Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI/KARACHI. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengatakan telah menunda rencana serangan terhadap Iran setelah Teheran mengirim proposal perdamaian baru ke Washington. Trump menyebut kini terdapat “peluang yang sangat baik” untuk mencapai kesepakatan terkait pembatasan program nuklir Iran.
Trump mengatakan bahwa setelah menerima proposal baru dari Iran, dirinya memerintahkan militer AS untuk menunda operasi militer yang sebelumnya dijadwalkan.
“Kami TIDAK akan melaksanakan serangan yang telah dijadwalkan terhadap Iran besok, namun saya juga telah memerintahkan mereka untuk tetap siap melancarkan serangan penuh berskala besar kapan saja apabila kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai,” ujar Trump.
Meski demikian, tidak ada pengumuman resmi sebelumnya terkait rencana serangan tersebut. Reuters juga tidak dapat memastikan apakah persiapan militer benar-benar telah dilakukan untuk melanjutkan konflik yang dimulai Trump pada akhir Februari lalu.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dapat segera tercapai. Ia juga sempat mengancam akan melancarkan serangan besar jika Iran menolak mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Mata Uang Asia Selasa (19/5) Pagi, Rupiah Tembus Rekor Terendah Baru ke Rp 17.700
Dalam unggahannya, Trump mengungkapkan bahwa para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab meminta dirinya menunda serangan karena diyakini kesepakatan damai masih dapat dicapai.
Trump tidak menjelaskan secara rinci isi proposal yang sedang dibahas. Namun, kepada wartawan ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan puas apabila tercapai kesepakatan yang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
“Ada peluang yang sangat baik bahwa mereka dapat menemukan jalan keluar. Jika kita bisa mencapainya tanpa harus membombardir mereka, saya akan sangat senang,” kata Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa pandangan Teheran telah disampaikan kepada pihak Amerika melalui Pakistan, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Sumber dari Pakistan juga membenarkan bahwa Islamabad kembali menjadi perantara komunikasi antara kedua pihak, setelah sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya putaran pembicaraan damai bulan lalu. Meski begitu, sumber tersebut menyebut proses negosiasi berjalan sulit.
“Mereka terus mengubah target negosiasi. Waktu kami tidak banyak,” ujar sumber tersebut.
Iran Tegaskan Kesiapan Militer
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap tegas setelah pengumuman Trump. Media pemerintah Iran memperingatkan AS dan sekutunya agar tidak melakukan “kesalahan strategis atau salah perhitungan” dalam menyerang Iran.
Komando militer gabungan tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, menyatakan pasukan Iran siap merespons setiap kemungkinan serangan baru dari AS.
“Setiap agresi dan invasi baru akan dibalas secara cepat, tegas, kuat, dan luas,” ujar komandan Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Baca Juga: Harga BBM: Bensin dan Solar di India Naik Lagi, Dua Kali dalam Sepekan
Fokus pada Selat Hormuz dan Sanksi
Menurut sumber senior Iran, proposal perdamaian terbaru memiliki sejumlah kemiripan dengan tawaran sebelumnya yang sempat ditolak Trump pekan lalu.
Proposal tersebut berfokus pada penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, serta pencabutan sanksi maritim terhadap Iran.
Dalam perkembangan terbaru, sumber Iran menyebut Washington mulai melunak dengan menyetujui pencairan seperempat dana Iran yang dibekukan di bank-bank asing dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar AS. Namun Iran masih menuntut seluruh aset tersebut dibebaskan.
Selain itu, AS disebut mulai lebih fleksibel terkait aktivitas nuklir damai Iran di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency.
Meski demikian, pemerintah AS belum mengonfirmasi adanya kesepakatan apa pun dalam perundingan tersebut.
Kantor berita Tasnim juga melaporkan bahwa AS disebut bersedia melonggarkan sanksi minyak terhadap Iran selama proses negosiasi berlangsung. Namun seorang pejabat AS membantah laporan tersebut.
Saat ini gencatan senjata rapuh masih berlangsung setelah enam pekan perang menyusul serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran. Meski demikian, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda setelah sejumlah drone diluncurkan dari wilayah Irak menuju negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Kuwait.













