kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin


Rabu, 01 April 2026 / 22:27 WIB
Wall Street Menghijau Ditopang Harapan Redanya Perang Iran, Saham Teknologi Memimpin
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street menguat pada perdagangan Rabu (1/4/2026), didorong membaiknya sentimen pasar setelah muncul harapan konflik di Timur Tengah segera mereda. 

Optimisme ini muncul usai pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut perang dengan Iran berpotensi segera berakhir.

Pada pukul 10.03 waktu AS bagian timur, indeks Dow Jones naik 313,24 poin atau 0,68% ke 46.650,95.

Indeks S&P 500 bertambah 44,60 poin atau 0,68% menjadi 6.573,12, sedangkan Nasdaq Composite menguat 221,30 poin atau 1,03% ke 21.811,93.

Baca Juga: Wall Street Melonjak, Ditopang Spekulasi Penurunan Ketegangan Perang Timur Tengah

Kenaikan ini melanjutkan reli besar sehari sebelumnya yang menjadi salah satu yang terbesar dalam hampir setahun terakhir.

Trump menyatakan AS akan mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dekat, meski tetap membuka opsi serangan terbatas jika diperlukan. Ia juga dijadwalkan menyampaikan pidato nasional pada malam hari waktu setempat.

Namun pelaku pasar tetap berhati-hati. Senior portfolio manager Dakota Wealth, Robert Pavlik, mengingatkan bahwa pasar sempat beberapa kali bereaksi berlebihan terhadap perkembangan konflik yang belum pasti.

Di tengah sentimen positif tersebut, saham sektor teknologi kembali menjadi penopang utama. Indeks saham teknologi naik 1,1% untuk hari kedua berturut-turut.

Saham produsen chip memimpin penguatan, dengan Philadelphia Semiconductor Index melonjak 3,1%.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Dipicu Meluasnya Perang di Timur Tengah

Saham Intel melesat 7,8% setelah perusahaan mengumumkan rencana membeli kembali saham milik Apollo di pabriknya di Irlandia senilai US$14,2 miliar.

Sementara itu, saham produsen memori seperti Micron Technology, SanDisk, dan Western Digital naik 6%–9%. Penguatan ini terjadi setelah analis menilai kekhawatiran pasar terhadap teknologi kompresi AI TurboQuant terlalu berlebihan.

Di sisi lain, sektor energi tertekan seiring turunnya harga minyak hingga 3%. Indeks energi di S&P 500 pun merosot 3,4% ke level terendah dalam lebih dari sepekan.

Saham maskapai justru melonjak, dengan subindeks S&P untuk maskapai penumpang naik 3,2%. Saham sektor pertahanan juga pulih, mendorong sektor industri menjadi salah satu penguat terbesar di S&P 500.

Indeks volatilitas CBOE atau fear index Wall Street turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan, mencerminkan meredanya kekhawatiran investor.

Dari sisi data ekonomi, laporan ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta tetap solid pada Maret.

Sementara itu, data Departemen Perdagangan mencatat penjualan ritel Februari naik 0,6%, lebih tinggi dari ekspektasi 0,5%. Indeks manufaktur ISM Maret tercatat 52,3, sejalan dengan perkiraan.

Pelaku pasar kini menanti data tenaga kerja nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat, meski pasar AS akan tutup karena libur Good Friday.

Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini mulai memudar.

Kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi sebelumnya membuat pasar menghapus proyeksi pelonggaran, setelah sempat memperkirakan dua kali pemangkasan.

Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah, Dipicu Meluasnya Perang di Timur Tengah

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menegaskan belum melihat urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga dalam waktu dekat, sejalan dengan pandangan pejabat bank sentral lainnya.

Di sisi korporasi, saham Nike anjlok 13,5% ke level terendah dalam satu dekade setelah memproyeksikan penurunan penjualan kuartal keempat secara tak terduga. Penurunan ini menahan penguatan sektor konsumer diskresioner.

Selain itu, Hasbro turun 3,8% setelah mengungkap tengah menyelidiki insiden keamanan siber.

Secara keseluruhan, saham yang naik lebih banyak dibanding yang turun, dengan rasio 2,29:1 di NYSE dan 2,42:1 di Nasdaq.

S&P 500 mencatat empat saham menyentuh level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara sembilan saham menyentuh level terendah. Di Nasdaq, tercatat 39 saham mencapai rekor tertinggi baru dan 63 saham di posisi terendah.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×