kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.805   24,00   0,14%
  • IDX 8.944   10,63   0,12%
  • KOMPAS100 1.232   5,76   0,47%
  • LQ45 871   5,51   0,64%
  • ISSI 324   1,29   0,40%
  • IDX30 443   -0,12   -0,03%
  • IDXHIDIV20 519   3,03   0,59%
  • IDX80 137   0,70   0,51%
  • IDXV30 144   1,20   0,84%
  • IDXQ30 142   0,53   0,37%

PMI Manufaktur AS Desember 2025 Melorot, Sinyal Kontraksi 10 Bulan


Senin, 05 Januari 2026 / 22:23 WIB
PMI Manufaktur AS Desember 2025 Melorot, Sinyal Kontraksi 10 Bulan
ILUSTRASI. USA-ECONOMY/ (REUTERS/Joe White)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) terkontraksi lebih dalam dari perkiraan pada Desember 2025, memperpanjang fase pelemahan menjadi 10 bulan berturut-turut.

Pelemahan ini dipicu oleh penurunan pesanan baru serta tekanan biaya input yang masih tinggi, di tengah dampak berkelanjutan tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Ruben Amorim Dipecat, Manchester United Masuk Siklus Pencarian Manajer Baru Lagi

Melansir Reuters Senin (5/1/2026), Institute for Supply Management (ISM) melaporkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur turun ke level 47,9 pada Desember, terendah sejak Oktober 2024, dari posisi 48,2 pada November.

Angka PMI di bawah 50 menandakan kontraksi sektor manufaktur, yang menyumbang sekitar 10,1% terhadap perekonomian AS.

Hasil ini lebih lemah dibandingkan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yang memproyeksikan PMI relatif stabil di kisaran 48,4.

Meski demikian, ISM mencatat PMI masih berada di atas level 42,3, ambang batas yang secara historis masih konsisten dengan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Sebelumnya, ekonomi AS tumbuh solid 4,3% secara tahunan (annualized) pada kuartal III-2025.

Baca Juga: Harga Tembaga Tembus Rekor US$ 13.000 per Ton Usai Aksi Mogok Tambang Chile

Meski aktivitas kuartal IV diperkirakan tertekan akibat penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah, para ekonom memperkirakan pertumbuhan akan kembali menguat pada 2026, ditopang pemangkasan pajak serta lonjakan investasi teknologi kecerdasan buatan (AI).

Namun di luar sektor-sektor yang terdongkrak oleh boom AI, kebijakan tarif impor Trump dinilai terus menekan industri manufaktur.

Meski Trump menyebut tarif diperlukan untuk memperkuat basis industri domestik, para ekonom menilai pemulihan manufaktur ke masa kejayaannya sulit terwujud karena masalah struktural, termasuk kekurangan tenaga kerja.

Tekanan tersebut diperkirakan akan memasuki fase krusial pada awal 2026, seiring Mahkamah Agung AS dijadwalkan memutuskan legalitas dasar kebijakan tarif Trump.

Menurut Yale Budget Lab, kebijakan tersebut telah mendorong tarif rata-rata impor AS mendekati 17%, melonjak tajam dari kurang dari 3% sebelum Trump kembali menjabat pada Januari lalu.

Baca Juga: Saham Perusahaan Minyak AS Meroket Pasca Trump Bidik Cadangan Venezuela

Dalam sidang November, para hakim Mahkamah Agung sempat menyuarakan keraguan atas pendekatan Trump, memicu spekulasi bahwa tarif bisa dibatalkan dan memaksa pemerintah mengubah strategi dagang.

Dari sisi permintaan, indeks pesanan baru (new orders) ISM tercatat 47,7 pada Desember, relatif stagnan dibandingkan November di 47,4. Ini menandai bulan keempat berturut-turut penurunan permintaan, dengan indeks tersebut terkontraksi dalam 10 dari 11 bulan terakhir.

ISM mencatat kenaikan harga sejumlah barang akibat tarif turut menekan permintaan.

Sementara itu, tekanan inflasi dari sisi biaya produksi masih bertahan. Indeks harga dibayar (prices paid) ISM tidak berubah di level 58,5, lebih tinggi dari perkiraan pasar di 57,0.

Baca Juga: Serangan AS di Venezuela Picu Lonjakan Emas, FTSE 100 Bergerak di 9.969 Poin

Tingginya biaya input ini menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi AS masih bertahan di atas target 2% Federal Reserve.

Di tengah lemahnya permintaan, sektor manufaktur juga terus mengurangi tenaga kerja. I

ndeks ketenagakerjaan manufaktur ISM menunjukkan penurunan untuk bulan ke-11 berturut-turut, menjadi periode kontraksi terpanjang dalam sekitar lima tahun terakhir.

Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) juga menunjukkan jumlah pekerja manufaktur pada November turun ke level terendah sejak Maret 2022.

Selanjutnya: Wall Street Dibuka Hijau Senin (5/1), Saham Energi Naik Usai Operasi AS di Venezuela

Menarik Dibaca: 7 Barang di Ruang Tamu yang Sebaiknya Dijauhkan Jika Punya Hewan Peliharaan




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×