kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.801   20,00   0,12%
  • IDX 8.946   12,64   0,14%
  • KOMPAS100 1.232   5,29   0,43%
  • LQ45 869   4,16   0,48%
  • ISSI 324   1,22   0,38%
  • IDX30 443   0,00   0,00%
  • IDXHIDIV20 518   2,23   0,43%
  • IDX80 137   0,63   0,46%
  • IDXV30 145   1,35   0,94%
  • IDXQ30 142   0,44   0,31%

Presiden Korsel Buka Babak Baru Hubungan Korea-China, Tandai Pemulihan Penuh di 2026


Senin, 05 Januari 2026 / 20:51 WIB
Presiden Korsel Buka Babak Baru Hubungan Korea-China, Tandai Pemulihan Penuh di 2026
ILUSTRASI. SOUTHKOREA-POLITICS/LEE ( REUTERS/Kim Hong-Ji). Presiden Korsel Lee Jae Myung bertemu Xi Jinping di Beijing, membuka fase baru hubungan bilateral dengan fokus pada kerja sama ekonomi.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - BEIJING/SEOUL. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyatakan ingin membuka "fase baru" dalam hubungan dengan China setelah bertemu Presiden Xi Jinping, dalam kunjungan pertamanya ke Beijing sejak menjabat pada Juni lalu.

“Pertemuan puncak ini akan menjadi kesempatan penting untuk menjadikan 2026 sebagai tahun pertama pemulihan penuh hubungan Korea-China,” kata Lee. “Saya yakin upaya pengembangan kerja sama strategis dan kemitraan kedua negara menjadi tren yang tak terelakkan akan terus berlanjut.”

Ini merupakan pertemuan kedua Lee dengan Xi hanya dalam dua bulan, menandakan minat besar Beijing untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan pariwisata dengan Seoul, terutama saat hubungan China dengan Jepang, ekonomi besar lainnya di Asia Timur, berada pada titik terendah dalam beberapa tahun akibat perselisihan kebijakan terkait Taiwan.

Baca Juga: Babak Baru Panasnya Laut China Selatan: AS dan Filipina Bentuk Satgas Perang!

Xi mengingatkan, “Lebih dari 80 tahun lalu, China dan Korea Selatan melakukan pengorbanan besar dan memenangkan kemenangan melawan militerisme Jepang. Kedua negara harus menjaga perdamaian dan stabilitas di Asia Timur.”

Menjelang kunjungan ini, Korea Utara meluncurkan sedikitnya dua rudal balistik, peluncuran pertamanya dalam dua bulan terakhir. Pemimpin Kim Jong Un menyebut hal ini diperlukan untuk mempertahankan kemampuan nuklir yang kuat.

Xi juga menekankan bahwa situasi internasional semakin kacau dan kompleks, sehingga China dan Korea Selatan harus membuat “pilihan strategis yang tepat.” Komentar ini mengisyaratkan keinginan Beijing agar Seoul berpihak pada China, bukan Amerika Serikat, dalam isu lintas selat terkait Taiwan.

Penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama dan Ekspansi Ekonomi

Dalam pertemuan ini, kedua negara menandatangani 15 kesepakatan, termasuk di bidang teknologi, hak kekayaan intelektual, dan transportasi. 

Baca Juga: Korsel Pacu Proyek Kapal Selam Nuklir, Asia Masuk Babak Baru Perlombaan Senjata

Sementara itu, sembilan kesepakatan bisnis ditandatangani antara perusahaan China dan Korea Selatan, termasuk Alibaba International, Lenovo, dan ritel Korea Shinsegae.

Lee, yang terpilih dalam pemilu mendadak pada Juni, berjanji memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat tanpa menimbulkan ketegangan dengan China, sekaligus berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara.

Beijing sendiri sejak mengalami ketegangan dengan Jepang, semakin giat mempererat hubungan dengan Seoul. Xi menegaskan, kedua negara “harus menjaga kepentingan inti dan perhatian utama masing-masing, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan konsultasi.”

Lee tiba di Beijing pada Minggu lalu untuk kunjungan kenegaraan selama empat hari, didampingi delegasi lebih dari 200 pemimpin bisnis Korea, termasuk Ketua Samsung Electronics Jay Y. Lee, Ketua SK Group Chey Tae-won, dan Ketua Eksekutif Hyundai Euisun Chung.

Baca Juga: Presiden Korsel Minta Bantuan Xi Jinping Hidupkan Kembali Dialog dengan Korea Utara

Presiden Korea menekankan perlunya memperluas kerja sama ekonomi dalam kecerdasan buatan, serta peluang kolaborasi di barang konsumen seperti produk rumah tangga, kosmetik, makanan, dan konten budaya seperti film, musik, game, dan olahraga.

Namun, Kepala Staf Presiden Korea, Kang Hoon-sik, menyatakan dalam wawancara radio bahwa Beijing kemungkinan belum akan mencabut larangan tidak resmi terkait budaya Korea dalam waktu dekat.

Kedua negara diperkirakan juga akan membahas investasi rantai pasokan, ekonomi digital, dan pertukaran budaya selama kunjungan Lee, menurut laporan CCTV, stasiun penyiaran resmi China.
 

Selanjutnya: Meski Lesu, Saham Big Caps LQ45 Masih Punya Peluang Bangkit di 2026

Menarik Dibaca: 7 Barang di Ruang Tamu yang Sebaiknya Dijauhkan Jika Punya Hewan Peliharaan


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×