Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Perekonomian China kehilangan momentum pada awal paruh kedua 2026. Pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel melambat pada Juli, di tengah gangguan cuaca ekstrem dan lemahnya permintaan domestik yang kembali meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk memperkuat stimulus ekonomi.
Data yang mengecewakan tersebut dirilis setelah pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II-2026 melambat ke level terendah dalam tiga setengah tahun. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan China terhadap ekspor untuk mengimbangi lemahnya konsumsi dan investasi domestik.
Pada saat yang sama, perekonomian China menghadapi tekanan dari tarif Amerika Serikat (AS) serta dampak konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (NBS), produksi industri pada Juli 2026 hanya tumbuh 4,5% secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan tersebut melambat dari 5,3% pada Juni dan berada di bawah perkiraan jajak pendapat Reuters sebesar 4,8%.
Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, mengatakan lemahnya kinerja ekonomi China antara lain menunjukkan belum efektifnya penggunaan berbagai kebijakan yang telah tersedia.
Baca Juga: Produksi Baja China Juli Turun ke Level Terendah Tahun Ini
“Performa yang buruk ini sebagian disebabkan oleh penggunaan kebijakan yang tersedia belum efektif. Pengeluaran fiskal, misalnya, masih tertinggal,” kata Xu.
Menurut dia, pemerintah China perlu mengambil langkah yang lebih berani dalam meningkatkan belanja.
“Ini menjadi seruan bagi para pejabat untuk lebih berani membelanjakan anggaran yang mereka miliki,” ujarnya.
Xu juga menyoroti persoalan investasi yang mengalami penurunan tajam.
“Perhatian harus diberikan kepada investasi, karena penurunan tajam investasi sama sekali tidak dapat diterima oleh Beijing,” tambahnya.
Investasi dan Konsumsi China Melemah
Investasi aset tetap China turun 6,7% dalam tujuh bulan pertama 2026. Angka tersebut lebih buruk dibandingkan perkiraan penurunan sebesar 6% dan memperlebar kontraksi dari periode Januari-Juni yang mencapai 5,7%.
Juru bicara NBS Fu Linghui mengatakan pemerintah akan meningkatkan penyesuaian kebijakan countercyclical untuk memperkuat permintaan domestik.
Namun, mendorong kembali konsumsi masyarakat China yang berjumlah sekitar 1,4 miliar orang bukan perkara mudah. Salah satu hambatan utama berasal dari sektor properti yang masih mengalami tekanan.
Harga rumah baru di China pada Juli turun 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan turun 0,1% dibandingkan Juni.
Kondisi tersebut menjadi penting karena sektor properti memiliki peran besar dalam kekayaan rumah tangga China. Para ekonom memperkirakan sekitar 52% kekayaan rumah tangga China masih terkait dengan aset properti.
Porsi tersebut memang telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, krisis properti yang berlangsung panjang telah mendorong investor mengalihkan sebagian dana mereka ke emas dan aset lainnya.
Baca Juga: Trump Perintahkan Pengurangan Latihan Militer AS-Korea Selatan
Cuaca Ekstrem Tekan Aktivitas Industri
Selain lemahnya permintaan domestik, perekonomian China juga menghadapi hambatan yang berada di luar kendali pemerintah, yakni cuaca ekstrem.
Aktivitas produksi industri diperkirakan terdampak cuaca ekstrem yang lebih aktif dari biasanya pada Juli. Tiga topan mendarat di China dan menyebabkan jutaan orang harus direlokasi di sejumlah pusat manufaktur di wilayah timur dan selatan negara tersebut.
Penjualan ritel juga menunjukkan perlambatan. Pertumbuhannya hanya mencapai 0,6% YoY pada Juli, turun dari pertumbuhan 1% pada Juni dan jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 1,5%.
Perlambatan tersebut terjadi meskipun periode musim panas biasanya memberikan dorongan terhadap aktivitas pariwisata dan konsumsi masyarakat.
Pemerintah China selama ini mengandalkan subsidi tukar tambah untuk mendorong pembelian mobil, peralatan rumah tangga dan barang tahan lama lainnya.
Namun, analis Citi mencatat laju penyaluran subsidi kembali melemah pada Juli. Rata-rata penjualan harian turun menjadi 6,3 miliar yuan atau sekitar US$934,8 juta, dari 9 miliar yuan pada Juni.
Penjualan mobil bahkan telah mengalami kontraksi selama 10 bulan berturut-turut hingga Juli, meskipun laju penurunannya mulai melambat.
Kondisi tersebut kontras dengan permintaan eksternal yang masih relatif kuat. Produsen otomotif China semakin mengincar pasar luar negeri untuk mengimbangi lemahnya permintaan di dalam negeri.
Baca Juga: Produksi Batubara China Anjlok 10,1% pada Juli, Terendah Sejak 2021
Ekspor Jadi Penopang Ekonomi China
Sejumlah indikator ekonomi yang telah dirilis menunjukkan awal kuartal III-2026 yang masih lemah.
Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur resmi China secara tak terduga masuk ke zona kontraksi. Sementara itu, pertumbuhan ekspor dan impor juga melambat dibandingkan Juni, meskipun keduanya masih mencatat pertumbuhan dua digit.
Ekspor yang kuat, didukung pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global, masih menjadi salah satu penopang utama aktivitas pabrik China.
Namun, lemahnya permintaan domestik menjadi risiko besar bagi perekonomian China. Ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor membuat ekonomi China lebih rentan terhadap guncangan eksternal, termasuk gangguan cuaca dan hambatan perdagangan.
China kembali mencatat surplus perdagangan lebih dari US$100 miliar pada Juli. Dengan perkembangan tersebut, surplus perdagangan sepanjang 2026 berpotensi menembus US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut.
Besarnya surplus perdagangan China terus menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah mitra dagangnya.
Uni Eropa tengah mempertimbangkan langkah yang lebih ketat untuk mengurangi defisit perdagangan dengan China. Sementara itu, AS telah mengumumkan tarif baru terhadap sejumlah barang asal China.
Baca Juga: Bursa Global Menguat, Dolar Tertekan karena Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mereda
China Siapkan Kebijakan Tambahan
Para pemimpin China sebelumnya telah berkomitmen untuk menopang perekonomian yang melambat dengan mempercepat belanja fiskal dan memperkenalkan kebijakan baru “secara tepat waktu”.
Namun, hingga saat ini pemerintah China belum memberikan sinyal mengenai paket stimulus besar yang baru.
Perkembangan data ekonomi Juli tersebut berpotensi meningkatkan tekanan kepada pemerintah untuk mengambil langkah lebih agresif dalam menopang permintaan domestik.
Tantangan utama Beijing kini adalah menghidupkan kembali konsumsi dan investasi tanpa semakin memperbesar ketergantungan ekonomi terhadap ekspor.
Dengan lemahnya sektor properti, penurunan investasi, perlambatan konsumsi serta meningkatnya tekanan perdagangan global, kemampuan pemerintah China dalam mengoptimalkan kebijakan fiskal dan stimulus akan menjadi faktor penting bagi kinerja ekonomi pada paruh kedua 2026.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
