Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/SEOUL. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Pentagon untuk mengurangi secara signifikan latihan militer bersama dengan Korea Selatan. Keputusan tersebut disebut berkaitan dengan tingginya biaya latihan serta sikap Seoul yang dinilai enggan terlibat dalam upaya AS menghadapi Iran.
Perintah itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (16/8/2026), hanya beberapa jam sebelum latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan dijadwalkan dimulai.
Trump mengaku tidak senang AS tetap mengikuti latihan militer tersebut. Ia juga menyinggung hubungannya yang disebut sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
"Saya tidak senang bahwa kami telah sepakat untuk berpartisipasi," tulis Trump, seraya menyoroti hubungannya dengan Kim Jong Un.
Trump menilai latihan militer AS-Korea Selatan tidak hanya membutuhkan biaya besar, tetapi juga dapat mengirimkan sinyal yang tidak tepat kepada Korea Utara.
Baca Juga: Produksi Batubara China Anjlok 10,1% pada Juli, Terendah Sejak 2021
"Latihan-latihan ini tidak hanya mahal, tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama Donald J. Trump menjadi Presiden, tidak mengancam dan bersikap hormat," tulis Trump.
Latihan AS-Korea Selatan Tetap Berjalan
Latihan militer gabungan tahunan Ulchi Freedom Shield dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus. Sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan dijadwalkan ambil bagian dalam latihan tersebut.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengonfirmasi bahwa latihan dimulai pada Senin sesuai jadwal.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan tengah meninjau pernyataan Trump. Seoul berharap hubungan antara Trump dan Kim Jong Un dapat membuka peluang dialog yang lebih berarti antara AS dan Korea Utara.
"Kami berharap hubungan persahabatan antara para pemimpin AS dan Korea Utara akan mengarah pada dialog yang bermakna antara kedua negara, membuka pembicaraan yang bertujuan memajukan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea," kata Kantor Kepresidenan Korea Selatan.
Seoul juga menegaskan bahwa kedua negara sekutu akan tetap melakukan koordinasi mengenai postur pertahanan bersama dan latihan militer.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons klaim Trump bahwa Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menolak bergabung dalam upaya AS untuk melakukan denuklirisasi Iran.
Menurut Seoul, pemerintah Korea Selatan masih membahas kemungkinan kontribusi militer dalam upaya tersebut. Namun, keputusan itu juga mempertimbangkan kesiapan pertahanan di Semenanjung Korea serta prosedur hukum domestik.
Pentagon menyerahkan pertanyaan mengenai pernyataan Trump kepada Gedung Putih. Gedung Putih belum memberikan tanggapan lebih lanjut.
Hubungan Trump dan Korea Selatan Naik Turun
Hubungan AS dan Korea Selatan selama pemerintahan Trump memang kerap diwarnai perbedaan pandangan. Trump sebelumnya berulang kali mendorong pengurangan atau penghentian latihan militer bersama kedua negara.
Baca Juga: Bursa Global Menguat, Dolar Tertekan karena Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Mereda
Perselisihan juga terjadi terkait pembagian biaya untuk penempatan sekitar 28.500 tentara AS di Korea Selatan serta peran pasukan tersebut dalam menjaga keamanan kawasan.
Di sisi lain, Korea Utara secara rutin mengecam latihan militer AS-Korea Selatan dan menyebutnya sebagai persiapan untuk melakukan invasi.
Korea Utara bahkan meluncurkan rudal balistik dari pantai timurnya menuju Laut Jepang pada pekan lalu, hanya beberapa hari setelah peluncuran rudal balistik jarak pendek sebelumnya.
Jenny Town, kepala program 38 North di Stimson Center, menilai keputusan Trump dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk menciptakan peluang diplomatik dengan Pyongyang.
"Keputusan ini mungkin merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk menciptakan peluang diplomatik dengan Pyongyang, seperti yang secara konsisten diinginkan Trump sejak kembali menjabat, meskipun sifat langkah yang tidak terencana ini kemungkinan tidak akan memberikan kesan besar di Pyongyang," ujar Town.
Hubungan Trump dengan Kim Jong Un sendiri mengalami pasang surut selama beberapa tahun terakhir.
Trump pernah mengejek Kim dengan sebutan "manusia roket kecil" dan mengancam Korea Utara dengan "api dan kemurkaan". Kim kemudian membalas dengan menyebut Trump sebagai orang Amerika yang mengalami gangguan mental dan mengancam akan "menjinakkannya dengan api".
Meski demikian, kedua pemimpin tersebut kemudian menggelar tiga pertemuan tingkat tinggi. Trump bahkan pernah mengatakan, "kami saling jatuh cinta" setelah keduanya bertukar surat.
