kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.344   0,00   0,00%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Taiwan Jadi “Taruhan Utama” di KTT Trump-Xi, Dunia Tahan Napas!


Kamis, 30 April 2026 / 07:59 WIB
Taiwan Jadi “Taruhan Utama” di KTT Trump-Xi, Dunia Tahan Napas!
ILUSTRASI. 23 juta warga Taiwan menanti keputusan penting dari pertemuan Trump-Xi. Isu krusial ini bisa mengubah peta politik global. (Ng Han Guan/Pool/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Bagi 23 juta warga Taiwan, pertemuan diplomatik paling menentukan pada 2026 bisa jadi justru pertemuan yang tidak melibatkan mereka.

Saat Presiden AS Donald Trump berkunjung ke Beijing bulan depan, Presiden China Xi Jinping telah menegaskan bahwa isu Taiwan akan menjadi agenda teratas dalam pembicaraan. Ini merupakan perubahan mencolok dibanding pertemuan Trump-Xi di Korea Selatan tahun lalu, ketika Xi sengaja mengesampingkan isu tersebut.

Reuters melaporkan, Taipei akan mencermati setiap sinyal apakah Trump, yang selama ini membuat sejumlah mitra AS resah karena pendekatan transaksional terhadap aliansi, berpotensi melunakkan atau mengubah framing kebijakan AS terkait Taiwan. Hal itu bisa terjadi jika China bersedia membeli pesawat AS atau produk pertanian, sekaligus meredakan tekanan ekonomi.

“Untuk Taiwan, logikanya sederhana: jika AS tidak ingin perang besar dengan China terkait Taiwan, maka AS seharusnya tidak mendukung kemerdekaan Taiwan,” kata Wu Xinbo, dekan Institute of International Studies Universitas Fudan, yang juga menjadi anggota dewan penasihat kebijakan Kementerian Luar Negeri China.

Wu mengatakan Trump tidak punya kepentingan untuk berperang dengan China. Karena itu, untuk menghindari konflik besar yang melibatkan AS, Trump seharusnya memperjelas bahwa ia tidak mendukung kemerdekaan Taiwan atau tindakan yang mendorong agenda separatis.

Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataannya menyebut Taiwan sebagai “inti dari inti kepentingan” China serta “dasar dari dasar politik hubungan China-AS”.

“‘Kemerdekaan Taiwan’ dan perdamaian di Selat Taiwan sama tidak mungkinnya seperti api dan air,” tambah pernyataan tersebut. China juga menyatakan pihaknya dan AS tetap berkomunikasi mengenai rencana kunjungan Trump.

Departemen Luar Negeri AS tidak merespons permintaan komentar.

Baca Juga: Trump Bicara Lewat Telepon dengan Putin Selama 1,5 Jam, Ini yang Dibahas

AS menganut kebijakan “satu China” (one China policy), di mana Washington secara resmi tidak mengambil posisi terkait kedaulatan Taiwan dan hanya mengakui, namun tidak menerima, klaim China yang menyatakan Taiwan adalah bagian dari wilayahnya.

AS menyatakan “tidak mendukung” kemerdekaan Taiwan, namun akan membantu Taiwan mempertahankan kemampuan pertahanan diri.

Taiwan yang menjadi pusat industri semikonduktor dunia juga berada di titik kunci keseimbangan militer di Pasifik Barat. Karena itu, bahkan perubahan kecil dalam pernyataan resmi AS dapat memengaruhi penilaian Beijing mengenai keseriusan dukungan Washington terhadap Taiwan, kata para pakar.

Perubahan tersebut juga dapat mengguncang Taipei dan menimbulkan pertanyaan baru tentang komitmen keamanan AS di Asia.

Pejabat pemerintahan Trump berulang kali mengatakan tidak ada perubahan kebijakan terkait Taiwan, dan secara rutin mengecam tekanan China terhadap pulau tersebut.

Namun secara tertutup, mereka menekankan bahwa Trump telah menyetujui penjualan senjata ke Taiwan jauh lebih besar hanya dalam sedikit lebih dari satu tahun masa jabatan keduanya dibandingkan total penjualan yang dilakukan Presiden Joe Biden selama masa kepemimpinannya.

China Minta AS Ubah Bahasa soal Taiwan

Pada pertemuan puncak dengan Biden pada 2024, Xi meminta agar AS mengubah bahasa kebijakan soal Taiwan menjadi “kami menentang kemerdekaan Taiwan”, dari versi saat ini.

AS menolak melakukan perubahan tersebut.

Orang-orang yang terlibat dalam persiapan kunjungan Trump mengatakan secara pribadi bahwa China terus mengirim sinyal serupa dalam pembahasan tingkat teknis menjelang KTT, namun menolak membahas detail karena sifatnya rahasia.

Pejabat Taiwan, yang pemerintahnya menolak klaim kedaulatan Beijing, kini dalam kondisi siaga tinggi.

“Kami akan mengamati apakah AS akan melakukan perubahan posisi terkait isu Selat Taiwan akibat pertemuan tersebut,” kata Shen Yu-chung, wakil menteri di Mainland Affairs Council Taiwan.

“Kami akan menggunakan sisa waktu yang ada untuk meningkatkan komunikasi kebijakan dengan AS,” tambahnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan Hsiao Kuang-wei mengatakan pekan ini bahwa sejak Trump menjabat, pemerintahannya terus menegaskan kembali dukungannya untuk Taiwan.

Tonton: Subsidi Motor Listrik Segera Digulirkan, Tunggu Terbit PMK

China tidak pernah mencabut opsi penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan. Latihan perang terakhir dilakukan pada akhir Desember, menyusul pengumuman paket penjualan senjata AS senilai US$ 11 miliar untuk Taiwan, yang merupakan paket terbesar sepanjang sejarah.

China Pakai Strategi Wortel dan Tongkat

China menggunakan pendekatan kombinasi menjelang pertemuan itu: menawarkan “manfaat” perdagangan dan pariwisata untuk Taiwan, namun juga melakukan tekanan.

Pekan lalu, Taipei menuduh China menekan tiga negara Afrika untuk memblokir izin penerbangan lintas udara bagi Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam perjalanannya ke Eswatini, sehingga kunjungan itu batal. AS mengecam tindakan China tersebut.

Komitmen AS “Kokoh”

Lai mengatakan Taiwan sudah merupakan negara merdeka bernama Republik China (nama resmi Taiwan). Namun Beijing memandang Lai sebagai pemimpin “separatis” dan tidak sah, yang mendorong Selat Taiwan ke ambang perang.

Diplomat tertinggi AS di Taiwan, Raymond Greene, memberikan jaminan publik bahwa komitmen AS, termasuk di bawah Taiwan Relations Act yang mewajibkan penjualan senjata, tetap “kokoh seperti batu”.

Mantan penasihat Trump, Robert O’Brien, mengatakan Trump tidak akan menjadi “presiden AS pertama yang kehilangan Taiwan”, karena itu bukan warisan yang diinginkan Trump.

Taruhannya bagi AS juga tinggi karena posisi strategis Taiwan. Washington disebut memanfaatkan secara diam-diam radar canggih dan pos penyadapan di pegunungan Taiwan untuk memantau China, menurut sumber keamanan.

“Apakah Amerika Serikat benar-benar ingin kehilangan salah satu lokasi terbaiknya untuk mengumpulkan intelijen tentang China?” kata seorang sumber keamanan Barat, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena isu sensitif.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×