Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menghentikan aksi saling serang serta kembali menempuh jalur diplomasi, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Melansir Reuters, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 1,11% menjadi 102.950 yuan per ton atau sekitar US$ 15.145,50 per ton hingga pukul 03.30 GMT.
Baca Juga: China Batasi Ekspor ke 20 Entitas Jepang, Singgung Ambisi Remiliterisasi Tokyo
Sementara itu, kontrak acuan tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,13% menjadi US$ 13.374,50 per ton, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 0,67% pada awal perdagangan.
Seorang pejabat AS pada Minggu (28/6) mengatakan Iran dan AS telah sepakat menghentikan eskalasi konflik terbaru di kawasan Teluk serta kembali melanjutkan pembicaraan mengenai sengketa di Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan tercapainya perdamaian sementara.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak, memicu inflasi, dan menekan sentimen risiko di pasar keuangan global.
Selain itu, pelemahan dolar AS yang berlanjut untuk hari keempat berturut-turut turut menopang harga komoditas.
Baca Juga: Jalur Inggris ke Final Piala Dunia 2026: Berpotensi Hadapi Brasil dan Argentina
Dolar yang lebih lemah membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.
Meski demikian, mata uang AS masih berada di dekat level tertinggi dalam satu tahun yang sempat dicapai pada 24 Juni lalu.
Dari China, data resmi yang dirilis Sabtu (27/6) menunjukkan pertumbuhan laba perusahaan industri masih berada di level dua digit, meski lajunya melambat pada Mei.
Berdasarkan data National Bureau of Statistics (NBS) China, laba perusahaan industri naik 21,1% secara tahunan pada Mei, lebih rendah dibandingkan kenaikan 24,7% pada April.
Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, laba industri meningkat 18,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 18,2% pada periode Januari-April.
Baca Juga: Ringgit Pimpin Reli Mata Uang Asia Senin (29/6), Rupiah Berhasil Menanjak
Kinerja sektor pertambangan dan pengolahan bijih logam nonferrous menjadi sorotan dengan lonjakan laba sebesar 93,9% sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Namun, sektor manufaktur hilir masih menghadapi tekanan.
Di pasar SHFE, logam dasar lainnya juga bergerak bervariasi. Harga aluminium naik 0,48%, seng melonjak 2,01%, timah menguat 0,97%, sementara timbal turun 0,43% dan nikel melemah tipis 0,05%.
Sementara di LME, aluminium naik 0,14%, seng menguat 0,71%, timbal bertambah 0,13%, nikel naik 0,69%, dan timah menguat 0,71%.














