kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.819   -23,00   -0,13%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Bursa Australia Ditutup Terkoreksi Senin (17/8), Saham Bank dan Ritel Anjlok


Senin, 17 Agustus 2026 / 14:40 WIB
Bursa Australia Ditutup Terkoreksi Senin (17/8), Saham Bank dan Ritel Anjlok
ILUSTRASI. Australian Securities Exchange (Dok/ASX)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia ditutup melemah pada perdagangan Senin (17/8/2026), tertekan penurunan saham perbankan dan sektor ritel.

Investor mencermati melemahnya permintaan kredit perumahan serta penurunan penjualan ritel yang mengindikasikan tekanan terhadap konsumsi rumah tangga.

Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 ditutup turun 0,5% ke level 9.073,20. Pada perdagangan Jumat (14/8), indeks acuan tersebut telah melemah 0,8%.

Baca Juga: Ekonomi China Melambat, Output Industri dan Penjualan Ritel di Bawah Ekspektasi

Saham National Australia Bank (NAB) menjadi salah satu pemberat utama indeks. Saham bank terbesar ketiga Australia tersebut anjlok 4,6% menjadi A$39,46 per saham, sekaligus mencatat level penutupan terendah sejak 22 Juli.

NAB memangkas proyeksi pertumbuhan kredit perumahan dan menjadi bank terakhir dari kelompok Big Four Australia yang melaporkan penurunan aplikasi kredit perumahan.

"Meski eksposur kredit bisnis NAB tetap menjadi kekuatan struktural, hal tersebut belum cukup untuk mengimbangi melemahnya permintaan kredit perumahan dan meningkatnya pencadangan untuk tekanan hipotek," ujar Managing Director Datt Group Emanuel Ajay Datt.

Keempat bank besar Australia menguasai sebagian besar portofolio kredit perumahan senilai sekitar A$2,4 triliun.

Keempatnya melaporkan perlambatan dua digit dalam aplikasi kredit perumahan setelah perubahan kebijakan pajak yang diumumkan pada Mei.

Saham bank lainnya juga ikut tertekan. Kecuali ANZ yang membukukan penurunan biaya, saham bank-bank besar lainnya turun antara 0,9% hingga 2,6%. Kondisi tersebut menyeret subindeks sektor keuangan turun 1,8%.

Baca Juga: Investasi Sektor Properti China Makin Anjlok

Saham Ritel Tertekan

Tekanan juga datang dari sektor konsumsi. Saham-saham sektor discretionary turun sekitar 3% setelah JB Hi-Fi anjlok lebih dari 12% ke level penutupan terendah sejak awal Juni.

Penurunan tersebut terjadi setelah peritel elektronik itu melaporkan pelemahan penjualan domestik.

Kinerja JB Hi-Fi memicu kekhawatiran bahwa masyarakat Australia mulai mengurangi belanja barang-barang non-esensial di tengah inflasi yang masih tinggi dan biaya pinjaman yang mahal.

"Peritel yang tidak memiliki eksposur kuat pada produk non-diskresioner atau tidak memiliki bantalan margin yang kuat akan menghadapi tekanan berkepanjangan selama inflasi yang persisten terus menekan anggaran rumah tangga," kata Datt.

Sejumlah saham ritel ikut terkoreksi. Super Retail Group turun 6,6%, sementara Harvey Norman melemah 4,6%.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Dolar AS Tertekan Seiring Ekspektasi Suku Bunga The Fed Mereda

Saham Tambang dan Energi Jadi Penopang

Penurunan bursa Australia berhasil sedikit diredam oleh penguatan saham pertambangan dan energi.

Saham sektor pertambangan naik 1,9% seiring kenaikan harga tembaga dan emas.

Sementara saham energi menguat 0,9% setelah harga minyak meningkat di tengah mandeknya perundingan perdamaian di Timur Tengah.

Di pasar saham Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 ditutup turun 1% ke level 13.721,98.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat pada Senin (17/8), di Tengah Keterbatasan Pasokan Global


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×