Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amazon mengonfirmasi pemangkasan sekitar 16.000 pekerjaan korporasi, melengkapi rencana pengurangan hampir 30.000 karyawan sejak Oktober lalu.
Perusahaan masih membuka peluang adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan.
Meski jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total 1,58 juta karyawan Amazon yang mayoritas bekerja di pusat pemenuhan dan gudang, angka ini mencakup hampir 10% dari tenaga kerja korporasi perusahaan.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Amazon tengah menyiapkan gelombang kedua PHK sebagai bagian dari strategi efisiensi yang lebih luas.
Baca Juga: ASML Cetak Rekor Pemesanan Baru, Mencapai € 13,2 miliar di Kuartal IV-2025
Kepala Sumber Daya Manusia Amazon Beth Galetti mengatakan pemangkasan ini diperlukan untuk memperkuat organisasi dengan “mengurangi lapisan manajemen, meningkatkan rasa kepemilikan, dan memangkas birokrasi”.
Dalam pernyataannya, Galetti juga tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian lanjutan di sejumlah tim.
“Beberapa tim akan terus melakukan penyesuaian seperlunya,” ujarnya pada Rabu (18/1/2026).
Ini menjadi gelombang PHK besar kedua dalam tiga bulan, setelah Amazon memangkas sekitar 14.000 pekerjaan pada Oktober lalu.
Saat itu, perusahaan menyebut meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) serta perubahan budaya kerja sebagai faktor pendorong.
Amazon juga mengakui telah melakukan perekrutan berlebihan selama pandemi COVID-19, ketika lonjakan belanja daring mendorong ekspansi agresif.
Baca Juga: Harga Minyak Ada di Level Tertinggi 4 Bulan, Imbas Pelemahan Dolar dan Badai di AS
Menanggapi kekhawatiran karyawan, Galetti menegaskan bahwa PHK berkala bukanlah pola baru perusahaan.
“Ini bukan rencana kami,” katanya, menepis anggapan bahwa Amazon akan rutin mengumumkan pengurangan tenaga kerja setiap beberapa bulan.
Sebelumnya, Amazon sempat memicu kegelisahan internal setelah secara tidak sengaja mengirim email kepada sebagian staf Amazon Web Services (AWS) yang merujuk rencana PHK dengan nama sandi “Project Dawn”.
Dorongan AI dan Perubahan Struktur Kerja
Pemangkasan ini menegaskan bagaimana kecerdasan buatan mengubah dinamika tenaga kerja korporasi.
Peningkatan kapabilitas asisten AI memungkinkan perusahaan mengotomatisasi berbagai tugas mulai dari pekerjaan administratif hingga pemrograman kompleks dengan kecepatan dan presisi tinggi.
Baca Juga: UPDATE Rabu (28/1): Dolar AS Mulai Stabil, Pasar Beralih Fokus ke The Fed
CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya menyatakan bahwa penggunaan AI yang semakin luas akan mendorong otomatisasi dan berujung pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja kantoran.
Isu ini juga mengemuka dalam pertemuan tahunan World Economic Forum di Davos pekan lalu. Sejumlah eksekutif mengatakan bahwa meski sebagian pekerjaan akan hilang, jenis pekerjaan baru juga akan muncul.
Namun, dua sumber menyebut kepada Reuters bahwa AI kerap dijadikan pembenaran bagi perusahaan yang memang sudah merencanakan pemangkasan.
Amazon bukan satu-satunya. Raksasa teknologi lain seperti Meta Platforms dan Microsoft juga melakukan restrukturisasi setelah ekspansi besar-besaran selama pandemi.
Baca Juga: Harga Emas Naik di Atas US$ 5.300 per Ons Seiring Melemahnya Dolar AS
Sebagai bagian dari penataan ulang bisnisnya, Amazon juga mengumumkan penutupan seluruh gerai fisik Fresh grocery dan Go Markets yang tersisa, menandai mundurnya perusahaan dari strategi toko ritel fisik.
Di sisi lain, Amazon terus meningkatkan investasi robotika di gudang untuk mempercepat pengemasan dan pengiriman, sekaligus menekan biaya dan ketergantungan pada tenaga kerja manusia.
Saham Amazon, yang dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan kuartalan pekan depan, naik kurang dari 1% pada perdagangan pre-markets.













