Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya impor energi Italia diperkirakan melonjak signifikan sepanjang 2026 seiring meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Asosiasi produsen bahan bakar nasional Italia, UNEM, memperkirakan nilai tagihan impor energi negara tersebut mendekati €60 miliar tahun ini.
Dalam pertemuan tahunan asosiasi pada Rabu (10/6/2026), Presiden UNEM Gianni Murano menyampaikan bahwa kenaikan biaya impor energi terjadi setelah pada tahun sebelumnya Italia menikmati penurunan tagihan energi.
"Tahun lalu kami memiliki tagihan energi sebesar €48,7 miliar, atau lebih rendah lebih dari €7 miliar dibandingkan 2024. Namun, untuk tahun ini perkiraan kami menunjukkan nilainya dapat meningkat menjadi sekitar €57 miliar hingga €58 miliar," ujar Murano.
Perkiraan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa perang yang melibatkan Iran akan berakhir dalam beberapa bulan mendatang. Meski demikian, dampak konflik terhadap pasar energi global diperkirakan masih akan terasa sepanjang tahun.
Baca Juga: Kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara Perkuat Posisi Kim Jong Un di Panggung Global
UNEM juga memperkirakan biaya impor minyak Italia pada 2026 dapat mencapai sekitar €24 miliar, atau meningkat sekitar €4,5 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Estimasi itu menggunakan asumsi harga rata-rata minyak mentah Brent berada di level US$90 per barel sepanjang 2026.
Lonjakan biaya tersebut tidak lepas dari terganggunya arus distribusi minyak global setelah penutupan Selat Hormuz akibat krisis di Timur Tengah. Sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur pelayaran strategis tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak di pasar global.
Pada perdagangan Rabu, harga minyak relatif stabil. Kontrak berjangka Brent diperdagangkan di kisaran US$91 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berada di sekitar US$88 per barel pada pukul 10.20 GMT.













