kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.998   74,00   0,41%
  • IDX 6.148   -94,03   -1,51%
  • KOMPAS100 799   -14,31   -1,76%
  • LQ45 612   -9,30   -1,50%
  • ISSI 212   -3,34   -1,55%
  • IDX30 339   -4,87   -1,42%
  • IDXHIDIV20 427   -2,25   -0,52%
  • IDX80 91   -1,67   -1,79%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,73%
  • IDXQ30 110   -0,92   -0,84%

Pertemuan Trump-Xi Minim Terobosan, AS dan China Masih Terjebak Kebuntuan


Senin, 28 September 2026 / 16:55 WIB
Pertemuan Trump-Xi Minim Terobosan, AS dan China Masih Terjebak Kebuntuan
ILUSTRASI. Pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping di Washington pada pekan lalu belum menghasilkan terobosan besar (via REUTERS/Kenny Holston)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BEIJING/TOKYO/WASHINGTON. Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada pekan lalu belum menghasilkan terobosan besar dalam hubungan kedua negara.

Sejumlah kesepakatan terbatas tercapai, tetapi perbedaan antara Washington dan Beijing masih terlihat dalam sejumlah isu strategis.

Trump sebelumnya berharap pertemuan yang berlangsung dengan rangkaian seremoni kenegaraan tersebut dapat menunjukkan kekuatan hubungan pribadinya dengan Xi. Namun, hasil yang terbatas justru menunjukkan masih lebarnya jarak antara AS dan China dalam sejumlah persoalan utama.

Craig Singleton, direktur senior untuk China di lembaga pemikir berbasis AS Foundation for Defense of Democracies, menilai hubungan kedua negara kini berada dalam kondisi kebuntuan yang terkendali.

"Hubungan AS-China telah menetap dalam kebuntuan yang dikelola," kata Singleton.

Baca Juga: AS-China Sepakati Pemangkasan Tarif Perdagangan Senilai US$60 Miliar

Menurut dia, berbagai seremoni dalam pertemuan tersebut justru menjadi penting karena hanya sedikit kemajuan substantif yang dapat ditampilkan.

"Seremoni yang sangat megah menjadi penting justru karena masih relatif sedikit kemajuan substantif yang dapat ditampilkan," ujarnya.

AS-China Sepakati Penurunan Tarif

Washington dan Beijing menyatakan telah mencapai konsensus untuk menurunkan tarif terhadap barang-barang yang tidak sensitif dengan nilai perdagangan sekitar US$60 miliar. Namun, kedua pihak belum menetapkan jadwal penerapan kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang lebih luas kembali diundur hingga tahun depan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun komunikasi tingkat tinggi antara Trump dan Xi terus berlangsung, kedua negara masih menghadapi berbagai hambatan untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang lebih komprehensif.

Drew Thompson, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, mengatakan pertemuan Trump dan Xi memang menciptakan suasana politik yang positif, tetapi belum mengurangi perbedaan maupun kecurigaan antara kedua negara.

"KTT Trump-Xi menciptakan suasana politik yang positif, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersempit perbedaan atau mengurangi kecurigaan bersama," kata Thompson.

China Dinilai Mendapat Keuntungan Citra

Tidak hadirnya delegasi CEO perusahaan China yang mendampingi Xi juga menjadi sorotan. Menurut sejumlah analis, kondisi ini menunjukkan masih kuatnya kecurigaan AS terhadap investasi China.

Baca Juga: Kasus Manipulasi Saham, Turki Cabut Pembekuan Aset 46 Perusahaan

Hal tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan skema investasi dua arah yang diperkenalkan oleh kedua pemimpin dalam pertemuan di Beijing pada Mei lalu.

Sebelum KTT berlangsung, pejabat Gedung Putih telah menurunkan ekspektasi terhadap hasil pertemuan. Trump dan Xi juga dijadwalkan bertemu dalam forum internasional di Shenzhen dan Miami sebelum akhir tahun.

Joe Mazur, analis geopolitik dari konsultan berbasis Beijing, Trivium, menilai pertemuan tersebut dapat memberikan keuntungan dari sisi citra bagi China.

"Ini merupakan kemenangan hubungan masyarakat bagi China," kata Mazur.

Sejak awal, Trump memberikan sambutan khusus kepada Xi. Hal tersebut cukup menonjol mengingat Trump sebelumnya pernah menuduh China "membunuh Amerika" melalui praktik perdagangan yang tidak adil.

Trump bahkan melanggar protokol dengan menyambut Xi di bandara. Tindakan tersebut menjadi kali pertama dalam 11 tahun seorang presiden AS melakukan hal serupa terhadap pemimpin negara lain.

