi premi risiko geopolitik di pasar energi.
Baca Juga: Inflasi Sektor Jasa Jepang Bertahan 3,3%, Sinyal BoJ Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi
"Harga minyak mentah terbebani oleh harapan meredanya ketegangan antara AS dan Iran serta pemulihan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz," kata Tomomichi Akuta, Senior Economist di Mitsubishi UFJ Research and Consulting.
Menurutnya, jika negosiasi terkait program nuklir Iran menunjukkan kemajuan lebih lanjut, harga minyak berpotensi kembali ke level sebelum konflik pecah.
Pada Selasa, pemerintah Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan mengenai tata kelola navigasi di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa upaya Iran mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintas akan bertentangan dengan hukum internasional.
Meski demikian, pasar masih mencermati keberlanjutan kesepakatan tersebut. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu. Namun, pemerintah Iran membantah telah memberikan konsesi tersebut dalam negosiasi.
Baca Juga: Petronas Temukan Cadangan Migas Baru di Lepas Pantai Suriname
Investor juga memantau seberapa cepat produsen minyak di Timur Tengah dapat memulihkan ekspor mereka dan apakah lebih banyak kapal tanker akan kembali memasuki kawasan tersebut.
Sumber militer Iran mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa sejumlah kapal kini telah diizinkan melintasi Selat Hormuz setiap hari di bawah koordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Data pelacakan kapal menunjukkan tiga kapal tanker raksasa (supertanker) yang sebelumnya tertahan berhasil melintasi selat tersebut pada Selasa.
Sementara itu, badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan proses evakuasi ratusan kapal yang terjebak di kawasan Teluk sedang berlangsung menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Lesu: Saham Chip Rontok, Investor Waspadai The Fed
Dari sisi fundamental, data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 765.000 barel pada pekan yang berakhir 19 Juni.
Namun, hasil survei Reuters terhadap sembilan analis memperkirakan penurunan stok minyak AS mencapai sekitar 4,5 juta barel pada periode yang sama.
Penurunan persediaan minyak biasanya menjadi faktor pendukung harga. Namun untuk saat ini, sentimen geopolitik dan prospek kelancaran pasokan melalui Selat Hormuz masih menjadi fokus utama pelaku pasar.














