Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Tim ilmuwan di Hong Kong mengembangkan sistem prakiraan cuaca berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu memprediksi badai petir dan hujan lebat hingga empat jam sebelumnya, jauh lebih lama dibandingkan metode saat ini yang hanya berkisar 20 menit hingga dua jam.
Sistem ini diharapkan dapat membantu pemerintah dan layanan darurat merespons cuaca ekstrem secara lebih efektif, seiring meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Harga Emas Naik di Atas US$ 5.300 per Ons Seiring Melemahnya Dolar AS
Hal tersebut disampaikan tim peneliti dari Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) pada Rabu (28/1/2026).
“Kami berharap dapat memanfaatkan AI dan data satelit untuk meningkatkan prediksi cuaca ekstrem sehingga masyarakat bisa lebih siap menghadapinya,” ujar Su Hui, profesor dan ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan HKUST yang memimpin proyek tersebut.
Model AI ini dirancang khusus untuk memprediksi hujan deras. Dalam paparannya, Su menjelaskan sistem tersebut menggunakan teknik generative AI dengan menyuntikkan “noise” ke dalam data pelatihan, sehingga model belajar membalikkan proses tersebut untuk menghasilkan prakiraan yang lebih presisi.
Dikembangkan bersama otoritas meteorologi China, sistem ini memperbarui prakiraan setiap 15 menit dan diklaim mampu meningkatkan akurasi prediksi lebih dari 15%.
Penelitian ini dinilai krusial mengingat jumlah topan dan periode hujan basah yang melanda Hong Kong serta wilayah China selatan sepanjang 2025 jauh melampaui rata-rata musiman.
Observatorium Hong Kong mencatat, sepanjang tahun lalu kota tersebut mengeluarkan peringatan hujan badai tertinggi sebanyak lima kali dan peringatan level kedua tertinggi sebanyak 16 kali, keduanya merupakan rekor baru.
Baik Administrasi Meteorologi China maupun Observatorium Hong Kong saat ini tengah mengupayakan integrasi model AI tersebut ke dalam sistem prakiraan cuaca resmi.
Baca Juga: Virus Nipah India Ancam Asia Tenggara, Singapura Ketatkan Pengawasan
Kerangka AI baru ini diberi nama Deep Diffusion Model based on Satellite Data (DDMS). Model tersebut dilatih menggunakan data suhu kecerahan inframerah yang dikumpulkan satelit Fengyun-4 milik China pada periode 2018–2021.
Menurut Su, satelit mampu mendeteksi pembentukan awan lebih awal dibandingkan sistem prakiraan lain seperti radar.
Data satelit tersebut kemudian dipadukan dengan keahlian meteorologi untuk menangkap evolusi sistem awan konvektif, dan divalidasi menggunakan sampel data musim semi dan panas tahun 2022 serta 2023.