Dalam jamuan kenegaraan yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah dan para pemimpin perusahaan teknologi, Trump juga memberikan pujian terhadap hubungan pribadinya dengan Xi.

"Kami tidak pernah memiliki hubungan yang lebih baik," kata Trump.

Shen Weizhong, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri China sekaligus wakil presiden lembaga pemikir Global Governance Institution yang berbasis di Beijing, mengatakan sambutan AS terhadap Xi bahkan melampaui ekspektasi China.

"Kesopanan luar biasa yang diberikan pihak Amerika kepada Xi Jinping memenuhi dan bahkan jauh melampaui ekspektasi China," kata Shen.

Menurut Shen, China tidak menganggap sebuah kunjungan kenegaraan harus selalu menghasilkan sejumlah kesepakatan tertentu ataupun penurunan tarif.

"China tidak merasa bahwa sebuah kunjungan harus selalu menghasilkan sejumlah kesepakatan tertentu, penurunan tarif, atau hasil lainnya. Fakta bahwa mereka bertemu, saling mengangguk, dan berjabat tangan saja sudah memiliki arti yang besar," ujarnya.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Naik Lebih dari 2% Setelah Trump Tolak Proposal Damai Iran

China Masih Memiliki Daya Tawar

Para analis menilai Xi juga tidak berada dalam posisi terburu-buru untuk memberikan konsesi kepada Trump.

Dominasi China dalam produksi mineral tanah jarang atau rare earths, yang menjadi bahan penting bagi industri teknologi, otomotif hingga pertahanan, memberikan Beijing sumber daya tawar yang strategis.

Pada saat yang sama, perdagangan China dengan dunia tetap meningkat meskipun Trump memberikan ancaman tarif terhadap produk China.

Trump tetap memperoleh sejumlah hasil dari pertemuan tersebut. Kementerian Perdagangan China pada Senin menyatakan Beijing mengusulkan penurunan tarif terhadap sejumlah produk pertanian AS, mulai dari jagung hingga produk susu.

Sebagai imbalannya, AS akan menurunkan pungutan terhadap sejumlah produk impor dari China, termasuk mainan, kembang api dan ornamen Natal.

Kesepakatan tersebut berpotensi memberikan kabar positif bagi petani AS. Kelompok petani merupakan salah satu basis pemilih penting bagi Trump menjelang pemilihan umum sela atau midterm elections.

Namun, analis komoditas mencatat bahwa kedelai tidak tercantum dalam daftar produk yang akan mendapatkan penurunan tarif dari China. Padahal, kedelai merupakan salah satu komoditas ekspor utama AS.

Dengan demikian, pembelian kedelai China masih berpotensi menjadi alat tawar apabila hubungan kedua negara kembali memburuk.

Isu Taiwan Masih Menjadi Persoalan

Dalam isu geopolitik, China juga belum menunjukkan indikasi kuat untuk membantu Trump mengakhiri perang di Iran yang telah berlarut-larut dan turut menekan tingkat persetujuan publik terhadap presiden AS tersebut.

Baca Juga: Northern Star Tolak Tawaran Akuisisi Gold Fields Senilai US$27,1 miliar

Tidak lama setelah Xi meninggalkan Washington, Wakil Presiden China Han Zheng menyampaikan sikap yang berseberangan dengan AS terkait Iran dan ancaman AS terhadap Kuba dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Xi juga tidak menghindari isu sensitif seperti dukungan AS terhadap Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan demokratis dan diklaim oleh Beijing sebagai bagian dari wilayahnya.

Trump tidak membahas isu Taiwan dalam pernyataan publiknya. Sikap tersebut berbeda dengan pertemuan pada Mei lalu, ketika Trump menyebut paket penjualan senjata senilai US$14 miliar kepada Taiwan sebagai "alat tawar" dalam negosiasi dengan Beijing.

Washington selama ini menilai intensitas pertemuan antara Trump dan Xi penting untuk menjaga hubungan kedua negara tetap stabil. AS dan China merupakan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Namun, menurut Jeremy Chan, analis senior di konsultan risiko politik Eurasia Group, intensitas pertemuan tersebut juga memberikan waktu bagi Beijing untuk menghadapi atau menunda sejumlah kebijakan AS yang tidak diinginkan, termasuk penjualan senjata ke Taiwan.

"Ini merupakan kemenangan strategis besar bagi China dan kerugian besar bagi Taiwan serta banyak sekutu dan mitra AS di kawasan," kata Chan, yang sebelumnya merupakan diplomat AS di China.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×