Namun, rangkaian pertemuan tersebut belum menghasilkan perubahan berarti terhadap program senjata nuklir maupun pengembangan rudal balistik Korea Utara.
Trump Soroti Sikap Seoul terhadap Iran
Di tengah pernyataannya mengenai Korea Utara, Trump juga mengaitkan kebijakan Korea Selatan dengan konflik AS-Israel dan Iran.
Trump mengatakan dirinya baru-baru ini meminta Presiden Lee Jae Myung mempertimbangkan untuk bergabung dengan AS dalam upaya denuklirisasi Iran.
"Meski agak tidak berkaitan, saya baru-baru ini bertanya kepada Presiden Korea Selatan apakah mereka ingin bergabung dengan kami dalam denuklirisasi Republik Islam Iran, dan mereka menjawab, 'Tidak, terima kasih!'" tulis Trump.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Terkoreksi Senin (17/8), Saham Bank dan Ritel Anjlok
Korea Selatan menyatakan pihaknya masih mempertimbangkan kemungkinan kontribusi militer sembari memperhatikan kebutuhan mempertahankan kesiapan pertahanan di Semenanjung Korea.
Latihan Militer Bergeser ke Simulasi Komputer
Belum diketahui secara pasti bentuk pengurangan latihan yang diinginkan Trump. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, latihan militer AS dan Korea Selatan memang telah bergeser dari latihan dengan penggunaan peluru tajam menuju simulasi berbasis komputer.
Victor Cha, kepala program Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai Trump kemungkinan ingin meningkatkan pengaruh AS terhadap Korea Utara.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian Washington adalah keterlibatan Korea Utara dalam mendukung Rusia dalam perang di Ukraina.
"Cara lain untuk melihat hal ini adalah bahwa Trump ingin melibatkan Kim sebagai cara untuk menghambat hubungan Rusia-Korea Utara," kata Cha.
Pejabat militer AS sebelumnya menyatakan bahwa pasukan Korea Utara yang bertempur bersama Rusia dalam invasi ke Ukraina telah memperoleh pengalaman dari konflik tersebut.
Ukraina juga menyatakan pada pekan lalu bahwa rudal buatan Korea Utara digunakan dalam serangan rudal balistik Rusia terhadap sebuah pabrik baja di Zaporizhzhia.
Ancaman dari Korea Utara juga masih menjadi perhatian Washington. Letnan Jenderal Joseph Jarrard, pejabat senior Komando Utara AS, memperingatkan pada pekan lalu bahwa Korea Utara telah berhasil menguji rudal balistik antarbenua dengan "daya dorong yang cukup untuk membawa hulu ledak nuklir ke mana pun di Amerika Utara."
Perselisihan Ekonomi AS-Korea Selatan
Selain faktor keamanan, hubungan AS dan Korea Selatan juga menghadapi persoalan ekonomi.
Trump selama ini menuntut Korea Selatan menanggung porsi biaya pertahanan yang lebih besar. Namun, seorang pejabat AS pada tahun ini menyebut Seoul sebagai "sekutu teladan" yang berkomitmen meningkatkan belanja pertahanan sesuai strategi regional Washington.
Baca Juga: Ekonomi China Melambat, Output Industri dan Penjualan Ritel di Bawah Ekspektasi
Perselisihan ekonomi antara kedua negara juga menjadi perhatian.
Mantan pejabat AS yang bekerja pada pemerintahan pertama Trump mengatakan kepada Reuters bahwa Trump merasa frustrasi terhadap sikap pemerintahan Korea Selatan dalam menangani sejumlah persoalan ekonomi.
"Pemerintahan Lee berulang kali menerapkan kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan perusahaan-perusahaan Amerika dan menunjukkan sedikit minat untuk menindaklanjuti kesepakatan investasi bersejarah dengan Amerika Serikat," ujar mantan pejabat tersebut.
AS dan Korea Selatan tahun lalu menandatangani kesepakatan perdagangan untuk menurunkan tarif otomotif yang diberlakukan Trump. Sebagai imbalannya, Seoul berkomitmen melakukan investasi senilai US$350 miliar di AS.
Namun, hingga kini Korea Selatan belum mengumumkan secara rinci rencana investasi tersebut.
Kedua negara juga berselisih terkait Coupang, perusahaan e-commerce yang terdaftar di AS. Perusahaan tersebut tengah diselidiki oleh pemerintah Korea Selatan terkait kebocoran data dalam skala besar.
Perkembangan tersebut membuat hubungan AS dan Korea Selatan kembali menghadapi tekanan, di tengah upaya Trump membuka kembali jalur komunikasi dengan Korea Utara.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
