Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (23/6). Indeks Nasdaq dan S&P 500 mencatat penurunan tajam setelah saham-saham teknologi dan semikonduktor mengalami aksi jual besar-besaran.
Investor mulai mencermati besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan perusahaan teknologi, terutama karena sebagian pendanaan berasal dari penerbitan utang.
Di saat yang sama, pasar juga bersiap menghadapi kemungkinan kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang lebih ketat.
Mengutip laporan Reuters, indeks Dow Jones turun 47,22 poin atau 0,09% ke level 51.665,49. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,44% menjadi 7.365,47 dan Nasdaq Composite merosot 2,21% ke posisi 25.587,04.
Baca Juga: Wall Street Temukan Formula Baru untuk Menangani IPO Raksasa
Saham Semikonduktor Jadi Sorotan
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor turun 7,9%, sedangkan indeks teknologi informasi S&P 500 melemah 3,7%.
Beberapa saham chip besar mencatat penurunan cukup dalam, seperti Nvidia yang turun 4,1%, Intel melemah 5,8%, sementara AMD dan Marvell Technology kehilangan lebih dari 9%.
Saham Alphabet, induk Google, juga turun 1%.
Selain itu, produsen chip memori Micron Technology dan SanDisk masing-masing anjlok sekitar 13%. Padahal kedua saham tersebut termasuk yang berkinerja terbaik di S&P 500 sepanjang tahun ini.
Pasar kini menunggu laporan keuangan Micron yang akan dirilis pekan ini. Hasilnya dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai prospek industri chip memori dan AI ke depan.
Baca Juga: SK Hynix Akhirnya Pilih Nasdaq untuk IPO AS, Ternyata Ini Alasannya
Investor Mulai Pertanyakan Belanja AI
Dalam dua tahun terakhir, saham teknologi melesat berkat optimisme terhadap perkembangan AI.
Namun, investor kini mulai mempertanyakan besarnya investasi yang dikeluarkan perusahaan untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI.
Kekhawatiran muncul karena sebagian ekspansi tersebut dibiayai melalui penerbitan obligasi atau utang.
SpaceX yang baru melantai di bursa bulan ini juga termasuk perusahaan yang menggalang dana melalui pasar obligasi. Meski begitu, saham SpaceX masih naik 1% setelah sebelumnya melemah selama tiga sesi beruntun.
Baca Juga: China Bersiap Sambut Tren IPO Antariksa Usai Rekor SpaceX
Fokus ke Suku Bunga dan Inflasi
Selain isu AI, pasar juga memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar kini mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih dari satu kali hingga akhir tahun.
Ekspektasi tersebut meningkat dibandingkan beberapa pekan lalu ketika investor hanya memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga.
Perhatian berikutnya tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index yang akan dirilis Kamis.
Data ini merupakan indikator inflasi pilihan The Fed dan dapat memengaruhi keputusan suku bunga ke depan.
Baca Juga: 2 Emiten Ini Dukung Penyiaran Piala Dunia 2026, Cek Profil Saham WIFI dan IRSX
Gejolak Geopolitik Turut Membayangi
Sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan situasi Timur Tengah. Investor masih memantau proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Di tengah berbagai ketidakpastian tersebut, indeks volatilitas CBOE atau VIX naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Kondisi ini menunjukkan kehati-hatian investor mulai meningkat.
Meski sektor teknologi tertekan, sebagian dana mengalir ke sektor yang lebih defensif. Sektor consumer staples menjadi yang terbaik pada perdagangan hari itu dengan kenaikan 1,8%.
Bagi investor, pergerakan Wall Street saat ini menunjukkan bahwa pasar mulai lebih selektif terhadap saham-saham AI dan teknologi yang sebelumnya mengalami kenaikan sangat tinggi.
Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan perusahaan chip, data inflasi AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Baca Juga: Cek Profil ACES: Raksasa Ritel Ini Siap Tebar Dividen dengan Yield 9,7%














