Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - TOKYO.. Ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal pertama 2026. Kinerja ekspor dan konsumsi domestik yang masih solid menjadi penopang utama pertumbuhan negeri Sakura tersebut di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Iran.
Data pemerintah Jepang menunjukkan produk domestik bruto (PDB) riil Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi pasar sebesar 1,7% dan melanjutkan kenaikan 0,8% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa ekonomi terbesar keempat dunia itu masih memiliki daya tahan sebelum dampak penuh krisis energi global mulai dirasakan.
Ekonom Eksekutif Senior Dai-ichi Life Research Institute, Yoshiki Shinke menilai, kondisi ekonomi Jepang sebenarnya berada dalam fondasi yang cukup kuat sebelum konflik Iran memicu gejolak harga energi dunia.
“Data hari ini menunjukkan ekonomi berada dalam kondisi solid sebelum perang Iran, sehingga masih memiliki bantalan untuk menghadapi guncangan energi,” ujar Shinke seperti yang dilansir Reuters, Selasa (19/5).
Ia memperkirakan ekonomi Jepang berpotensi melemah pada kuartal kedua. Namun, selama tekanan hanya berasal dari kenaikan harga secara umum, pemulihan ekonomi dinilai masih dapat berlanjut.
“Jika terjadi gangguan pasokan energi besar-besaran, dampaknya terhadap pertumbuhan bisa sangat parah dan membatasi ruang Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga pada Juni,” tambahnya.
Baca Juga: Yield Obligasi Jepang Sentuh Level Tertinggi Sejak 1996, Khawatir Inflasi Memanas
Kinerja ekspor yang kuat menjadi pendorong utama pertumbuhan Jepang. Permintaan eksternal bersih tercatat menyumbang tambahan 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga dan belanja modal masing-masing tumbuh 0,3% dibanding kuartal sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan laba perusahaan yang masih kuat serta kenaikan upah yang menopang aktivitas domestik.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan tekanan ekonomi Jepang kemungkinan akan meningkat dalam beberapa kuartal mendatang seiring melonjaknya biaya energi akibat konflik Timur Tengah.
Analis Oxford Economics menyebut, kenaikan harga energi dan tingginya ketidakpastian global berpotensi menahan konsumsi maupun investasi dalam jangka pendek.
“Kami memperkirakan ekonomi akan mulai merasakan tekanan dari tingginya biaya energi ke depan,” tulis Oxford Economics dalam catatan risetnya.
Konflik di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi setelah Iran menutup efektif Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga energi global.
Bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, lonjakan harga energi menjadi ancaman serius karena dapat meningkatkan inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan mempersempit margin keuntungan perusahaan.
Di sisi lain, pelemahan yen juga memperbesar tekanan inflasi impor. Mata uang Jepang sempat menyentuh level 159 yen per dolar AS, memicu spekulasi intervensi pemerintah untuk menopang yen.
Pemerintah Jepang sendiri tengah menyiapkan anggaran tambahan guna meredam dampak lonjakan biaya bahan bakar terhadap ekonomi domestik.
Kepala Ekonomi Jepang dan Frontier Markets Moody’s Analytics, Stefan Angrick menilai, prospek ekonomi Jepang ke depan masih penuh tantangan.
“Konflik mendorong kenaikan harga komoditas sementara inflasi membuat pertumbuhan upah riil tetap lambat,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan fiskal pemerintah kemungkinan mampu menjaga ekonomi tetap stabil, meski tekanan global diperkirakan membuat 2026 menjadi tahun yang berat bagi Jepang.
Baca Juga: Data Treasury AS: Jepang dan China Kurangi Kepemilikan Surat Utang AS pada Maret













