Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko meluasnya konflik Iran semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan pertama mereka ke Israel sejak perang dimulai. Di saat yang sama, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Washington telah mengirim ribuan marinir ke wilayah tersebut dalam konflik yang kini memasuki bulan kedua. Militer AS menyatakan bahwa gelombang pertama pasukan telah tiba menggunakan kapal serbu amfibi, sementara pengerahan tambahan masih berlangsung.
Laporan media menyebut Pentagon tengah mempersiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, termasuk potensi pengerahan pasukan khusus dan infanteri konvensional. Namun, belum ada kepastian apakah Presiden AS Donald Trump akan menyetujui rencana tersebut.
Konflik Meluas dan Korban Bertambah
Sejak dimulai pada 28 Februari melalui serangan AS dan Israel ke Iran, konflik ini telah meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global akibat gangguan besar pada pasokan energi.
Baca Juga: Paus Leo: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Perang, Serukan Hentikan Konflik
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa tujuan militer AS dapat dicapai tanpa pengerahan pasukan darat, meskipun Washington tetap mengirim pasukan tambahan untuk memberikan fleksibilitas strategi.
AS juga diperkirakan akan mengerahkan ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 untuk memperkuat operasi di kawasan.
Upaya Diplomasi dan Mediasi
Pakistan berupaya memainkan peran sebagai mediator dengan menggelar pembicaraan dua hari bersama menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir guna meredakan ketegangan regional. Upaya ini dilakukan setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Militer Israel melaporkan telah menargetkan infrastruktur produksi senjata di Teheran, termasuk puluhan fasilitas penyimpanan dan produksi. Serangan juga terjadi di pelabuhan selatan Bandar-e-Khamir yang menewaskan lima orang dan menghancurkan dua kapal.
Di Lebanon, Israel kembali menyerang target yang terkait dengan kelompok Hezbollah. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga jurnalis dan seorang tentara Lebanon, serta korban tambahan dari tim penyelamat yang datang membantu.
Israel menyatakan salah satu jurnalis yang menjadi target diduga terkait dengan unit intelijen Hezbollah.
Baca Juga: Peretas Iran Bobol Email Direktur FBI, Ratusan Data Bocor
Serangan Drone dan Eskalasi Kawasan
Iran terus melancarkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk. Sistem pertahanan udara dilaporkan menembak jatuh drone di dekat kediaman pemimpin Kurdi Irak Masoud Barzani di Erbil.
Sumber keamanan juga menyebut serangan drone lain menargetkan rumah presiden wilayah Kurdistan Irak.
Kelompok Houthi kembali melancarkan serangan kedua ke Israel, menurut juru bicara militer mereka Yahya Saree, yang juga memperingatkan akan ada serangan lanjutan.
Serangan ini membuka potensi ancaman baru terhadap jalur pelayaran global yang sebelumnya sudah terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.
Houthi juga berpotensi menargetkan Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Terusan Suez, sehingga dapat memperluas gangguan terhadap perdagangan global.
Tekanan Politik dan Dampak Energi
Dengan pemilu paruh waktu AS yang semakin dekat, perang yang kian tidak populer mulai membebani Partai Republik. Trump terlihat ingin segera mengakhiri konflik, namun tetap mengancam eskalasi, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak membuka Selat Hormuz.
Baca Juga: Malaysia Batasi Pembelian BBM RON 95 Mulai Pekan Depan
Ancaman Iran terhadap kapal di selat tersebut telah membuat sebagian besar tanker minyak enggan melintas. Namun, Iran dilaporkan memberikan izin tambahan bagi kapal berbendera Pakistan untuk melewati jalur tersebut secara terbatas.
Risiko Nuklir dan Ketegangan Lanjutan
Israel juga terus menargetkan infrastruktur nuklir Iran. Kepala perusahaan nuklir Rusia Rosatom menyatakan bahwa serangan tersebut meningkatkan risiko keselamatan nuklir, terutama setelah evakuasi staf dari pembangkit listrik Bushehr.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons keras jika infrastruktur atau pusat ekonomi Iran menjadi sasaran serangan.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi global dan gangguan besar terhadap perdagangan internasional.













