Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) meningkat pada Maret, meski harga bahan baku melonjak ke level tertinggi hampir empat tahun terakhir dan pemasok membutuhkan waktu lebih lama untuk pengiriman akibat perang di Timur Tengah.
Melansir Reuters berdasarkan data Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis Rabu (1/4/2026), Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS naik menjadi 52,7 pada Maret, tertinggi sejak Agustus 2022, dari 52,4 di Februari.
Baca Juga: Trump Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, AS Tunggu Selat Hormuz Dibuka
Ini menandai bulan ketiga berturut-turut PMI berada di atas level 50, yang menandakan ekspansi. Sebelumnya, ekonom memperkirakan PMI hanya akan sedikit berubah di angka 52,5.
Sebagian kenaikan indeks ini dipengaruhi oleh melambatnya pengiriman pemasok, yang biasanya berkorelasi dengan permintaan konsumen yang meningkat.
Namun, dalam konteks saat ini, keterlambatan pengiriman justru menandakan gangguan pada rantai pasok.
Perang AS-Israel dengan Iran memicu pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang membuat harga minyak dunia melonjak lebih dari 50% sejak akhir Februari. Selain itu, pengiriman pupuk dan aluminium juga terdampak.
Indeks pengiriman pemasok ISM naik menjadi 58,9 dari 55,1 pada Februari; nilai di atas 50 menunjukkan pengiriman yang lebih lambat.
Baca Juga: Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin
Dengan terganggunya rantai pasok, manufaktur membayar lebih mahal untuk bahan baku. Indeks harga bahan baku ISM meningkat ke 78,3, tertinggi sejak Juni 2022, dari 70,5 pada Februari, mencerminkan lonjakan harga barang produsen.
Ekonom memperkirakan konflik ini akan mendorong inflasi sepanjang tahun, yang berpotensi menghambat Federal Reserve menurunkan suku bunga.
Bank sentral AS sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, dengan proyeksi inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan hanya satu kali penurunan suku bunga pada 2026.
Meski PMI meningkat, tarif impor tetap menjadi kendala bagi sektor manufaktur yang menyumbang 10,1% dari ekonomi AS.
Baca Juga: Petinggi The Fed: Kebijakan Moneter AS Tetap Tepat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Pertumbuhan sektor ini belum sejalan dengan harapan Presiden Trump terkait kebangkitan industri melalui kebijakan tarif impor, yang sempat dibatalkan Mahkamah Agung AS. Trump kemudian mengumumkan tarif global.
Indeks sub-komponen pesanan baru ISM turun menjadi 53,5 dari 55,8 pada Februari, sementara pertumbuhan backlog pesanan melambat.
Pekerjaan di sektor manufaktur juga tetap lemah, dengan penurunan 100.000 pekerjaan sejak Januari 2025.













