Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. China menggelar patroli gabungan laut, udara, dan penjaga pantai di sekitar Scarborough Shoal pada Minggu (29/3). Langkah ini menambah dinamika ketegangan dengan Filipina di kawasan Laut China Selatan yang selama ini menjadi sengketa.
Militer China melalui Komando Teater Selatan menyatakan bahwa patroli tersebut merupakan respons terhadap berbagai tindakan yang dianggap melanggar kedaulatan dan bersifat provokatif.
“Patroli ini merupakan langkah efektif untuk menghadapi berbagai pelanggaran hak dan tindakan provokatif,” demikian pernyataan resmi militer China.
Sengketa Wilayah dan Zona Ekonomi Eksklusif
Scarborough Shoal berada dalam zona ekonomi eksklusif Filipina, namun juga diklaim oleh China sebagai bagian dari wilayahnya. Sengketa ini telah lama menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Israel Perluas Risiko Perang Iran, Pasokan Energi Terancam
Patroli terbaru ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Beijing dan Manila kembali menggelar pembicaraan tingkat tinggi terkait wilayah sengketa tersebut, termasuk potensi kerja sama minyak dan gas.
Kementerian Luar Negeri Filipina menyebut pertemuan tersebut sebagai dialog luas pertama sejak Maret 2023 yang bertujuan membangun kepercayaan antara kedua pihak.
Ketegangan Maritim Meningkat
Dalam beberapa waktu terakhir, insiden di laut semakin sering terjadi. Pemerintah Filipina menuduh China melakukan manuver berbahaya serta menggunakan meriam air untuk mengganggu misi pasokan mereka di wilayah yang disengketakan.
Baca Juga: Paus Leo: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Perang, Serukan Hentikan Konflik
Ketegangan ini mencerminkan kompleksitas konflik di Laut China Selatan, yang tidak hanya melibatkan klaim kedaulatan, tetapi juga kepentingan strategis terkait jalur perdagangan global serta potensi sumber daya energi.
Hingga saat ini, Kedutaan Besar Filipina di Beijing belum memberikan tanggapan resmi terkait patroli terbaru tersebut.













