Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Philip Morris International (PMI) akan meningkatkan investasi pada produk kantong nikotin (nicotine pouch) Zyn di Amerika Serikat seiring semakin ketatnya persaingan di segmen tersebut.
Langkah ini diumumkan setelah perusahaan membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi berkat masih kuatnya permintaan rokok.
Baca Juga: Kantor Pusat Deutsche Bank Digeledah, Kasus Penggelapan Pajak Kembali Mencuat
Melansir Reuters, saham Philip Morris naik sekitar 5% pada perdagangan prapasar (premarket) Rabu (22/7/2026), meski perusahaan kembali memangkas proyeksi laba tahunannya untuk ketiga kalinya pada 2026 akibat dampak negatif pelemahan nilai tukar mata uang.
Perusahaan yang memasarkan rokok Marlboro di luar Amerika Serikat itu mencatat pertumbuhan penjualan di sejumlah pasar utama, termasuk Turki, Indonesia, dan Mesir, meskipun telah menaikkan harga sekitar 10%.
Kinerja tersebut dinilai mengejutkan mengingat industri tembakau global tengah menghadapi tren penurunan konsumsi rokok dan berupaya mengalihkan bisnis ke produk bebas asap.
Analis Bernstein menyebut, kenaikan volume penjualan rokok PMI menjadi salah satu yang paling impresif dalam beberapa tahun terakhir.
"Dalam 10 tahun mengikuti industri tembakau, kami sulit mengingat ada kinerja bisnis rokok yang melampaui ekspektasi sebesar ini," tulis Bernstein dalam risetnya.
Baca Juga: Rubio-Wang Yi Bahas Kunjungan Xi, Iran dan Laut China Selatan Memanas
Volume penjualan rokok PMI pada kuartal II-2026 naik 1,1% menjadi 156,9 miliar batang, lebih tinggi dibandingkan konsensus analis Wall Street sebesar 151,17 miliar batang.
Di sisi lain, PMI terus memperkuat bisnis produk bebas asap melalui Zyn. Produk kantong nikotin tersebut baru-baru ini memperoleh persetujuan regulator Amerika Serikat untuk dipasarkan sebagai produk dengan risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.
Namun, perusahaan menghadapi tekanan persaingan dari produk serupa seperti Velo milik British American Tobacco.
Sebagai strategi mempertahankan pangsa pasar, PMI meluncurkan Zyn Ultra pada Juni lalu.
Produk dengan kadar nikotin lebih tinggi tersebut dijual dengan harga per kantong yang lebih rendah dibandingkan produk Zyn reguler.
Perusahaan juga menyatakan akan mempercepat investasi di pasar Amerika Serikat pada paruh kedua tahun ini guna memperkuat portofolio Zyn.
Selain itu, PMI berencana meluncurkan varian baru Zyn dengan kadar 1,5 miligram dan 8 miligram pada kuartal berjalan.
Baca Juga: Guardiola Sudah Berbicara dengan Federasi Sepak Bola Italia, Bakal Melatih Italia?
Meski kinerja operasional menguat, PMI memangkas proyeksi laba per saham (adjusted earnings per share/EPS) tahun penuh menjadi US$ 8,26 hingga US$ 8,41, dari proyeksi sebelumnya sebesar US$ 8,31 hingga US$ 8,46.
Pada kuartal II-2026, pendapatan perusahaan naik 10,4% menjadi US$ 11,19 miliar, melampaui estimasi analis sebesar US$ 10,63 miliar.
Sementara itu, laba bersih per saham yang disesuaikan (adjusted EPS) meningkat 15,2% menjadi US$ 2,20, lebih tinggi dari perkiraan analis yang berada di level US$ 2,05 per saham.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
