kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.754   69,00   0,39%
  • IDX 6.396   -202,97   -3,08%
  • KOMPAS100 847   -26,92   -3,08%
  • LQ45 637   -13,66   -2,10%
  • ISSI 229   -9,22   -3,87%
  • IDX30 363   -5,99   -1,62%
  • IDXHIDIV20 449   -6,22   -1,37%
  • IDX80 97   -2,77   -2,77%
  • IDXV30 125   -3,34   -2,60%
  • IDXQ30 118   -1,39   -1,17%

Dolar AS Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun


Selasa, 19 Mei 2026 / 11:53 WIB
Dolar AS Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun
ILUSTRASI. Dolar AS kembali perkasa setelah Presiden Trump tunda serangan Iran. Analis sebut pasar koreksi reaksi berlebihan. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat dalam perdagangan Asia pada Selasa (19/5/2026), setelah pelaku pasar mencerna pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi.

Penguatan dolar terjadi setelah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah mulai mereda. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,1% menjadi 99,076 setelah sebelumnya menghentikan reli lima hari berturut-turut pada perdagangan Senin.

Analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore, mengatakan pasar mulai mengoreksi reaksi berlebihan terhadap perkembangan geopolitik terbaru.

“Reaksi berlebihan pasar mulai dikoreksi kembali seiring munculnya perkembangan berita yang kita lihat semalam,” ujar Sycamore. Menurut dia, pelaku pasar sudah terbiasa dengan pola meningkatnya ketegangan saat akhir pekan yang kemudian diikuti optimisme diplomasi pada awal pekan.

Baca Juga: Xi Akan Sambut Putin di Beijing, China Tegaskan Kemitraan Strategis dengan Rusia

Harga minyak turun, imbal hasil obligasi AS melemah

Meredanya kekhawatiran geopolitik juga menekan harga minyak mentah dunia. Kontrak berjangka Brent tercatat turun 2% menjadi US$109,84 per barel.

Penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi global, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,4 basis poin menjadi 4,5974%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Dalam sepekan terakhir, dolar AS sempat menguat tajam akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan aksi jual di pasar obligasi global. Investor sebelumnya memperhitungkan risiko bahwa bank sentral dunia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter untuk menahan inflasi apabila gangguan pasokan energi terus berlanjut, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang sebesar 37,4% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang. Sebulan lalu, probabilitas tersebut hanya 0,5%.

Baca Juga: Petani Australia Kurangi Tanam Gandum Akibat Konflik Iran dan Cuaca Kering

Yen melemah meski ekonomi Jepang tumbuh

Terhadap yen Jepang, dolar AS naik 0,1% menjadi 158,95 yen. Pergerakan ini terjadi setelah data pemerintah Jepang menunjukkan ekonomi negara tersebut tumbuh secara tahunan sebesar 2,1% pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dibanding proyeksi pasar sebesar 1,7%.

Analis DBS menilai data tersebut membantu meredakan kekhawatiran stagflasi di Jepang.

Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan pemerintah siap mengambil tindakan untuk mengatasi volatilitas nilai tukar yang berlebihan. Namun, intervensi untuk mendukung yen akan dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap pasar obligasi AS.

Pasar juga terus mencermati potensi intervensi lanjutan pemerintah Jepang setelah otoritas Tokyo diperkirakan telah menghabiskan hampir 10 triliun yen atau sekitar US$63 miliar sejak mulai melakukan pembelian yen pada 30 April lalu.

Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh di Atas Ekspektasi, Krisis Energi Timur Tengah Jadi Ancaman

Dolar Australia dan kiwi melemah

Dolar Australia turun 0,5% menjadi US$0,71345 setelah risalah rapat Reserve Bank of Australia menunjukkan bank sentral menilai suku bunga saat ini sudah cukup ketat setelah tiga kali kenaikan sepanjang tahun ini.

Bank sentral Australia memilih mencermati dampak perang Iran terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi sebelum menentukan arah kebijakan berikutnya.

Analis Capital Economics menilai dewan bank sentral Australia belum memberikan sinyal jelas terkait langkah selanjutnya, meski peluang kebijakan moneter lebih ketat masih terbuka.

Dolar Selandia Baru atau kiwi juga turun 0,4% menjadi US$0,5854 mengikuti pelemahan dolar Australia.

Sementara itu, euro melemah 0,1% menjadi US$1,1644 dan poundsterling Inggris turun 0,2% menjadi US$1,3411.

Terhadap yuan China di pasar offshore, dolar AS naik 0,1% menjadi 6,8031 yuan.

Di pasar aset kripto, Bitcoin turun 0,2% menjadi US$76.734,76, sedangkan Ether naik 0,6% ke level US$2.128,65.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×