Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) tumbuh stabil pada Februari. Namun, lonjakan tajam harga input pabrik memunculkan risiko kenaikan inflasi di tengah kebijakan tarif impor dan lonjakan harga energi.
Institute for Supply Management (ISM) melaporkan Senin (2/3/2026), indeks manufaktur (PMI) berada di level 52,4 pada Februari, sedikit turun dari 52,6 pada Januari.
Baca Juga: Pentagon: Operasi ke Iran Bukan “Perang Tanpa Akhir”
Angka ini tetap berada di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi dan menjadi bulan kedua berturut-turut sektor ini tumbuh.
Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan PMI turun ke 51,8.
Harga Input Melonjak
Indeks harga yang dibayar (prices paid) melonjak tajam ke 70,5, level tertinggi sejak Oktober 2022 dari 59,0 pada Januari. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 60,0.
Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan biaya akibat tarif impor serta lonjakan harga produsen barang, tidak termasuk makanan dan energi.
Dengan waktu pengiriman pemasok yang semakin lama (supplier deliveries index naik ke 55,1 dari 54,4), tekanan harga berpotensi berlanjut.
Baca Juga: Apple Inc. Luncurkan iPhone 17e, Harga Mulai US$599 dengan Storage 256GB
Dampak Tarif dan Geopolitik
Kebijakan tarif luas yang diberlakukan Presiden Donald Trump terus membebani sektor manufaktur, yang menyumbang sekitar 10,1% terhadap perekonomian AS.
Mahkamah Agung AS sebelumnya membatalkan tarif darurat yang diberlakukan berdasarkan undang-undang keadaan darurat nasional.
Namun, pemerintahan Trump kemudian menerapkan tarif global 10% selama 150 hari sebagai pengganti, dan mengumumkan kenaikan menjadi 15%.
Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik turut memperburuk tekanan harga energi. AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada akhir pekan, memicu lonjakan harga minyak dan gas serta gangguan pengiriman di Selat Hormuz.
Pesanan dan Tenaga Kerja
Subindeks pesanan baru (new orders) turun ke 55,8 dari 57,1 pada Januari yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2022.
Meski demikian, pesanan tertunda (backlog orders) meningkat dan ekspor relatif stabil.
Baca Juga: Harga Gas Eropa dan Asia Meroket Hampir 50% Setelah Qatar Hentikan Produksi LNG
Sementara itu, lapangan kerja manufaktur masih lesu. Indeks ketenagakerjaan naik tipis ke 48,8 dari 48,1, tetap di bawah level 50 yang menandakan kontraksi.
ISM mencatat perusahaan cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja dan menahan perekrutan untuk mengelola jumlah tenaga kerja.
Sejak Januari 2025, sektor manufaktur telah kehilangan sekitar 83.000 pekerjaan dan belum menunjukkan kebangkitan signifikan seperti yang diharapkan dari kebijakan tarif.
Namun, sebagian segmen teknologi dalam manufaktur mendapatkan dorongan dari percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) serta pembangunan pusat data.
Selain itu, legislasi pajak yang menjadikan bonus depreciation permanen diperkirakan dapat menopang aktivitas manufaktur sepanjang tahun ini.













