Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - MANILA. Pertemuan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela rangkaian pertemuan ASEAN di Manila, Rabu (22/7/2026).
Pertemuan itu diwarnai pembahasan sejumlah isu strategis, mulai dari rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS pada September hingga memanasnya konflik Iran dan ketegangan di Laut China Selatan.
Rubio mengatakan pembicaraannya dengan Wang selama sekitar 90 menit difokuskan pada upaya mempersiapkan kunjungan Xi agar berlangsung positif.
Kedua negara juga sepakat pentingnya mengelola berbagai perbedaan agar tidak berkembang menjadi konflik yang sulit dikendalikan.
Selain itu, keduanya turut membahas perdagangan, Taiwan, dan peluang kerja sama di sejumlah bidang. Tuduhan Presiden AS Donald Trump mengenai dugaan campur tangan China tidak menjadi topik pembahasan.
"Jika Iran serius berunding, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melindungi kepentingan kami dan sekutu kami," tegas Rubio.
Isu Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama dalam forum tersebut. Para menteri luar negeri ASEAN menyampaikan keprihatinan mendalam atas perang yang melibatkan Iran, sementara Rubio menilai Teheran belum menunjukkan keseriusan untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.
Ia juga menegaskan Iran tidak boleh menguasai Selat Hormuz karena dapat menciptakan preseden berbahaya bagi jalur pelayaran strategis di kawasan lain.
Di sisi lain, Laut China Selatan kembali menjadi sumber ketegangan setelah insiden antara kapal penjaga pantai China dan personel Angkatan Laut Filipina awal pekan ini. Insiden tersebut mendorong kedua negara saling memanggil duta besarnya untuk menyampaikan protes diplomatik.
Rubio sebelumnya juga mengkritik sikap Beijing melalui sebuah artikel opini di media Filipina. Ia memperingatkan risiko besar apabila Laut China Selatan berada di bawah kendali negara yang menggunakan perdagangan sebagai alat tekanan geopolitik.
China sendiri terus mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, yang juga menjadi bagian dari zona ekonomi eksklusif Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut insiden terbaru di Laut China Selatan sebagai tindakan yang berisiko dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Namun, Kementerian Luar Negeri China membalas dengan menyatakan Australia tidak memiliki hak untuk mencampuri persoalan tersebut dan meminta negara-negara lain berhenti memicu ketegangan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand menilai kebebasan pelayaran di jalur strategis seperti Selat Hormuz harus tetap dijaga bersamaan dengan upaya mencari penyelesaian damai konflik di Timur Tengah.
Dalam forum yang sama, Wang Yi menegaskan China siap bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk menghilangkan faktor-faktor yang mengganggu stabilitas kawasan.
Ia menekankan pentingnya saling percaya dan saling menghormati agar ASEAN dan China dapat menjadi jangkar perdamaian serta pembangunan regional maupun global.
Di sela kunjungannya ke Manila, Rubio juga dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Kamis (23/7). Pertemuan itu akan membahas perkembangan perang Ukraina dan upaya mencari jalan menuju penyelesaian konflik.
Rubio juga menghadiri pertemuan kelompok Quad bersama India, Australia, dan Jepang, yang selama ini dikritik Beijing karena dianggap mencerminkan pola pikir era Perang Dingin.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
