kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%

UPDATE Rabu (28/1): Dolar AS Mulai Stabil, Pasar Beralih Fokus ke The Fed


Rabu, 28 Januari 2026 / 17:20 WIB
UPDATE Rabu (28/1): Dolar AS Mulai Stabil, Pasar Beralih Fokus ke The Fed
ILUSTRASI. Dolar AS (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mulai menemukan pijakan pada Rabu (28/1/2026) setelah mengalami aksi jual tajam, seiring Presiden AS Donald Trump terkesan mengabaikan pelemahan mata uang tersebut.

Sementara itu, laporan kinerja keuangan perusahaan yang solid menjaga bursa saham global bertahan di dekat rekor tertinggi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.

Meski dolar bergerak menjauh dari posisi terendah dalam empat tahun, sentimen pasar tetap rapuh menyusul aksi jual terdalam sejak kebijakan tarif agresif Trump mengguncang pasar pada April lalu.

Baca Juga: Ilmuwan Hong Kong Luncurkan Model AI untuk Prediksi Cuaca Ekstrem

Pasar saham Eropa melemah, sementara kontrak berjangka saham AS mengindikasikan pembukaan positif di Wall Street.

Di Asia, indeks unggulan Jepang Nikkei menguat tipis. Indeks saham global MSCI World bertahan di sekitar level tertinggi sepanjang masa.

“Pekan lalu, ketika terjadi arus keluar dari aset-aset AS secara umum, kita melihat saham melemah, obligasi pemerintah tertekan, dan dolar jatuh. Sekarang, ceritanya lebih terfokus pada dolar,” ujar Kepala Analis Pasar Nordea, Jan von Gerich.

“Hal paling menarik dari pertemuan The Fed malam ini adalah kemungkinan Jerome Powell akan menyampaikan pandangan terkait tekanan politik, karena sejauh ini ia selalu menghindarinya,” tambahnya.

The Fed diperkirakan menahan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang dibayangi berbagai isu politik, termasuk penyelidikan pidana pemerintahan Trump terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, upaya untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan pengganti Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.

Baca Juga: Harga Emas Naik di Atas US$ 5.300 per Ons Seiring Melemahnya Dolar AS

Pergerakan Valas

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama, naik 0,25% ke level 96,16 setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 1% hingga menyentuh titik terendah empat tahun.

Trump pada Selasa (27/1) mengatakan nilai dolar “sangat bagus” ketika ditanya apakah ia menilai dolar telah melemah terlalu jauh.

Meski pernyataan tersebut bukan hal baru, pelaku pasar menafsirkannya sebagai sinyal untuk melanjutkan tekanan jual terhadap dolar, terutama di tengah kekhawatiran potensi intervensi terkoordinasi AS dan Jepang untuk menstabilkan yen.

Baca Juga: Virus Nipah India Ancam Asia Tenggara, Singapura Ketatkan Pengawasan

Pelemahan dolar sebelumnya mendorong euro menembus level US$1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, mengangkat dolar Australia sempat menembus US$0,70 ke level tertinggi tiga tahun, membawa emas ke rekor baru, serta mengerek harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar.

“Biasanya pejabat akan merespons pergerakan mata uang yang terlalu tajam. Namun ketika Presiden justru terlihat acuh atau bahkan mendukungnya, hal itu mendorong para penjual dolar semakin agresif,” kata Steve Englander, Kepala Riset Valuta G10 Global di Standard Chartered, New York.

Laporan Kinerja Perusahaan

ASML, pemasok peralatan semikonduktor terbesar dunia, melaporkan pemesanan kuartal keempat yang melampaui ekspektasi pasar, mencerminkan kuatnya permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Saham ASML melonjak 5%, mengungguli pergerakan pasar Eropa yang relatif datar.

Di Wall Street, selain menanti keputusan The Fed, investor juga bersiap menghadapi rilis laporan keuangan perusahaan teknologi besar, dengan Meta Platforms dan Tesla dijadwalkan mengumumkan kinerja setelah penutupan pasar.

Baca Juga: Singapura Terapkan Pemeriksaan Suhu di Bandara Imbas Wabah Virus Nipah di India

Dolar yang lebih lemah turut mengangkat aset lain, mendorong harga emas menembus rekor baru di atas US$5.280 per ons troi dan minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi empat bulan di atas US$68 per barel.

Di Asia, inflasi Australia yang lebih tinggi dari perkiraan pada Desember memicu ekspektasi kenaikan suku bunga secepatnya pekan depan. Bank ANZ dan Westpac merevisi proyeksi mereka, sehingga seluruh bank besar Australia kini memperkirakan kenaikan suku bunga.

Sementara itu, pasar saham Indonesia anjlok 7% setelah penyedia indeks MSCI menyatakan keprihatinan atas kepemilikan dan aktivitas perdagangan yang dinilai tidak transparan, serta menghentikan pembaruan data saham Indonesia dalam produk indeksnya yang menjadi acuan investor global.

Selanjutnya: Merespons Kabar Soal IPO Unit Usaha Syariah, CIMB Niaga: Masih Fokus Spin Off

Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan! Promo Alfamart Serba Gratis Berakhir 31 Januari 2026




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×