Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama 2026, didorong oleh solidnya ekspor dan konsumsi domestik. Namun, prospek pemulihan ekonomi Negeri Sakura diperkirakan menghadapi ujian berat akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran dan gangguan pasokan global.
Data yang dirilis pada Selasa (19/5/2026) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) riil Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan median pasar sebesar 1,7% serta melampaui revisi pertumbuhan 0,8% pada kuartal Oktober-Desember sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi terbesar keempat di dunia itu mencatat ekspansi selama dua kuartal berturut-turut. Kinerja tersebut ditopang oleh ekspor yang kuat, dengan permintaan eksternal bersih memberikan kontribusi 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, konsumsi rumah tangga dan belanja modal masing-masing tumbuh 0,3% dibanding kuartal sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan laba korporasi yang tetap solid serta kenaikan upah yang stabil masih menopang pemulihan ekonomi Jepang.
Meski demikian, para analis memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Jepang akan melambat pada kuartal-kuartal mendatang seiring dampak konflik Timur Tengah yang memicu gangguan besar pada pasokan energi global.
Baca Juga: Australia Amankan Pasokan Avtur dari China dan Pupuk dari Brunei
Ekonom Senior Dai-ichi Life Research Institute, Yoshiki Shinke, menilai data terbaru menunjukkan ekonomi Jepang berada dalam kondisi cukup kuat sebelum perang Iran pecah sehingga masih memiliki bantalan untuk menghadapi guncangan energi.
"Ekonomi mungkin mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Namun jika dampaknya hanya berupa kenaikan harga secara umum, pemulihan kemungkinan dapat kembali berlanjut setelahnya. Jika terjadi gangguan pasokan besar-besaran, dampaknya terhadap pertumbuhan bisa sangat parah sehingga Bank of Japan mungkin tidak memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada Juni," ujar Shinke.
Analis Oxford Economics juga memperingatkan tekanan dari tingginya biaya energi akan mulai terasa dalam waktu dekat.
“Kenaikan harga energi dan tingginya ketidakpastian akan membatasi konsumsi dan investasi dalam jangka pendek,” tulis Oxford Economics dalam catatan risetnya.
Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, disusul penutupan efektif Selat Hormuz oleh Teheran. Jalur tersebut biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Penutupan jalur strategis itu mendorong lonjakan harga energi global dan memicu kekhawatiran terhadap terganggunya arus pasokan minyak dunia.
Jepang menjadi salah satu negara yang paling rentan karena ketergantungannya yang besar terhadap impor minyak dari Timur Tengah. Kenaikan biaya bahan bakar memperburuk inflasi, mengikis daya beli rumah tangga, serta menekan margin keuntungan perusahaan.
Baca Juga: Bos Starbucks Korsel Dipecat Usai Pomosi 'Tank Day' Picu Kemarahan Publik
Situasi tersebut turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ). Sebelumnya pasar memperkirakan peluang besar kenaikan suku bunga pada Juni, seiring sinyal hawkish dari bank sentral Jepang.
Namun, meningkatnya risiko perlambatan ekonomi membuat ruang kebijakan BOJ menjadi semakin terbatas.
Di sisi lain, pemerintah Jepang berencana menyusun anggaran tambahan guna meredam dampak ekonomi dari lonjakan harga bahan bakar, meskipun langkah tersebut berpotensi memperburuk kondisi fiskal negara itu.
Menteri Ekonomi Jepang, Minoru Kiuchi, meminta semua pihak tetap waspada terhadap dampak perang Timur Tengah terhadap ekonomi domestik.
Kepala Ekonomi Jepang dan Frontier Markets Moody’s Analytics, Stefan Angrick, menilai prospek ekonomi Jepang ke depan akan sangat menantang.
“Konflik mendorong kenaikan harga komoditas dan inflasi, sementara pertumbuhan upah riil masih lambat. Dukungan fiskal moderat untuk rumah tangga, pertahanan, dan investasi strategis mungkin bisa mencegah ekonomi tergelincir lebih dalam, tetapi banyaknya tekanan menunjukkan tahun yang sulit bagi Jepang,” ujar Angrick.













