Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - MANILA. Krisis di Timur Tengah membayangi rangkaian pertemuan diplomatik negara-negara Asia Tenggara di Manila, Filipina, pada Selasa (21/7/2026).
Para menteri luar negeri menyampaikan kekhawatiran serius atas kembali memanasnya konflik yang dinilai menambah ketidakpastian di kawasan yang juga tengah berupaya mengelola berbagai ketegangan dan konflik domestik.
Menteri luar negeri dari 11 negara anggota ASEAN beserta mitra strategis mereka berkumpul di Manila pekan ini di tengah situasi geopolitik yang semakin tidak stabil.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat konflik terbuka, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global yang melintasi Selat Hormuz, sekaligus menimbulkan risiko terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, risiko geopolitik semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut membuka potensi front baru dalam konflik dan memperbesar ancaman terhadap pasokan energi serta perdagangan global di luar kawasan Teluk.
Dalam pernyataan bersama usai pertemuan tertutup, para menteri luar negeri ASEAN menegaskan kekhawatiran mereka atas eskalasi yang terjadi.
Baca Juga: AS dan China Dijadwalkan Gelar Dialog AI pada September
"Kami sangat prihatin bahwa perkembangan ini secara serius merusak upaya yang sedang berlangsung dari para mediator utama dan mengurangi prospek tercapainya penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi," demikian bunyi pernyataan para menteri.
ASEAN Percepat Mekanisme Berbagi Minyak
Asia Tenggara, yang merupakan kawasan pengimpor minyak utama dengan produk domestik bruto (PDB) gabungan mencapai US$ 3,8 triliun, dinilai sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi global. Untuk mengantisipasi dampak krisis, negara-negara ASEAN berupaya mempercepat pembentukan mekanisme berbagi cadangan minyak antaranggota.
Namun, tantangan ASEAN tidak hanya datang dari luar kawasan. Pada Selasa, blok regional tersebut juga dijadwalkan menggelar konsultasi terkait konflik Myanmar. Upaya perdamaian ASEAN di negara tersebut dinilai berjalan lambat, lima tahun setelah kudeta militer yang memicu perang saudara dan menewaskan sekitar 100.000 orang.
Laut China Selatan Kembali Jadi Sorotan
Selain membahas konflik Timur Tengah dan Myanmar, para pejabat diplomatik ASEAN diperkirakan akan menyoroti meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan.
ASEAN dan China hingga kini masih berupaya menyelesaikan kode etik bersama untuk mencegah sengketa kawasan berubah menjadi konflik terbuka, meski proses perundingan telah berlangsung hampir satu dekade.
Baca Juga: Euforia Juara Dunia, Timnas Spanyol Disambut Meriah di Madrid
Ketegangan antara Manila dan Beijing semakin meningkat menjelang pertemuan yang diperkirakan akan berlangsung antara Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela agenda ASEAN pada Rabu (22/7/2026).
Perselisihan terbaru mencuat setelah militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China melakukan tindakan agresif dengan memukul kepala salah satu anggota angkatan laut Filipina menggunakan tongkat di dekat Second Thomas Shoal, wilayah sengketa di Laut China Selatan, pada Senin (20/7/2026).
Insiden tersebut memicu saling tuding antara kedua negara terkait provokasi dan manuver berbahaya di kawasan perairan sengketa.
Kantor Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyatakan bahwa pemerintah akan memanggil Duta Besar China di Manila. Langkah itu diambil hanya beberapa jam setelah diplomat Filipina di Beijing dipanggil oleh pemerintah China.
China Minta Filipina Utamakan Stabilitas Kawasan
Di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa ASEAN bukanlah forum yang tepat untuk membahas sengketa maritim bilateral.
"Filipina seharusnya sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawabnya sebagai ketua bergilir ASEAN, mendorong dialog dan kerja sama, alih-alih menempatkan kepentingan politiknya sendiri di atas perdamaian dan stabilitas kawasan," kata kementerian tersebut.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengecam tindakan China yang disebutnya sebagai aksi "berbahaya dan agresif". Washington menilai insiden terbaru tersebut merupakan bagian dari "pola provokasi China yang mengkhawatirkan terhadap operasi maritim Filipina yang sah."
Baca Juga: Fabio Quartararo Tinggalkan Yamaha, Gabung Honda Mulai MotoGP 2027
Rubio Singgung Pengaruh China
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wang Yi dijadwalkan menghadiri forum yang dipimpin ASEAN dalam beberapa hari ke depan dan berpeluang menggelar pertemuan bilateral di sela-sela agenda tersebut. Selain kedua negara, pertemuan juga akan dihadiri India, Jepang, Australia, Korea Selatan, Rusia, Inggris, serta Uni Eropa.
Tanpa menyebut China secara langsung, Rubio mengkritik Beijing melalui artikel opini yang diterbitkan media Filipina saat tiba di Manila pada Selasa. Ia menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat terhadap kebebasan navigasi, namun mengingatkan bahwa kebebasan tersebut "sama sekali tidak terjamin."
"Jika perairan tersebut berada di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, baik Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru yang serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," tulis Rubio.
Rubio juga kembali menegaskan bahwa putusan arbitrase tahun 2016 yang membatalkan klaim kedaulatan luas China di Laut China Selatan bersifat final dan mengikat. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memenuhi komitmennya kepada Filipina dan sekutu lainnya "saat mereka menghadapi ancaman baru dan tindakan koersif terhadap kepentingan bersama kita."
Namun, China tetap menolak mengakui putusan arbitrase tersebut, meskipun keputusan itu memenangkan Filipina dalam sengketa Laut China Selatan.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
