Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan siap melakukan serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar menandatangani kesepakatan nuklir baru. Pentagon telah mengatur pengerahan kekuatan militer besar-besaran ke wilayah tersebut, mencakup dua kapal induk, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar.
Tetapi serangan militer ke Iran berpotensi menimbulkan efek negatif, memicu konflik destabilisasi baru di Timur Tengah. Trump dan pejabat pemerintahan lainnya memberikan pernyataan publik yang saling bertentangan tentang apa yang sebenarnya diinginkan AS dari kesepakatan baru dengan Teheran.
Para ahli Iran berpendapat, serangan ke Iran di tengah negosiasi dapat menggagalkan kesepakatan, dan dapat memicu siklus pembalasan yang mematikan. Teheran kemungkinan akan menangguhkan partisipasi dalam pembicaraan jika AS melancarkan serangan, menurut seorang pejabat senior pemerintah Iran, kepada Bloomberg.
Baca Juga: Ekonomi Asia Mempertimbangkan Dampak Langkah Tarif Baru Trump
“AS tidak akan mendapatkan kesepakatan diplomatik dari Iran jika menyerang lagi,” kata Barbara Slavin, peneliti di Stimson Center, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (22/2/2026). Slavin menilai, sekadar ancaman militer pun bisa membuat Iran tidak bersedia membuat kesepakatan.
Israel dan AS membombardir situs nuklir dan pertahanan udara Iran secara ekstensif pada Juni 2025 silam. Kala itu, Trump mengatakan, fasilitas pengayaan nuklir utama Iran telah dihancurkan sepenuhnya.
Slavin menyebut, AS dan Israel memang dapat menargetkan serangan pada rudal balistik Iran. Tetapi langkah ini berisiko mendorong Teheran menembakkan rudal ke target AS atau sekutu sebelum kehilangan kendali.
Baca Juga: Trump Akan Mengirim Kapal Rumah Sakit ke Greenland
Ketika ditanya dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026), tentang pesan apa yang akan disampaikannya kepada rakyat Iran, Trump menegaskan meminta kesepakatan yang adil. “Mereka sebaiknya menegosiasikan kesepakatan yang adil. Mereka sebaiknya bernegosiasi,” kata dia
Dalam wawancara dengan Fox News, Sabtu (21/2/2026), utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff mengatakan, pengayaan nol tidak dapat dinegosiasikan untuk kesepakatan apa pun dengan Iran. “Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki material pembuatan bom kelas industri dan itu sangat berbahaya, jadi Anda tidak bisa membiarkan itu terjadi,” katanya.
Trump memang sudah beberapa kali melakukan serangan ke negara lain, termasuk kampanye pengeboman singkat di Yaman, Suriah, dan Nigeria, serta serangan operasi khusus yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro Januari lalu. Tapi serangan terhadap Iran dapat memicu pembalasan yang menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan.
Baca Juga: Trump Akan Menaikkan Tarif Impor Global dari 10% Jadi 15% Pasca Putusan Pengadilan
Becca Wasser, Kepala Bidang Pertahanan Bloomberg Economics, menuturkan, secara historis, Teheran tidak bertindak sesuai dengan asumsi AS. Kampanye serangan terbatas juga tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan.
Iran memang telah melemah akibat serangan udara sebelumnya, dan baru-baru ini menghadapi kerusuhan paling serius dalam beberapa dekade. Tetapi negara itu tetap mampu membalas serangan AS. Pembalasan Iran kemungkinan dapat mencakup penggunaan rudal balistik jarak pendek hingga menengah, yang dapat menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut.
“Iran memberi sinyal bahwa akan ada perang yang panjang, karena tahu Trump tidak menginginkan perang yang panjang. Trump memberi tahu rezim itu mereka akan membayar harga yang belum pernah mereka bayar sebelumnya,” ujar Dennis Ross, peneliti di Washington Institute for Near East Policy, yang pernah menjabat utusan Presiden Bill Clinton untuk Timur Tengah.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)