Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat (19/6) dan berada di jalur penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut.
Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta sikap hawkish bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Baca Juga: Norwegia Larang Perdagangan Barang dari Permukiman Israel di Wilayah Palestina
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,5% menjadi US$ 4.145,02 per ons troi pada pukul 11.07 GMT. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 11 Juni di US$ 4.119,78 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah 1,9% ke level US$ 4.163,20 per ons troi.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan.
Analis Pasar Senior Tradu.com Nikos Tzabouras mengatakan, emas menghadapi risiko penurunan lebih dalam hingga memasuki fase bearish dan bahkan berpotensi turun di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi.
Baca Juga: Iran Hapus Biaya Transit di Selat Hormuz Selama 60 Hari, Kapal Transit Wajib Izin
"Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama dari The Fed menjadi sentimen negatif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, sekaligus mendukung penguatan dolar AS," ujar Tzabouras.
Pada Rabu (17/6), The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat pembuat kebijakan memperkirakan masih diperlukan kenaikan suku bunga tahun ini untuk mengendalikan inflasi.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang.
Menurut Tzabouras, arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Ketidakpastian geopolitik juga masih membayangi pasar. Pemerintah Swiss menyatakan pembicaraan antara pejabat AS dan negosiator Iran terkait upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah tidak akan berlangsung pada Jumat, setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana kunjungannya ke negara tersebut.
Di sisi lain, bank investasi Goldman Sachs memangkas proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$ 4.900 per ons troi dari sebelumnya US$ 5.400 per ons troi.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Anjlok 9% dalam Sepekan, Kesepakatan Iran AS Picu Surplus Pasokan
Meski demikian, Goldman masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.
"Prospek struktural emas tetap konstruktif, tetapi dalam jangka pendek risiko penurunannya masih cukup besar," tulis Goldman Sachs dalam laporannya.
Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 1,8% menjadi US$ 64,61 per ons troi, platinum melemah 1,8% ke US$ 1.665,07 per ons troi, dan paladium terkoreksi 1,9% menjadi US$ 1.254,16 per ons troi.
Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penurunan mingguan pada pekan ini.













