Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 2,9% pada 2026 dan meningkat menjadi 3,0% pada 2027.
Proyeksi tersebut relatif sejalan dengan skenario gangguan terbatas (time-limited disruption) dalam OECD Economic Outlook Juni 2026.
Meski demikian, OECD melihat pola pertumbuhan ekonomi global pada kuartal-kuartal mendatang menghadapi tekanan yang lebih besar.
Baca Juga: DPR AS Usut Hubungan Gianni Infantino dengan Donald Trump, FIFA Diminta Buka Dokumen
Ketahanan sektor swasta sejauh ini mampu menopang pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi guncangan harga komoditas diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Dalam OECD Economic Outlook, Interim Report September 2026 dikutip pada Kamis (24/9/2026), OECD memperkirakan tekanan mulai meningkat menjelang akhir 2026 hingga awal 2027.
Penggunaan persediaan dan penyangga tabungan rumah tangga di sejumlah negara diperkirakan semakin terbatas.
Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli rumah tangga sekaligus mendorong kenaikan suku bunga kebijakan.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan menghadapi sejumlah hambatan sebelum kembali pulih secara bertahap setelah konflik yang menjadi sumber gangguan diasumsikan mereda.
Di tengah tekanan tersebut, belanja dan produksi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan di banyak negara G20.
OECD mencatat, aktivitas terkait AI dalam sejumlah perekonomian masih mampu mengimbangi lemahnya investasi di sektor bisnis lainnya.
Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Melonjak di Sesi Pertama, Ditopang Saham Terkait CPU
Harga minyak diproyeksikan tetap tinggi
Proyeksi OECD menggunakan asumsi teknis bahwa harga energi bergerak mengikuti harga kontrak berjangka (futures) minyak dan gas per 14 September 2026.
Dalam asumsi tersebut, harga minyak mentah Brent diperkirakan mencapai puncak rata-rata kuartalan sebesar US$ 105 per barel pada kuartal IV 2026.
Harga gas TTF Eropa juga diproyeksikan mencapai puncaknya pada periode yang sama, dengan rata-rata EUR 82 per megawatt hour (MWh).
Setelah mencapai puncak tersebut, harga minyak dan gas diperkirakan turun secara bertahap hingga akhir 2027.
Untuk keseluruhan 2027, OECD memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar US$ 85 per barel, sedangkan harga gas TTF sekitar EUR 60 per MWh.
Namun, asumsi harga gas dalam proyeksi terbaru OECD sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan jalur harga yang digunakan dalam skenario gangguan terbatas pada Outlook Juni 2026. Harga tersebut juga berada di atas asumsi dalam skenario gangguan berkepanjangan.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Setelah Iran Buka Ruang Diplomasi dengan AS
Tekanan juga datang dari komoditas pangan. Berdasarkan kurva harga berjangka yang tersedia, harga komoditas pangan secara keseluruhan diperkirakan mencapai puncak pada kuartal II 2027, dengan rata-rata sekitar 11% lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2026.
Sementara itu, OECD mengasumsikan tingkat tarif efektif tetap berada pada level yang berlaku pada pertengahan September sepanjang sisa 2026 hingga 2027.
Dengan kombinasi harga energi dan pangan yang masih tinggi, tekanan terhadap daya beli rumah tangga diperkirakan menjadi salah satu faktor yang membatasi pertumbuhan global dalam beberapa kuartal ke depan.
Setelah tekanan tersebut mereda, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan kembali meningkat secara bertahap pada 2027.














