Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) dan China dijadwalkan menggelar dialog resmi mengenai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada September mendatang.
Pertemuan ini menjadi langkah penting di tengah meningkatnya persaingan kedua negara dalam pengembangan teknologi AI.
Baca Juga: Euforia Juara Dunia, Timnas Spanyol Disambut Meriah di Madrid
Mengutip Reuters, Selasa (21/7), lima sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan pembicaraan kemungkinan berlangsung sebelum kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 24 September.
Meski demikian, tanggal pelaksanaan dialog masih belum ditetapkan.
Pertemuan tersebut merupakan salah satu hasil penting dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping pada Mei lalu.
Di pihak AS, dialog diperkirakan akan dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, menurut empat sumber Reuters.
Sementara itu, lokasi pertemuan, agenda pembahasan, serta daftar peserta dari kedua negara masih terus dimatangkan karena persiapan masih berada pada tahap awal.
Baik Gedung Putih, Departemen Luar Negeri AS, maupun Departemen Keuangan AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Pemerintah China, termasuk Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), regulator dunia maya, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negeri, serta Dewan Negara juga belum memberikan komentar.
Baca Juga: Fabio Quartararo Tinggalkan Yamaha, Gabung Honda Mulai MotoGP 2027
Bahas AI untuk militer hingga keamanan siber
Sebagai dua kekuatan ekonomi dan militer terbesar dunia, AS dan China semakin mencermati perkembangan AI masing-masing di tengah perlombaan global mengembangkan model AI paling canggih.
Kedua negara tengah mempertimbangkan bagaimana mengatur penggunaan model AI mutakhir yang berpotensi meningkatkan kemampuan militer, memfasilitasi serangan siber terhadap infrastruktur penting, hingga mengganggu pasar tenaga kerja.
Dialog September nanti akan menjadi pembicaraan resmi pertama mengenai AI antara AS dan China pada pemerintahan Donald Trump.
Sebelumnya, pada masa Presiden Joe Biden, kedua negara sempat menyepakati bahwa keputusan terkait penggunaan senjata nuklir harus tetap berada di tangan manusia, bukan AI, setelah pembicaraan tingkat teknis di Jenewa pada 2024.
Baca Juga: FIFA Investigasi Bentrokan Pemain Usai Final Dramatis Spanyol vs Argentina
Pembatasan AI jadi agenda utama
Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah membatasi ekspor chip AI paling canggih ke China.
Media Axios juga melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan pembatasan penggunaan model AI open-weight asal China oleh perusahaan-perusahaan AS, menyusul pesatnya perkembangan teknologi AI China.
Di sisi lain, pemerintah China juga dikabarkan tengah mengkaji pembatasan akses luar negeri terhadap model AI paling canggih buatan negaranya.
Menurut para analis, Beijing diperkirakan akan membawa sejumlah isu utama dalam dialog nanti, termasuk membahas model AI Mythos milik perusahaan AI AS Anthropic, mekanisme pengendalian peluncuran model AI generasi berikutnya oleh AS, serta kemungkinan pembatasan terhadap model AI open-weight asal China.
Sementara itu, pemerintahan Trump juga sedang berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan AI di AS mengenai penyusunan standar keselamatan sukarela untuk peluncuran model AI baru, meskipun hingga kini belum mengumumkan regulasi resmi.
Baca Juga: Wacana Piala Dunia 64 Tim Berpotensi Ubah Peta Ekonomi Sepak Bola Dunia
Salah satu sumber Reuters mengatakan China lebih menginginkan dialog yang bersifat teknis dan substantif mengenai AI, bukan pembicaraan yang bernuansa politik.
Paul Triolo, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group, menilai pertemuan pertama tersebut kemungkinan belum menghasilkan terobosan besar.
"Saya kira mereka akan mencoba menyepakati beberapa definisi dasar, misalnya mengenai apa yang dimaksud dengan model AI frontier," ujarnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
