kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.803   22,00   0,13%
  • IDX 8.946   12,64   0,14%
  • KOMPAS100 1.232   5,29   0,43%
  • LQ45 869   4,16   0,48%
  • ISSI 324   1,22   0,38%
  • IDX30 443   0,00   0,00%
  • IDXHIDIV20 518   2,23   0,43%
  • IDX80 137   0,63   0,46%
  • IDXV30 145   1,35   0,94%
  • IDXQ30 142   0,44   0,31%

Harga Tembaga Tembus Rekor US$ 13.000 per Ton Usai Aksi Mogok Tambang Chile


Senin, 05 Januari 2026 / 21:40 WIB
Harga Tembaga Tembus Rekor US$ 13.000 per Ton Usai Aksi Mogok Tambang Chile
ILUSTRASI. Tembaga (REUTERS/Fabian Bimmer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga tembaga melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah dan menembus US$ 13.000 per ton pada perdagangan Senin (5/1/2-26), didorong kekhawatiran pasokan global menyusul aksi mogok kerja di tambang tembaga Chile, proyeksi defisit pasar, serta rendahnya stok di gudang London Metal Exchange (LME).

Melansir Reuters, harga tembaga acuan di LME sempat naik hingga 4,4% ke US$ 13.020 per ton, melampaui rekor sebelumnya di US$ 12.960 yang tercatat pada 29 Desember. Hingga pukul 13.50 GMT, tembaga diperdagangkan di level US$ 13.006 per ton.

Baca Juga: Saham Perusahaan Minyak AS Meroket Pasca Trump Bidik Cadangan Venezuela

Lonjakan ini terjadi hanya dua pekan setelah harga tembaga untuk pertama kalinya menembus level US$ 12.000 per ton pada 23 Desember.

Di Amerika Serikat, harga tembaga Comex juga melonjak 4,6% ke rekor US$ 5,90 per pon.

Pelaku pasar menyebutkan, sentimen penguatan harga dipicu aksi mogok kerja di tambang tembaga dan emas Mantoverde milik Capstone Copper di Chile utara.

Tambang tersebut diperkirakan memproduksi 29.000–32.000 ton tembaga per tahun.

Meski kontribusi Mantoverde relatif kecil dibandingkan total produksi tembaga global yang diproyeksikan sekitar 24 juta ton tahun ini, gangguan tersebut memperkuat ekspektasi defisit pasokan.

Baca Juga: Presiden Korsel Buka Babak Baru Hubungan Korea-China, Tandai Pemulihan Penuh di 2026

“Kami memproyeksikan pertumbuhan permintaan tembaga 2026 sekitar 3%, sementara pertumbuhan pasokan tembaga olahan kurang dari 1%. Ini berpotensi menciptakan defisit 300.000–400.000 ton pada 2026, yang bisa melebar menjadi sekitar 500.000 ton pada 2027,” tulis analis UBS dalam catatannya.

Penguatan harga tembaga juga didorong oleh penurunan tajam stok di gudang LME. Saat ini, persediaan tembaga LME tercatat 142.550 ton, turun sekitar 55% sejak akhir Agustus.

Sebagian besar tembaga yang keluar dari sistem LME mengalir ke Amerika Serikat (AS), di tengah ketidakpastian kebijakan tarif impor tembaga.

Meski tembaga sempat mendapat pengecualian dari bea masuk yang berlaku mulai 1 Agustus, tinjauan tarif masih berlangsung.

Sementara itu, harga aluminium turut menguat. Aluminium sempat menyentuh US$ 3.077,50 per ton, level tertinggi sejak April 2022, dipicu kekhawatiran pasokan akibat pembatasan produksi China sebesar 45 juta ton per tahun.

“Selama 20 tahun terakhir, harga LME pada dasarnya ditentukan oleh biaya modal di China. Kini pasar mulai mempertimbangkan kebutuhan belanja modal di wilayah lain seperti Indonesia,” ujar Presiden Wittsend Commodity Advisors, Gregory Wittbecker.

Baca Juga: Serangan AS di Venezuela Picu Lonjakan Emas, FTSE 100 Bergerak di 9.969 Poin

Pada perdagangan terakhir, aluminium naik 2,1% ke US$ 3.076,50 per ton. Seng menguat 2,1% menjadi US$ 3.193,50, timbal naik 0,6% ke US$ 2.018, nikel menguat 0,6% ke US$ 16.910, dan timah melonjak 5% ke US$ 42.440 per ton.

Lonjakan tajam harga timah disebut dipicu aksi penutupan posisi short (short covering) di tengah volume perdagangan yang relatif tipis.

Selanjutnya: Konsumsi Bensin Periode Nataru 2025/2026 Hanya Naik 0,9%, Ini Alasannya

Menarik Dibaca: 7 Barang di Ruang Tamu yang Sebaiknya Dijauhkan Jika Punya Hewan Peliharaan




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×