Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik di Iran mulai memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian global. Di Australia, para petani memangkas penanaman gandum akibat lonjakan harga bahan bakar dan pupuk serta minimnya curah hujan, kondisi yang diperkirakan akan menekan pasokan gandum dunia dan mendorong kenaikan harga pangan global.
Australia, negara eksportir gandum terbesar ketiga di dunia, berpotensi kehilangan hingga 10 juta ton ekspor gandum pada musim mendatang. Jumlah tersebut setara sekitar 5% dari total ekspor gandum global tahunan.
Salah satu petani yang terdampak adalah Justin Everitt, petani generasi keenam di wilayah Brocklesby, sekitar 300 kilometer timur laut Melbourne. Ia mengatakan hanya menanam sekitar 50% dari rencana awal akibat tingginya biaya produksi dan cuaca yang semakin kering.
“Semua indikator mengarah pada penurunan produksi,” ujar Everitt.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh di Atas Ekspektasi, Krisis Energi Timur Tengah Jadi Ancaman
Berdiri di dekat traktor dan alat penebar benihnya, Everitt mengaku belum pernah melakukan perubahan drastis terhadap rencana tanam seperti tahun ini. Menurutnya, perang Iran telah memicu kenaikan cepat harga bahan bakar dan pupuk yang sangat membebani petani.
Kondisi serupa terjadi di berbagai wilayah Australia. Ribuan petani memutuskan mengurangi luas tanam gandum dan menghemat penggunaan pupuk demi menekan biaya produksi.
Di dekat kota Corowa, petani Anthony Black mengatakan akan mengurangi penanaman gandum hingga 20% dan memangkas penggunaan pupuk sekitar sepertiga dari rencana semula. Ia memperkirakan hasil panennya dapat turun hingga 40% akibat kondisi cuaca kering.
Black menyebut lonjakan harga urea, pupuk nitrogen utama untuk gandum, sudah tidak lagi dapat ditanggung oleh anggaran usaha tani.
Pasokan Gandum Global Terancam
Enam analis pertanian memperkirakan luas lahan gandum Australia akan turun antara 7% hingga 20% dibanding tahun lalu. Penurunan tersebut dapat menghilangkan area tanam hampir seluas Belgia.
Produksi gandum Australia tahun ini diperkirakan turun dari sekitar 36 juta ton pada musim sebelumnya menjadi hanya 21,3 juta ton dalam skenario terburuk apabila kondisi kering terus berlanjut.
Penurunan produksi di Australia diperkirakan memperketat pasokan pangan global. Harga gandum internasional pun mulai menunjukkan tren kenaikan.
Australia menjadi eksportir utama pertama yang mulai menanam gandum sejak pecahnya perang Iran yang mengganggu ekspor bahan bakar dan pupuk dari negara-negara Teluk. Negara produsen lain juga diperkirakan menghadapi tantangan serupa.
Di Argentina, Bursa Biji-bijian Rosario memperkirakan petani akan mengurangi penanaman gandum sekitar 7% akibat tingginya biaya produksi. Sementara di Kanada, proses tanam musim semi berjalan lebih lambat dibanding biasanya dan diperkirakan menghasilkan panen lebih rendah.
Baca Juga: Bos Starbucks Korsel Dipecat Usai Pomosi 'Tank Day' Picu Kemarahan Publik
Seorang analis perusahaan perdagangan gandum internasional menyebut pasar gandum global kemungkinan akan berubah dari kondisi surplus menjadi defisit, sehingga stok cadangan menyusut dan harga semakin meningkat.
Cuaca Kering dan El Nino Tambah Tekanan
Selain dampak perang, cuaca kering juga menjadi ancaman besar bagi produksi pertanian Australia. Banyak wilayah pertanian di New South Wales dan Queensland mengalami kekurangan hujan dalam beberapa bulan terakhir.
Badan Meteorologi Australia memperkirakan fenomena El Nino akan terbentuk dan memicu kondisi lebih panas serta lebih kering di pantai timur Australia. Curah hujan di sebagian besar wilayah pertanian diprediksi berada di bawah rata-rata antara Juni hingga September.
Akibat tingginya risiko gagal panen dan mahalnya biaya produksi, sebagian petani memilih tidak menanam sama sekali tahun ini.
Meski demikian, beberapa wilayah masih menikmati kondisi yang lebih baik. Petani Tim McClelland di negara bagian Victoria mengatakan curah hujan yang baik memberikan awal musim terbaik sepanjang karier bertaninya.
Namun ia mengaku tetap terbebani tingginya biaya pupuk.
“Saya agak pusing melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan,” ujarnya.
“Tetapi saya tetap optimistis terhadap musim tanam ini,” tambahnya.
Krisis Pupuk Menghantam Petani
Australia biasanya mengimpor lebih dari separuh kebutuhan pupuk nitrogen dari Timur Tengah. Namun pasokan kini terganggu akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan global.
Presiden National Farmers' Federation, Hamish McIntyre, mengatakan Australia saat ini kekurangan sekitar 600.000 ton urea atau sekitar 20% dari kebutuhan tahunan normal.
Baca Juga: Australia Amankan Pasokan Avtur dari China dan Pupuk dari Brunei
Gangguan rantai pasok juga membuat pupuk berpotensi tiba terlambat sehingga efektivitas penggunaannya menurun.
Dampak ekonomi mulai terasa hingga ke sektor usaha lokal. Penjual alat pertanian di Corowa, Joe Gorman, mengatakan permintaan mesin pertanian menurun drastis karena petani menahan belanja.
Menurutnya, tekanan ekonomi di sektor pertanian akan menjalar ke bisnis lain di daerah pedesaan.
“Ketika petani mulai tertekan, makin sedikit orang yang datang ke pub setelah bekerja,” katanya.
“Makin sedikit juga orang yang datang ke toko roti pada hari Sabtu. Supermarket ikut terdampak, klub sepak bola lokal juga ikut terdampak. Efeknya menjalar ke mana-mana,” terangnya.
Sementara itu, Everitt kini memilih menanam barley dan vetch sebagai tanaman pakan ternak dengan penggunaan pupuk yang jauh lebih sedikit demi menghemat biaya.
Namun ia mengingatkan strategi tersebut hanya solusi jangka pendek. Menurutnya, tanah pertanian akan kehilangan banyak nutrisi tahun ini dan membutuhkan pemupukan lebih besar pada musim berikutnya.
“Musim tanam 2027 membuatnya khawatir,” kata Everitt.
“Kami akan banyak menguras nutrisi tanah tahun ini dan harus mengembalikannya lagi tahun depan,” lanjutnya.













